Arina.id - Mayoritas, bahkan bisa dikatakan hampir semua jemaah haji maupun umrah, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci, bayangan pertama yang muncul dalam benak mereka adalah melihat Ka'bah. Bangunan suci nan agung, kiblat umat Islam di seluruh dunia, seolah menjadi magnet yang kuat, menarik hati dan pandangan siapa pun yang datang.
Tak sedikit yang meneteskan air mata saat pertama kali memandangnya, lalu berdoa tanpa henti, seolah-olah Ka'bah adalah tempat paling sakral dan satu-satunya lokasi paling mustajab untuk berdoa.
Padahal, menurut Gus Baha dalam salah satu pengajiannya yang diunggah di YouTube, beliau mengingatkan agar tidak berlebihan dalam mengagungkan Ka'bah sampai menganggapnya sebagai satu-satunya tempat mustajab untuk berdoa. Beliau justru berpesan agar memperbanyak doa di Mina, khususnya saat mabit.
“Kulo suwwun sing tahun sakniki haji, lak teng Mina dungo tenanan. Sebab zaman Nabi diusir saking Makkah niku manggon teng Aqobatu Mina.”
“Saya berpesan kepada para jemaah haji agar memperbanyak doa dengan sungguh-sungguh saat berada di Mina. Sebab, dahulu Nabi pernah tinggal cukup lama di Aqabah Mina, tempat terjadinya peristiwa Baiat Aqabah,” ujar Gus Baha.
Ulama yang juga merupakan santri kinasih dari KH Maimun Zubair ini menganjurkan agar tidak melewatkan momen di Mina hanya untuk istirahat semata. Sebab, menurutnya, ketika Nabi Muhammad SAW diusir dari Makkah, salah satunya karena munculnya prasasti anti-Muhammad yang ditempel di dinding Ka'bah, beliau memilih tinggal di Mina dalam waktu yang cukup lama. Bahkan, Gus Baha mengaku bahwa selama menunaikan ibadah haji, tempat ia paling banyak berdoa justru bukan di sekitar Ka'bah, melainkan di Mina.
Gus Baha mengrikitik keras sebagian jemaah haji Indonesia. Menurutnya, banyak yang terlalu berlebihan dalam mengagung-agungkan Ka'bah, sementara melupakan tempat lain yang tak kalah mulia, seperti Mina.
Dengan gaya khasnya yang lugas, beliau mengatakan:
"Saiki wong-wong Indonesia akeh sing (kurang paham). Haji lak mbek Ka'bah berlebihan, karo Mina ora gelem ndungo, mergo mina iku oro oro, perkarane seru ka'bah”
Artinya: “Saat ini, banyak jemaah haji Indonesia yang kurang paham. Ketika berada di sekitar Ka'bah, mereka begitu antusias beribadah, bahkan cenderung berlebihan. Namun saat tiba di Mina, mereka justru enggan memperbanyak doa, seolah menganggap Mina hanyalah hamparan padang pasir biasa, kalah sakral dan kurang menarik dibandingkan suasana di sekitar Ka'bah”
Jika ditelisik, memang benar bahwa Ka'bah mendapat banyak pujian dalam berbagai literatur Islam. Salah satunya dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 97:
جَعَلَ ٱللَّهُ ٱلْكَعْبَةَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ قِيَٰمًا لِّلنَّاسِ
Artinya: “Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia.”
Namun, menurut Gus Baha, Ka'bah memang penuh dengan sejarah mulia, tetapi juga menyimpan sejarah kelam. Dahulu, kaum musyrik Makkah pernah menjadikannya simbol kesombongan. Bahkan prasasti embargo terhadap Nabi Muhammad pernah dipasang di dinding Ka'bah.
Selain itu, dalam kitab-kitab maulid seperti Maulid Ad-Dibā’ī, tidak ditemukan pujian berlebihan terhadap Ka'bah. Justru yang disebut dan diagungkan adalah tempat lain, seperti Mina dan Ma’la.
Dalam salah satu baitnya disebutkan:
وَلَنَا اْلمَعْلَی وَخَيْفُ مِنَا # فَاعْلَمَنْ هٰذَا وَکُنْ زَکِنِ
Artinya: “Kami punya Ma’la dan masjid Kha’if di Kota Mina. Ketahuilah ini, beradalah dan beribadahlah di sana.”
Dari penjelasan ceramah Gus Baha ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa dalam melaksanakan ibadah haji, sebaiknya tidak berlebihan dalam mengagungkan satu tempat saja hingga mengabaikan kemuliaan tempat-tempat lain. Hendaknya kita bersikap moderat, dengan memperbanyak ibadah secara adil dan seimbang di setiap tempat mulia, baik di Makkah maupun Madinah. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
