Hikmah Dirahasiakannya Waktu Malam Lailatul Qadar

Hikmah Dirahasiakannya Waktu Malam Lailatul Qadar

Termasuk anugerah agung yang diberikan oleh Allah swt kepada umat Islam tatkala memasuki bulan suci Ramadhan ialah adanya malam Lailatul Qadar. Malam ini memiliki keutamaan lebih baik dibanding seribu bulan.

Karena itulah, banyak sekali yang berburu malam Lailatul Qadar di setiap malam bulan Ramadhan terlebih menjelang sepuluh hari terakhir. Keutamaan Lailatul Qadar ini sebagaimana tertera dalam firman Allah swt yang berbunyi:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.S. Al-Qadr: 1-3)

Kendati malam Lailatul Qadar tidak dijelaskan secara mendetail waktu persisnya, namun Rasulullah saw pernah memberikan petunjuk kepada umatnya agar bersungguh-sungguh di malam ganjil sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: “Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadr (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Lalu, apa hikmah dibalik rahasia malam Lailatul Qadar? Berikut ini akan penulis uraikan beberapa keterangan ulama perihal nilai hikmah tersebut.

Menilik pendapat Imam Fakhruddin Ar-Razi (wafat 654 H) dalam tafsirnya, Allah swt merahasiakan malam Lailatul Qadar agar manusia dengan penuh kesungguhan berlomba-lomba untuk meraihnya di setiap malam bulan Ramadhan:

وَثَالِثُهَا: أَنِّي أَخْفَيْتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ حَتَّى يَجْتَهِدَ الْمُكَلَّفُ فِي طَلَبِهَا، فَيَكْتَسِبَ ثَوَابَ الِاجْتِهَادِ وَرَابِعُهَا: أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَمْ يَتَيَقَّنْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، فَإِنَّهُ يَجْتَهِدُ فِي الطَّاعَةِ فِي جَمِيْعِ لَيَالِيْ رَمَضَانَ، عَلَى رَجَاءِ أَنَّهُ رُبَّمَا كَانَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةُ هِيَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، فَيُبَاهِيْ اللَّهُ تَعَالَى بِهِمْ مَلَائِكَتَهُ، وَيَقُولُ:... فَهَذَا جِدُّهُ وَاجْتِهَادُهُ فِي اللَّيْلَةِ الْمَظْنُونَةِ، فَكَيْفَ لَوْ جَعَلْتُهَا مَعْلُومَةً لَهُ

Artinya: “Yang ketiga: Allah swt merahasiakan malam Lailatul Qadar ini agar orang-orang bersungguh-sungguh dalam meraihnya sehingga mereka mendapatkan pahala berkat kesungguhannya tersebut. Keempat: Seorang hamba ketika tidak meyakini malam tertentu merupakan Lailatul Qadar, niscaya ia akan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan di seluruh malam bulan Ramadhan besertaan dengan harapan bahwa malam itu merupakan malam Lailatul Qadar. Berkat kesungguhan tersebut, sehingga Allah swt berbangga dan mengatakan kepada malaikatnya bagaimana seandainya jika Lailatul Qadar itu diberitahukan padanya.” (Abu Abdillah Muhammad bin Umar At-Taimi Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib [Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi], vol. 32, h. 229).

Sementara itu, Imam An-Naisaburi (wafat 850 H) mengungkapkan bahwa hikmah yang terkandung dibalik rahasianya malam Lailatul Qadar tidak lain adalah supaya orang yang ingin menggapainya melakukan ibadah dengan penuh suka cita, lebih bersungguh-sungguh, tidak lalai, tidak bermalas-malasan dan tidak merasa jenuh ataupun bosan:

الْحِكْمَةُ فِيْ إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِيْ الْلَّيَالِيْ كَالْحِكْمَةِ فِيْ إِخْفَاءِ وَقْتِ الْوَفَاةِ وَيَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَرْغَبُ الْمُكَلَّفُ فِيْ الْطَّاعَاتِ وَيَزِيْدُ فِيْ الْإِجْتِهَادِ وَلاَ يَتَغَافَلُ وَلاَ يَتَكَاسَلُ وَلاَ يَتَّكَلُ

Artinya: “Hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar di antara malam-malam bulan Ramadhan sama halnya dengan dirahasiakannya kematian dan hari kiamat. Sehingga, manusia dengan penuh suka cita menjalankan ketaatan dalam beribadah, lebih bersungguh-sungguh, tidak lalai, tidak bermalas-malasan dan tidak merasa bosan.” (Nidzamuddin Al-Hasan bin Muhammad An-Naisaburi, Gharaib Al-Qur’an wa Raghaib Al-Furqan [Beirut: Dar Al-Kutub Ilmiah], vol. 6, h. 537).

