Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: 3 Jenis Tentara Hati

Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: 3 Jenis Tentara Hati

Arina.id - KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil dalam sesi Ngaji Ihya Ulumuddin edisi kelima, memaparkan tentang 3 jenis tentara hati yang selalu melekat dalam diri manusia. Pembahasan ini merupakan kelanjutan dari edisi pengajian sebelumnya yang membahas tentang 2 tentara hati. 

Menurut Gus Ulil, di dalam diri manusia ada pertarungan besar antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Itulah sebabnya pada bagian ini Imam Ghazali menggunakan istilah tentara untuk menjelaskan instrumen penting dalam hati manusia. Selain itu, penggunaan istilah tentara ini juga untuk memudahkan dalam menyampaikan pemikirannya yang bersifat abstrak.

1. Tentara Kehendak 

Imam Ghazali mengungkapkan bahwa dalam diri manusia ada 3 jenis tentara. Pertama adalah kekuatan yang mendorong untuk membawa manfaat dan mencegah sesuatu yang mencelakakan terhadap tubuh manusia. Hal ini sebagaimana ia jelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin (Beirut, Daru Ibn Hazm: 2005) halaman 880 berikut ini:

فجملة جنود القلب تحصرها ثلاثة أصناف : صنف باعث ومستحث : إما إلى جلب النافع الموافق كالشهوة، وإما إلى دفع الضار المنافي كالغضب، وقد يعبر عن هذا الباعث بالإرادة

Artinya: “Maka secara keseluruhan, tentara-tentara hati meliputi tiga jenis: Jenis pertama tentara yang mendorong dan menggerakkan. Ada yang menggerakkan untuk menarik sesuatu yang bermanfaat dan sesuai (dengan kebutuhan manusia) seperti syahwat. Ada tentara untuk menolak hal-hal yang berbahaya dan bertentangan, seperti amarah.  Terkadang dorongan ini juga disebut dengan iradah (kekuatan kehendak).”

Dijelaskan Gus Ulil, tentara jenis pertama ini mempunyai dua pasukan, yaitu syahwat dan marah yang jika digunakan dengan baik, bisa menjadi perawat atau pelayan yang akan menjaga dan melindungi badan manusia. Tentara ini bisa disebut juga dengan “tentara kehendak” yang menjadi bagian penting dalam diri manusia.

“Jadi tentara jenis pertama adalah tentara penggerak, penggerak untuk mendatangkan hal yang manfaat itulah syahwat. Tentara yang menggerakkan untuk menghindari hal yang mencelakakan itulah rasa marah,” jelas Gus Ulil sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Rabu (4/12/2024).

2. Tentara Motorik

Tentara jenis kedua adalah pasukan yang menggerakkan untuk mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan, dalam bahasa modern hal ini disebut motorik. Imam Ghazali mengungkapkan:

والثاني : هو المحرك للأعضاء إلى تحصيل هذه المقاصد، ويعبر عن هذا الثاني بالقدرة

Artinya: “Kedua adalah tentara yang menggerakkan terhadap anggota badan untuk menghasilkan semua tujuan ini, dan tentara jenis kedua ini terkadang diungkapkan dengan istilah qudrah (kekuatan atau kekuasaan),”

Menurut Gus Ulil, tentara jenis kedua ini bisa disebut sebagai tentara motorik yang punya kemampuan untuk menggerakkan anggota badan dan melakukan sesuatu, tujuannya adalah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan menghindari terhadap sesuatu yang mengancam badan. Tentara ini terkadang disebut juga dengan “tentara kekuatan” yang mampu melakukan sesuatu dan tersebar ke seluruh anggota badan, terlebih pada otot-otot manusia.

“Jadi kekuatan tentara berupa qudroh, power, atau kemampuan berbuat sesuatu, itu tersebar di seluruh anggota badan kita, di tangan, di kaki, di semua tempat. Tangan kita mampu melakukan sesuatu, misalnya mengambil makanan untuk kita makan, kaki kita punya kemampuan untuk menjangkau jarak tertentu. Itu semua adalah qudrah yang tersebar di dalam seluruh otot-otot kita di seluruh anggota badan. Itu juga tentara berupa kemampuan motorik,” jelas Gus Ulil.

