Arina.id - Dalam bahtera rumah tangga, dua insan yang menjalani ibadah terpanjang dalam hidup ini tentu tidak akan lepas dari ujian dan badai kehidupan. Masalah bisa datang dari dalam keluarga, lingkungan sekitar, hingga urusan yang paling sering muncul, masalah finansial.
Memang, tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan sempurna, kecuali Rasulullah SAW. Begitu pula dalam pernikahan, dua insan pasti memiliki kekurangan masing-masing. Ada yang cemerlang secara akademik, tapi belum mapan secara ekonomi. Ada juga yang biasa saja dalam pendidikan, tapi sukses secara finansial.
Hal inilah yang pernah dirasakan dalam rumah tangga sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi yang sangat mendalam ilmunya. Di zamannya, ia bahkan dijuluki sebagai guru besar Al-Qur’an karena penguasaannya terhadap makna ayat, sebab turunnya wahyu (asbābun nuzūl), dan ilmu-ilmu Al-Qur’an lainnya.
Saking istimewanya posisi beliau, Imam Muslim sampai menuliskan bab khusus dalam kitab hadisnya berjudul “Bāb min Faḍā’il ʿAbdillāh ibn Masʿūd wa Ummihi raḍiyallāhu ʿanhumā” (Bab tentang Keutamaan Abdullah bin Mas‘ud dan Ibunya radhiyallāhu ‘anhumā)
وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ مَا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ سُورَةٌ إِلَّا أَنَا أَعْلَمُ حيث نَزَلَتْ، وَمَا مِنْ آيَةٍ إِلَّا أَنَا أَعْلَمُ فِيمَا أنزلَتْ وَلَوْ أَعْلَمُ أَحَدًا هُوَ أَعْلَمُ بِكِتَابِ اللَّهِ مِنِّي تَبْلُغُهُ الْإِبِلُ لَرَكِبْتُ إِلَيْهِ
Artinya: “Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia! Tidak ada satu surat pun dari Kitab Allah (Al-Qur’an) kecuali aku tahu di mana surat itu diturunkan, dan tidak ada satu ayat pun kecuali aku tahu dalam konteks apa ayat itu diturunkan. Dan seandainya aku mengetahui ada seseorang yang lebih paham tentang Kitab Allah daripada aku, dan dia berada di tempat yang bisa dijangkau oleh unta (perjalanan jauh), pasti aku akan mendatanginya.”
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sahabat Abdullah bin Mas'ud, meski sangat sukses dalam bidang intelektual, kurang berhasil secara finansial. Ya, karena beliau lebih fokus pada aktivitas ilmiah dan pengajaran. Meskipun demikian beliau beruntung memiliki istri yang salihah, yaitu Zainab, yang menerima suaminya dalam keadaan apapun dan bahkan turut membantu ekonomi keluarga agar suaminya dapat lebih fokus dalam bidang intelektualnya.
Zainab, yang memiliki nama lengkap Zainab Al-Tsaqifah, adalah sosok yang luar biasa. Dalam sebuah riwayat hadits Sahih Bukhari, diceritakan bahwa suatu ketika Zainab sedang berada di masjid. Pada saat itu, Rasulullah SAW datang dan memberikan pesan kepada para wanita yang ada di sana.
تَصَدَّقْنَ وَلَوْ مِنْ حُلِيِّكُنَّ
Artinya: ”Bersedekahlah, meskipun hanya dari perhiasan kalian.”
Zainab pun mulai berpikir. Ia memang sering mengeluarkan nafkah untuk suaminya, Abdullah, dan juga untuk anak-anak yatim yang tinggal bersamanya. Tapi, ia bingung, apakah sedekah yang ia keluarkan itu juga dihitung sebagai sedekah yang berpahala di sisi Allah?
Lalu ia berkata kepada suaminya Abdullah bin Mas’ud; “Tolong tanyakan kepada Rasulullah SAW, apakah sedekah yang aku keluarkan untukmu dan anak-anak yatim di rumahku itu berpahala?”
Namun, Abdullah menjawab: “Lebih baik kamu sendiri yang bertanya kepada beliau.”
Zainab pun berangkat ke rumah Nabi SAW. Di sana, ternyata sudah ada seorang wanita dari kalangan Anshar dengan pertanyaan yang sama. Mereka berdua malu untuk langsung bertanya, dan saat Bilal (muazin Rasulullah SAW) lewat, mereka berkata:
“Bilal, tolong tanyakan kepada Rasulullah untuk kami, apakah sah dan berpahala jika kami menyedekahkan nafkah untuk suami dan anak-anak yatim yang kami tanggung? Tapi tolong jangan bilang siapa kami ya!”
Bilal kemudian masuk menemui Nabi SAW dan menyampaikan pertanyaan dari dua orang wanita yang ingin tahu apakah sedekah kepada suami dan anak-anak yang dalam tanggungan bisa dianggap sebagai sedekah yang sah.
Rasulullah pun menjawab pertanyaan sahabat bilal dengan bersabda:
نَعَمْ لَهَا أَجْرَانِ، أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ
Artinya: “Ya, sedekahnya diterima. Ia mendapatkan dua pahala: pahala karena membantu keluarga, dan pahala karena bersedekah.”
Dari kisah Zainab ini, kita bisa mengambil pelajaran berharga, terutama bagi mereka yang akan, baru saja, atau telah lama menjalani kehidupan pernikahan. Dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Prinsip yang harus dijunjung tinggi adalah saling mendukung, saling melengkapi, dan saling memahami. Kita perlu menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna; baik suami maupun istri pasti memiliki kekurangan masing-masing.
Oleh karena itu, penting bagi pasangan suami istri untuk saling mengerti dan membantu, terutama ketika salah satu pihak tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya karena faktor tertentu. Tentunya hal ini bertujuan untuk mewujudkan spirit pernikahan yakni sakinah, mawaddah, wa rahmah. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin
