Tidak Berangkat Haji karena Kesehatan dan Nasihat Luqman Al-Hakim

Tidak Berangkat Haji karena Kesehatan dan Nasihat Luqman Al-Hakim

Melaksanakan ibadah haji adalah salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Islam, khususnya bagi Muslim yang sudah mampu. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 97: 

وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya: "(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam."

Syekh Wahbah Zuhaili dalam Kitab Tafsir Al-Munir (Damaskus, Darul Fikr: 2009) Juz II, halaman 335 menjelaskan definisi mampu berhaji pada ayat tersebut, yaitu mampu secara fisik dan harta. Jika ada umat Islam yang tidak mampu secara fisik, harta, atau bahkan keduanya maka melaksanakan ibadah haji ini masih belum dihukumi wajib.

Menurut Syekh Wahbah, ketidakmampuan yang bersifat fisik misalnya adalah sakit dan ada ancaman dari musuh atau binatang buas yang membuat perjalanannya menjadi tidak aman. Adapun penghalang yang bersifat materi, seperti tidak memiliki bekal, biaya, dan alat transportasi.

Di sisi lain, pada musim haji tahun ini mungkin ada sebagian umat Islam yang terkendala masalah, di antaranya karena belum memenuhi standar istitha‘ah (mampu) secara fisik atau kesehatan yang mengakibatkan tidak bisa berangkat ke tanah suci.

Dalam menghadapi situasi ini, sikap yang paling terpuji bagi umat Islam adalah ikhlas menerima takdir dan husnudhan kepada Allah. 

Bisa jadi, ketika dipaksakan berangkat akan ada malapetaka yang terjadi di luar dugaan, bisa jadi Allah sudah merencanakan pemberangkatan tahun depan dengan kondisi yang lebih siap secara lahir dan batin atau bisa jadi, Allah sedang menyiapkan kejutan atau rencana indah lainnya.

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 216:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ 

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Berkaitan dengan ayat tersebut, ada sebuah kisah menarik yang terjadi pada Luqman Al-Hakim saat memberi nasihat pada anaknya bahwa takdir Allah itu pasti yang terbaik. Kisah ini diungkap oleh Imam Ibnul Jauzy dalam Kitab ‘Uyunul Hikayat (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1971, halaman 109-110)

Takdir Allah yang terbaik
Suatu hari, Luqman Al-Hakim, seorang bijaksana yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an, menasihati anaknya bahwa semua yang terjadi dan menimpa diri manusia adalah takdir yang paling terbaik menurut Allah. 

Rupanya, sang anak ingin membuktikan perkataan ayahnya tersebut. Keduanya akhirnya sepakat untuk berangkat menemui nabi di zamannya, tujuannya tiada lain untuk meminta penjelasan lebih dalam tentang takdir Allah.

Mengingat perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh dan terjal, keduanya mulai menyiapkan berbagai hal, termasuk 2 ekor keledai yang akan menjadi tunggangan mereka.

Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, bekal mereka semakin menipis, energi Luqman dan anaknya semakin menurun, dan 2 keledai semakin melambat karena kelelahan. Akhirnya, keduanya pun berjalan kaki.

Dalam situasi ini, dari kejauhan terlihat oleh Luqman sebuah penampakan berwarna hitam dan gumpalan asap.

"Bayangan hitam itu berarti pohon, asap berarti pemukiman penduduk," pikir Luqman.

Keduanya pun terus melangkah agar bisa segera sampai pemukiman. Saat berjalan, anaknya Luqman menginjak tulang hingga terjatuh dan pingsan. Luqman sendiri masih fokus melangkah ke depan dan mengira perjalanannya baik-baik saja.

Saat menoleh ke belakang, Luqman baru menyadari bahwa anaknya terjatuh dan pingsan. Ia pun bergerak mundur menghampiri anaknya. Sambil menangis, Luqman mencabut tulang itu dengan giginya kemudian menyobek surban untuk membungkus kaki anaknya yang terluka.

Saat menatap wajah anaknya, air mata Luqman menetes ke pipi anaknya hingga membuat anak kesayangannya itu siuman.

“Ayah mengapa menangis, bukannya apa yang menimpa saya ini adalah yang terbaik?” ucap anaknya sedikit mengeluh.

“Anakku, aku menangis karena perasaan sedih seorang ayah pada anaknya. Mengenai pertanyaanmu, mungkin di depan sana kita akan mendapat jawabannya. Bisa jadi musibah ini lebih ringan dari musibah di depan sana, sehingga Allah menghentikan kita di sini,” jawab Luqman menenangkan anaknya.

Tidak lama kemudian, Luqman menoleh ke depan. Ternyata bayangan hitam dan asap yang sebelumnya terlihat sudah tidak tampak lagi.

Pada saat yang sama, dari kejauhan terlihat sosok berpakaian putih yang menunggangi kuda menghampirinya. Anehnya, ketika sudah berdekatan, sosok itu mulai menghilang dan hanya suaranya yang terdengar.

“Apakah kamu Luqman?” tanya sosok yang tidak terlihat itu.

“Iya benar, saya Luqman. Wahai Hamba Allah, siapa engkau sebenarnya? Saya bisa mendengar suaramu tapi tidak melihat wujudmu,” tanya Luqman.

“Aku Jibril, hanya malaikat Muqarrabun dan Nabi saja yang bisa melihatku,” jawab sosok itu.

“Jika kamu Jibril, tentu kamu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Luqman penasaran.

Jibril kemudian menjelaskan bahwa ia ditugaskan oleh Allah untuk meluluhlantahkan kota yang ada di depan sana berikut penduduknya. Pada saat yang hampir bersamaan, Jibril mengetahui bahwa Luqman dan anaknya sedang berjalan menuju kota tersebut. Jibril kemudian memohon kepada Allah agar Luqman dan anaknya ditahan supaya tidak sampai kota dan tidak ikut hancur bersama penduduk setempat.

Jibril kemudian mengusap kaki anaknya Luqman yang terluka dan kakinya itu sembuh seperti sedia kala. Tempat makanan dan minuman yang dibawa Luqman juga menjadi penuh setelah diusap oleh Jibril. Tidak lama kemudian Jibril mengangkat keduanya dan mengembalikan ke kota asalnya.

Meski kisah ini memiliki konteks yang berbeda, namun ada sebuah benang merah yang mengandung hikmah, yaitu semua yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semuanya tersusun dengan rapi dalam skenario terbaik dari Allah, termasuk batalnya berangkat haji tahun ini karena belum masuk kategori istitha‘ah kesehatan. Wallahu a’lam.


Editor: Kendi Setiawan
logo