3. Tentara Intelijen

Tentara jenis ketiga, Gus Ulil menyebutnya dengan tentara intelijen, karena mempunyai kemampuan untuk mengetahui dan memahami. Imam Ghazali mengungkapkan:

والثالث : هو المدرك المتعرف للأشياء كالجواسيس : وهي قوة البصر والسمع والشم والذوق واللمس، وهي مبثوثة في أعضاء معينة، ويعبر عن هذا بالعلم والإدراك

Artinya: “Tentara jenis ketiga adalah tentara yang bisa memahami dan mengenali terhadap berbagai objek, pasukan ini seperti mata-mata, yaitu kekuatan melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba, yang tersebar di dalam anggota-anggota badan tertentu. Kekuatan ini terkadang diungkapkan dengan istilah ilmu dan memahami,”

Dijelaskan Gus Ulil, di dalam diri manusia ada pasukan intelijen yang punya kemampuan untuk mengetahui sesuatu, yaitu kekuatan inderawi yang menjadi ujung tombak dalam mengetahui dan memahami sesuatu. Panca indera ini adalah alat atau instrumen utama untuk membantu manusia dalam mengetahui dan memahami sesuatu yang ada di luar dirinya.

Hal yang menarik, kata Gus Ulil, Al-Ghazali membuat semacam kategorisasi mengenai kekuatan-kekuatan mental dalam diri manusia dalam rangka untuk mencapai tujuan ulumul akhirah, yaitu ilmu tentang hari akhir untuk mencapai kebahagiaan abadi di kehidupan nanti.

“Ini adalah psikologi yang sifatnya transendental, bukan psikologi yang sekular. Ini kan bukan analisa yang netral, ini analisa yang dipakai oleh Al-Ghazali di dalam kerangka untuk membantu kita mencapai tujuan akhir yaitu kebahagiaan di kehidupan nanti,” tambah Gus Ulil.

Imam Ghazali kemudian menjelaskan, 3 tentara yang tersembunyi ini didampingi oleh tentara fisik yang bisa dilihat secara kasat mata. Menurut Gus Ulil, Al-Ghazali selalu melibatkan dua aspek ketika menjelaskan pemikirannya, yaitu lahir dan batin. Dua aspek ini menjadi ciri khas di dalam diskursus ilmu tasawuf.

“Al-Ghazali di dalam kitab ini selalu bermain dengan dua pasangan, ada zahir ada batin, ada yang sifatnya fisik ada yang spiritual. Ini adalah pasangan istilah yang selalu digunakan dalam seluruh diskursus mistik atau pembahasan tentang tasawuf, kalau ada yang zahir pasti ada yang batin, kalau ada yang batin pasti ada yang zahir, ada tentara tak nampak ada tentara yang nampak,” jelas Gus Ulil.

Adapun tentara lahir atau yang tampak adalah darah, daging, tulang, saraf, dan seluruh anggota tubuh lainnya. Tentara-tentara batin itu difasilitasi oleh tentara lahir, misalnya tentara penglihatan dibantu oleh mata, pendengaran oleh telinga, dan seterusnya. Namun demikian, Imam Ghazali tidak akan membahas tentara lahir, karena ini bersifat fisik yang menjadi bagian dari kajian ilmu kedokteran. Adapun yang menjadi kajian Imam Ghazali adalah tentara-tentara batin yang akan memperkuat hati.

Selanjutnya, terkait dengan tentara jenis ketiga, yaitu tentara intelijen, mempunyai 2 tempat, pertama adalah tempat yang terlihat yaitu panca indra berupa indra pendengaran, penglihatan, penciuman, pencecapan, dan perabaan. Kedua adalah tentara yang tidak terlihat, yaitu kekuatan yang tersembunyi di dalam "ad-dimâgh" (otak), yang jumlahnya juga ada lima.

Gus Ulil kemudian mengulas kembali mengenai “al-qalb” atau hati yang bersifat spritual sebagaimana telah dibahas pada edisi sebelumnya. Jadi, kata Gus Ulil, hati itu adalah kekuatan-kekuatan yang sifatnya spiritual dan “ad-dimagh” atau otak ini adalah fisik dari kekuatan hati tersebut sekaligus menjadi tempat bersembunyinya tentara intelijen.

5 Hierarki pengetahuan

Imam Ghazali kemudian menyusun hierarki atau proses terbentuknya sebuah pengetahuan dalam diri manusia, ia mencontohkan pengetahuan yang diperoleh dari indra mata. Ketika mata ditutup, data-data yang diperoleh dari mata akan tercetak dan tersimpan di sebuah “server” berupa “ad-dimagh”. Al-Ghazali menyebut kekuatan ini dengan khayali atau fantasi. 

“Coba Anda bayangkan melihat satu objek, setelah anda melihat, tutup mata Anda. Walaupun Anda sudah menutup mata, tetapi di dalam pikiran itu masih tercetak gambar dari objek yang tadi dilihat ketika mata masih terbuka. Jadi, mata kita itu seperti kamera yang mengambil gambar sesuatu, kemudian sesuatu itu tercetak dalam pikiran. Itulah yang disebut dengan kekuatan khayal,” jelas Gus Ulil.

Tahap kedua, objek yang tercetak dalam memori tadi akan menetap dan tidak hilang dalam ingatan manusia, kekuatan yang menjaga objek tersebut sehingga manusia mampu mengingatnya adalah “jundul hâfidh” atau tentara memori. 

