Belajar Niat dari Kaji Legiman: Haji Bukan Sekadar Perjalanan

Belajar Niat dari Kaji Legiman: Haji Bukan Sekadar Perjalanan

Di tengah gegap gempita keberangkatan haji tahun ini, di antara para jamaah yang naik pesawat dengan koper-koper besar dan pakaian seragam yang rapi, nama Kaji Legiman muncul dengan cara yang berbeda.

Ia bukan tokoh ternama, bukan pula bagian dari rombongan khusus yang diliput oleh protokoler. Namun justru karena itulah, kisahnya menjadi istimewa.

Legiman adalah seorang tukang sapu jalanan dari Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sejak tahun 1986, ia menabung seribu rupiah per hari dari hasil memungut sampah dan membersihkan jalan.

Tidak ada gaji besar, tidak ada fasilitas dari lembaga manapun. Ia hanya memiliki satu hal yang mungkin kini langka: ketekunan dan niat yang tak pernah padam.

Setelah menabung selama puluhan tahun, ia akhirnya mendaftarkan diri bersama istrinya untuk berhaji pada 2012. Ia baru bisa berangkat pada 2025 melalui kloter 35 Embarkasi Solo. Selama itu pula ia tetap bekerja, tetap menabung, tetap menjaga harapan.

Haji adalah rukun Islam kelima. Tapi seiring waktu, sebagian umat mengaburkan maknanya. Haji seringkali dianggap sebagai pencapaian sosial, gelar kehormatan, bahkan—maaf—simbol status ekonomi.

Orang berlomba-lomba naik haji dengan paket terbaik, akomodasi termewah, dan oleh-oleh terbanyak. Padahal, inti haji adalah pengguguran dosa, pelepasan ego, dan penghambaan total kepada Allah.

Kaji Legiman menunjukkan bahwa haji bisa tetap sakral, bahkan dalam kesederhanaan yang sangat. Ia tidak sibuk memikirkan hotel bintang lima, tetapi bagaimana ia bisa menyapu jalan-jalan kota dengan jujur agar tabungannya bertambah.

Ia tidak punya banyak waktu untuk belajar istilah Arab modern, tapi ia sudah mengerti bahwa haji adalah perjalanan menuju ampunan. Ia tak berbekal tas branded, tapi hatinya penuh syukur.

Ketika banyak orang menganggap haji sebagai “wisata religi”, Kaji Legiman datang seolah mengingatkan kita semua: haji bukanlah tempat berburu oleh-oleh, bukan tempat kulineran makanan Arab, bukan pula momen untuk mempercantik galeri media sosial.

Haji adalah perjalanan spiritual. Mabit di Mina itu bukan staycation. Wukuf di Arafah itu bukan piknik. Thawaf di Ka'bah itu bukan sekadar olahraga putaran, melainkan tarikan cinta seorang hamba kepada Tuhan-Nya.

Kaji Legiman bukan satu-satunya. Ia hanya satu nama dari ribuan jiwa yang diam-diam berjuang dengan cara yang hampir tak terlihat.

Di desa-desa, di pasar-pasar, di jalan-jalan kota, kita bisa menemukan orang-orang seperti dia—yang menabung dari hasil berkebun, menjual gorengan, menjadi buruh harian, atau menjahit pakaian.

Mereka semua adalah “Kaji Legiman” dalam wujud yang berbeda. Mereka menanam sabar, menyiramnya dengan doa, dan memupuknya dengan kerja keras. Mereka mungkin tak pernah diliput media, tak pernah naik panggung motivasi, tapi mereka punya tempat mulia dalam pandangan Allah.

Karena mereka menjalani haji bukan dengan kemudahan fasilitas, tapi dengan susah payah dan keikhlasan.

Di sisi lain, banyak dari kita yang lebih mudah secara ekonomi justru belum juga terpanggil—atau bahkan belum sungguh-sungguh merasa terpanggil. Kadang karena terlalu sibuk. Kadang karena terlalu banyak alasan. Dan kadang, karena kita lebih terpikat oleh dunia.

Kaji Legiman telah sampai di Tanah Suci. Tapi sesungguhnya, ia telah lama sampai—lebih dulu dari banyak orang—karena hatinya sudah lurus menghadap Allah bahkan sebelum menginjakkan kaki di Makkah.

Ia telah menunjukkan bahwa haji bukan soal siapa cepat, siapa kaya, atau siapa duluan. Tapi siapa yang paling siap. Siap secara ruhani. Siap secara niat. Siap secara totalitas.

Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sudah benar-benar ingin haji karena Allah, atau karena gelar dan gengsi? Apakah kita ingin thawaf dengan hati khusyuk, atau hanya untuk foto di depan Ka'bah? Apakah kita siap menyucikan jiwa, atau sekadar ingin berjalan-jalan di jazirah Arab?

Karena sejatinya, haji adalah panggilan, bukan perjalanan biasa. Ia bukan ajang memamerkan paket hotel dan tasbih elektronik. Ia adalah jalan pulang menuju Tuhan. Dan untuk menempuh jalan itu, kita tak perlu fasilitas mewah—cukup hati yang bersih dan niat yang sungguh-sungguh.

Kaji Legiman telah memberi kita cermin. Mari bercermin—dan bertanya: Sudahkah kita seperti dia? Kalau belum secara amal, setidaknya mulailah dengan niat.

Semoga kisah ini tidak berhenti sebagai berita yang viral, tetapi menjadi pelita yang menuntun langkah kita ke arah yang lebih jernih. Menjadikan ibadah, bukan gaya hidup. Menjadikan haji, bukan hiasan CV, tetapi jalan penyucian diri.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَنِيَّةً صَادِقَةً

Amin. Wallahu waliyyut taufiq.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung


Editor: Muhammad Faizin
logo