Senada dengan pernyataan dua mufasir kenamaan di atas, Syekh Ibn Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) menerangkan bahwa landasan filosofis atau hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar adalah agar manusia saling berlomba serta bersungguh-sungguh di seluruh malam bulan suci Ramadhan. Kesungguhan ini untuk memperoleh malam yang agung itu, berbeda semisal sudah ditentukan malam kesekian niscaya kebanyakan orang akan bersungguh-sungguh hanya di malam itu saja:

الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِيَحْصُلَ الْإِجْتِهَادُ فِي الْتِمَاسِهَا بِخِلَافِ مَا لَوْ عُيِّنَتْ لَهَا لَيْلَةٌ لَاقْتُصِرَ عَلَيْهَا كَمَا تَقَدَّمَ

Artinya: “Hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar adalah agar bersungguh-sungguh saat meraihnya, beda halnya jika sudah ditentukan malam kesekian. Maka mayoritas orang akan bersungguh-sungguh pada malam yang sudah ditentukan saja, sebagaimana keterangan yang telah dijelaskan sebelumnya.” (Ahmad bin Ali Ibn Hajar Al-Asqalani, Fath Al-Bari Syarh Sahih Al-Bukhari [Beirut: Dar Al-Ma’rifah], vol. 4, h. 266)

Lebih lanjut, Syekh Ahmad bin Abdurrahman As-Sa’ati Al-Hanbali (wafat 1378 H) mengulas hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar disamping supaya manusia penuh kesungguhan dalam menggapainya dengan memaksimalkan ibadah di setiap malam bulan Ramadhan dan juga agar lebih berhati-hati:

الْحِكْمَةُ فِيْ إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِيَجْتَهِدَ الْنَّاسُ فِىْ طَلَبِهَا وَيَجِدُّوْا فِىْ الْعِبَادَةِ فِىْ الْشَّهْرِ كُلِّهِ طَمْعًا فِىْ إِدْرَاكِهَا كَمَا أَخْفَى سَاعَةَ الْإِجَابَةِ فِىْ يَوْمِ الْجُمْعَةِ، وَكَمَا أَخْفَى الْأَجَلُ وَقِيَامِ الْسَّاعَةِ لِيَجِدُّوْا فِىْ الْأَعْمَالِ الْصَّالِحَةِ حَذْرًا مِنْهَا

Artinya: “Hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam meraihnya dan memaksimalkan ibadahnya di seluruh bulan Ramadhan, seraya mengharap dapat meraih Lailatul Qadar. Sebagaimana dirahasiakannya waktu-waktu mustajab di hari Jum’at dan dirahasiakannya kematian dan hari kiamat. Tak lain bertujuan supaya melakukan amalan-amalan baik dengan penuh kesungguhan dalam rangka berhati-hati.” (Ahmad bin Abdurrahman As-Sa’ati Al-Hanbali, Al-Fath Ar-Rabani Li Tartib Musnad Al-Imam Ibn Hanbal Asy-Syaibani [Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi], vol. 10, h. 296)

Alhasil, dari pelbagai interpretasi ulama di atas dapat disimpulkan bahwa muatan hikmah dibalik rahasianya malam Lailatul Qadar di antaranya adalah agar manusia berlomba-lomba serta bersungguh-sungguh di seluruh malam bulan suci Ramadhan dengan memaksimalkan ibadah dengan penuh suka cita, lebih bersungguh-sungguh, tidak lalai, tidak bermalas-malasan dan tidak merasa bosan demi berjumpa malam yang lebih baik daripada seribu bulan itu. Wallahu a’lam bisshawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.


Editor: Muhammad Faizin
logo