Tahap ketiga, objek-objek yang telah terkumpul di dalam memori itu kemudian disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah pengetahuan. Kekuatan yang mempunyai kemampuan untuk menyusun objek-objek tersebut adalah "tafakur". 

“Saya ambil contoh, di depan saya ini ada meja, lalu ada kamus Munjid, mata saya melihat Munjid, tercetak dalam pikiran saya, disimpan. Lalu mata saya melihat objek yang lain yaitu meja, dicetak juga, disimpan juga dalam memori. Dalam memori saya ada dua objek, ada kamus dan ada meja, lalu dihubungkan antara satu dengan yang lain menjadi susunan, yaitu kamus ada di atas meja. Itulah namanya pengetahuan, menyusun dua objek menjadi jahitan,” jelas Gus Ulil.

Tahap keempat, kekuatan untuk mengingat atau menarik kembali objek-objek yang telah tersimpan di dalam memori ketika terlupa. Kekuatan yang berperan dalam proses ini disebut "tadzakur", yang bertugas menarik kembali data atau objek-objek yang tersimpan di dalam “server” agar dapat diingat kembali.

Tahap kelima, adalah kekuatan yang mampu mengumpulkan dan mengintegrasikan berbagai data yang tersimpan dalam memori atau server. Al-Ghazali menyebut kekuatan ini sebagai "al-hissul musytarak" atau indra bersama. Istilah tersebut kemudian disamakan oleh Gus Ulil dengan common sense atau sensus communis yang sudah dikenal luas dalam pemikiran filsafat Barat.

“Keseluruhan atau gabungan dari kemampuan mengindera, melihat, mendengar, mencerap, meraba, mencecap. Kombinasi dari seluruh indra-indra itu membentuk apa yang disebut dengan sensus komunis atau common sense atau al-hissul musytarak. Manusia itu bisa hidup karena ada kemampuan yang disebut dengan common sense ini, tanpa itu nggak bisa,” ujar Gus Ulil.

Gus Ulil mencontohkan, ketika seseorang sedang menyetir mobil, itu terjadi integrasi dari berbagai kekuatan sebagaimana disebutkan di atas, yaitu mata melihat jalan dan sekitarnya, telinga mendengar suara dari dalam dan luar mobil, tangan memegang stir, kaki menginjak pedal, hidung siaga mencium jika ada bau mencurigakan dari mesin misalnya, dan seterusnya. Jika dihubungkan kembali dengan tentara di bagian awal pembahasan, hal itu terjadi dalam rangka untuk membawa manfaat pada badan sekaligus menjaganya dari kerusakan.

“Keseluruhan aktivitas indra kita ini bekerja secara simultan ketika kita menyupir. Nah hasilnya adalah common sense, sensus komunis, al-hissul musytarak, akal sehat,” tambah Gus Ulil.

Contoh dari hasil hissul musytarak ini, sambung Gus Ulil, adalah ketika sedang menyetir dan memutuskan untuk menyalip mobil yang ada di depan. Pada kondisi ini hissul musytarak akan bekerja secara simultan, yaitu mengukur jarak mobil di depan, melihat mobil di belakang, mengukur space atau ruang di depan untuk menyalip, mengondisikan pedal gas, semua informasi ini diolah dan diproses di sebuah tempat yang disebut “ad-dhimagh”.

“Seeett... kita nyalip. Nah itu semua adalah hasil dari hissul musytarak,” tambah Gus Ulil.

Dengan demikian, tahapan atau hierarki pengetahuan menurut Al-Ghazali ada 5, yaitu khayali, hifdhu, tafakkur, tadzakkur, dan hissul musytarak. Menurut Gus Ulil, teori ini diteruskan oleh para filsuf Barat, misalnya David Hume yang menulis sebuah traktak berjudul An Enquiry Concerning Human Understanding.

“Kalau Anda baca buku David Hume ini, itu meneruskan langkah-langkah awal yang sudah dimulai oleh Al-Ghazali yang sebetulnya apa yang ditulis Hume itu, tidak bergerak jauh oleh yang ditulis Al-Ghazali,” terang Gus Ulil.

Gus Ulil menegaskan, kitab Ihya Ulumuddin bukan sekadar kitab tasawuf, melainkan juga memuat berbagai ajaran dan pemikiran filsafat yang tersebar di sejumlah bab. Meski demikian, filsafat yang dikemukakan oleh Al-Ghazali tetap berada dalam kerangka ulumul akhirah, yaitu ilmu yang berorientasi pada kehidupan akhirat, hal ini kemudian membedakannya dari filsafat murni yang cenderung berfokus pada kajian rasional semata. Wallahu a‘lam.


Editor: Aiz Luthfi
logo