Kisah Orang Dengki yang Celaka karena Ulahnya Sendiri

Kisah Orang Dengki yang Celaka karena Ulahnya Sendiri

Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk meninggalkan hasad atau dengki, yaitu perasaan iri yang disertai keinginan agar kenikmatan dan kebahagiaan orang lain bisa segera hilang. Dengki tidak hanya akan merugikan orang lain, tapi bisa membawa kehancuran pada diri sendiri. Hal ini sebagaimana tergambar dalam kisah seorang pendengki yang diungkapkan oleh Syekh Ahmad ibnu Hijazi Al-Fasyani dalam kitab Al-Majalisus Saniyyah (Semarang, Karya Thoha Putra: t.t) halaman 104.

Dikisahkan, ada orang saleh yang cukup dekat dengan seorang raja dan selalu memberikan nasihat-nasihat penting. Di antara nasihat yang sering ia sampaikan kepada raja adalah anjuran berbuat baik kepada orang baik dan sesungguhnya orang yang berbuat buruk akan berbalik kepada dirinya sendiri.

Pada saat yang sama, ada juga orang yang dekat dengan raja, sebut saja namanya Fulan, dia merasa iri dengan kedekatan orang saleh dengan raja. Mungkin karena takut posisinya tergeser, Fulan pun mulai menghasut sang raja dengan mengatakan bahwa orang saleh itu menuduh mulut raja sangat bau.

“Sesungguhnya orang itu telah menuduh Anda sebagai orang yang mulutnya bau busuk. Kalau Anda tidak percaya coba saja nanti panggil dia, pasti dia akan menutup mulut dan hidungnya agar tidak mencium bau busuk mulut Anda,” kata si Fulan.

Mendengar ucapan itu, raja pun menjadi murka dan memerintahkan agar orang saleh itu datang ke istana. Fulan pun tersenyum puas karena meyakini rencananya berjalan cukup sempurna.

Setelah keluar dari istana, Fulan mengundang orang saleh ke rumahnya dan menjamunya dengan makanan yang mengandung banyak bawang putih. Tujuannya agar setelah menyantap makanan itu, mulut orang saleh ini mengeluarkan bau tak sedap. 

Selanjutnya, si Fulan menyampaikan bahwa saat ini raja sedang menunggu kedatangan orang saleh tersebut. Mendengar hal itu, orang saleh pun langsung mendatangi istana dan menyampaikan nasihat-nasihatnya kepada raja. Kali ini orang saleh itu menyampaikan nasihatnya agak berjarak, sebab dia baru saja makan bawang putih dan khawatir bau mulutnya akan tercium oleh raja.

“Mendekatlah supaya lebih jelas terdengar,” pinta sang raja.

Ketika sudah berdekatan, orang saleh itu kembali memberikan nasihat seperti biasa, tetapi kali ini sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tangan, karena khawatir raja akan mencium bau mulutnya. 

"Ternyata dia benar," ucap sang raja dalam hati sambil mengingat ucapan si Fulan.

Raja kemudian menulis surat dengan tangannya sendiri. Biasanya, jika raja menulis dengan tangannya sendiri itu artinya dia akan memberikan hadiah kepada orang yang menerima surat itu, namun ternyata kali ini tidak demikian.

“Jika pembawa surat ini datang kepadamu, eksekusi dia!” titah sang raja dalam surat itu.

Raja kemudian menyerahkan surat itu kepada orang saleh dan memintanya untuk menemui dan menyerahkan surat itu kepada salah seorang pejabatnya. Di perjalanan, orang saleh bertemu dengan si Fulan. 

“Surat apa itu?" tanya si Fulan.

"Ini adalah surat yang ditulis oleh raja dan harus kuantarkan pada seseorang,” jawab orang saleh.

Mendengar surat itu ditulis oleh raja, si Fulan pun mengira bahwa surat itu berisi “kupon” yang akan menjadi hadiah.

"Berikan surat itu padaku, biar aku yang mengantarkannya," kata si Fulan sambil membawa surat dan pergi menemui seseorang yang dimaksud.

Setelah sampai dan membaca surat dari raja, seseorang yang juga pejabat istana itu mengatakan bahwa raja memerintahkannya untuk mengeksekusi orang yang membawa surat ini. Si Fulan pun merasa sangat terkejut dan berusaha mencari cara agar bisa selamat dari maut.

"Surat itu bukan ditujukan kepadaku, mohon biarkan aku kembali kepada raja," pinta si Fulan.

"Perintah raja tidak dapat diabaikan," jawabnya yang disusul dengan mengeksekusi si Fulan.

Beberapa waktu kemudian, orang saleh itu kembali ke istana untuk menyampaikan nasihat kepada raja. Betapa kagetnya raja ketika melihat orang saleh itu ternyata masih hidup.

"Apa yang terjadi dengan surat itu?" tanya raja.

Orang saleh itu kemudian menjelaskan bahwa saat akan mengantarkan surat itu, dia bertemu dengan si Fulan dan mengambil surat itu. Setelah mengetahui bahwa suratnya ternyata diantarkan oleh si Fulan, raja kemudian mengungkapkan bahwa sebelumnya si Fulan telah menuduh orang saleh dengan mengatakan mulut raja bau busuk.

"Aku tidak pernah berkata demikian," sergah orang saleh.

"Lalu mengapa saat itu kamu menutup mulut dan hidungmu saat berdekatan denganku?" tanya raja mulai melakukan tabayun.

Orang saleh pun menjelaskan bahwa beberapa saat sebelum datang ke istana, dia diundang makan-makan oleh si Fulan dan dihidangkan makanan dari bawang putih. Dia sengaja menutupi mulut dan hidungnya agar raja tidak mencium bau bawang putih yang keluar dari mulutnya. Akhirnya raja pun mengetahui kejadian yang sebenarnya dan membenarkan nasihat orang saleh.

"Nasihat kamu benar adanya karena orang jahat telah dihukum oleh kejahatannya sendiri," ucap sang raja sambil mempersilahkan orang saleh untuk pulang ke rumahnya.

***

Kisah ini mengandung hikmah dan pelajaran bahwa hasad atau dengki adalah penyakit hati yang harus dibuang jauh-jauh. Pasalnya, dengki hanya akan membawa kemudaratan, baik untuk orang lain maupun pelakunya itu sendiri. Ketika melihat orang lain mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan, sebaiknya kita ikut bersyukur dan turut merasakan kebahagiaan tersebut. Dengan sikap seperti ini, energi kebaikan akan menyebar, pada akhirnya kenikmatan dan kebahagiaan serupa akan kembali kepada kita.

Selain itu, kisah ini juga mengingatkan tentang sebuah peribahasa “siapa yang menanam, dia yang menuai”. Ketika kita menanam kebaikan, cepat atau lambat buah dari kebaikan itu akan dipetik. Sebaliknya, jika menanam keburukan maka suatu hari nanti buah keburukan itu juga akan dipetik, sebagaimana yang dialami oleh Fulan dalam kisah di atas. Wallahu a‘lam.


Editor: Aiz Luthfi
logo