3 Kiat Pola Asuh Islami untuk Menjaga Kesehatan Mental Anak

3 Kiat Pola Asuh Islami untuk Menjaga Kesehatan Mental Anak

Di tengah era yang penuh tekanan dan kompetisi, kesehatan mental anak menjadi perhatian yang tak bisa diabaikan orang tua. Banyak anak tampak ceria di luar, tetapi menyimpan luka emosional akibat pola asuh yang tidak tepat.

Islam hadir membawa prinsip pengasuhan yang penuh kasih dan seimbang antara cinta serta ketegasan. Pola asuh Islami tidak hanya menanamkan nilai akhlak, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis anak, agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional dan spiritual.

Berikut tiga prinsip pola asuh Islami yang relevan untuk membentuk kesehatan mental anak di era modern:

1. Asuh dengan Kasih Sayang yang Konsisten

Kasih sayang adalah pondasi utama dalam pembentukan emosi dan karakter anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh cinta cenderung memiliki rasa percaya diri, empati, dan kendali emosi yang lebih baik. Sebaliknya, kekurangan kasih sayang bisa memicu kecemasan, agresivitas, dan gangguan perilaku.

Dalam Islam, menyayangi anak bukan hanya ekspresi cinta, tetapi juga bentuk tanggung jawab spiritual. Rasulullah SAW menegaskan bahwa siapa pun yang tidak menyayangi anak kecil, tidak termasuk dalam golongan umat beliau. 

Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya kasih sayang sebagai landasan dalam mendidik anak agar tumbuh dengan jiwa yang sehat, lembut, dan penuh nilai kemanusiaan. 

Dalam satu hadits diriwayatkan:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا.

Artinya, "Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash ra., dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.”

Berkaitan dengan hadits ini, Ibnu Hutaibah dalam Syarah Riyadush Shalihin menjelaskan bahwa kasih sayang kepada anak harus dibarengi dengan bimbingan ke arah kebaikan. Ini bukan hanya soal memberi perhatian, tetapi juga menanamkan nilai-nilai benar dan salah sejak dini, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang matang secara moral dan emosional.

قَوْلُهُ: (لَيْسَ مِنَّا) فِيهِ زَجْرٌ لِلْإِنْسَانِ الَّذِي لَا يَحْتَرِمُ الْكَبِيرَ وَلَا يَرْحَمُ الصَّغِيرَ، وَالْمُسْلِمُ عَلَيْهِ أَنْ يُهَذِّبَ الصَّغِيرَ وَيُؤَدِّبَهُ، وَذَلِكَ بِأَنْ تَأْمُرَهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَاهُ عَنِ الْمُنْكَرِ؛ لِكَيْ يَنْشَأَ الصَّغِيرُ رَجُلًا مِنْ صِغَرِهِ، يَنْشَأَ وَهُوَ يَعْرِفُ الْحَلَالَ وَالْحَرَامَ، وَيَعْرِفُ الْخَطَأَ وَالصَّوَابَ، وَيَسْمَعُ وَيُطِيعُ طَالَمَا أَنَّهُ يُؤْمَرُ بِالْحَقِّ.

Artinya, "Ucapan beliau: “Bukan termasuk golongan kami” merupakan peringatan keras bagi siapa saja yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda. Seorang muslim seharusnya mendidik dan membina anak-anak kecil, yakni dengan menyuruh mereka kepada kebaikan dan melarang mereka dari keburukan, agar sejak kecil mereka tumbuh menjadi pribadi dewasa yang tahu mana halal dan haram, bisa membedakan yang salah dan benar, serta taat selama yang diperintahkan adalah kebenaran." (Ibnu Hutaibah, 2019: juz 18, h. 5)

2. Sesuaikan Pola Asuh dengan Tahap Perkembangan Anak
Memperlakukan anak sesuai tahap perkembangannya sangat penting dalam psikologi karena setiap fase usia memiliki kebutuhan dan karakteristik unik. Anak usia dini, misalnya, memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan remaja, baik dalam cara berkomunikasi maupun memberikan aturan. 

Perlakuan yang sesuai akan mendukung perkembangan kognitif, emosional, dan sosial secara optimal. Sebaliknya, perlakuan yang tidak sesuai bisa memicu stres, kebingungan, bahkan gangguan perkembangan yang berdampak jangka panjang terhadap pembentukan kepribadian dan hubungan sosial anak.

Prinsip ini telah diajarkan sejak dahulu oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam mendidik anak untuk melaksanakan shalat, misalnya, orang tua diperintahkan untuk mulai mengajarkannya sebelum anak mencapai usia baligh. Proses pendidikan ini terbagi dalam dua tahapan. Pada usia tujuh tahun, anak cukup dikenalkan pada pengetahuan dan praktik shalat secara konsisten. Jika anak enggan melaksanakan shalat, orang tua cukup menegurnya secara tegas. Namun, saat anak telah berusia sepuluh tahun dan masih lalai, orang tua diperbolehkan memberi pukulan ringan sebagai bentuk disiplin, tanpa menyakiti. Rasulullah bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ.

Artinya, “Perintahkan anak-anak kalian shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan mendidik) jika mereka tidak melakukannya pada umur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR Abu Dawud)

3. Hindari Ucapan Negatif dan Doa yang Buruk

Kata-kata negatif yang sering diterima anak, seperti hinaan, celaan, atau perbandingan yang menjatuhkan, dapat berdampak serius pada kesehatan mentalnya dalam jangka panjang. Anak bisa tumbuh dengan rasa rendah diri, tidak percaya pada kemampuan sendiri, dan kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Ucapan negatif juga dapat menginternalisasi citra diri yang buruk, yang terus terbawa hingga dewasa. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk menggunakan bahasa yang membangun, mendukung, dan penuh penghargaan saat berkomunikasi dengan anak.

Dalam Islam juga telah ditegaskan bahwa orang tua tidak boleh mendoakan keburukan kepada anaknya. Larangan ini penting karena sering kali orang tua, saat diliputi amarah dan emosi yang tidak terkendali, secara spontan melontarkan ucapan buruk yang sejatinya termasuk doa. Padahal, doa orang tua memiliki kedudukan yang mustajab di sisi Allah. Mendoakan keburukan bisa berdampak negatif bagi perkembangan anak dan menjadi penghalang tumbuhnya hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak dalam jangka panjang. Rasulullah bersabda:

لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ، وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى خَدَمِكُمْ، وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لاَ تُوَافِقُوْا مِنَ اللهِ سَاعَةً نِيْلَ فِيْهَا عَطَاءٌ فَيُسْتَجَابَ لَكُمْ.

Artinya, "Janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa dirimu, janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa anak-anakmu, janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa pembantu-pembantumu, janganlah kalian mendoakan keburukan menimpa hartamu, agar doa kalian tidak bersamaan dengan waktu dikabulkannya doa dari Allah sehingga doa keburukan itu dikabulkan'." (HR Abu Dawud)

Pola asuh Islami bukan sekadar warisan budaya, melainkan panduan hidup yang selaras dengan nilai-nilai psikologi modern dalam menjaga kesehatan mental anak. Dengan kasih sayang, keteladanan, dan pemahaman tahap perkembangan, orang tua dapat membentuk generasi yang sehat secara emosi dan kuat secara spiritual. Islam mengajarkan bahwa mendidik anak bukan hanya membentuk perilaku, tetapi juga membangun jiwa. 

Sudah saatnya kita menjadikan pola asuh Islami sebagai pedoman utama dalam menghadapi tantangan zaman dan menjaga kesehatan mental anak-anak kita.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Muhammad Zunus
logo