Jangan Tunda Kebaikan Hanya karena Belum Ikhlas

Jangan Tunda Kebaikan Hanya karena Belum Ikhlas

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mendengar bahwa keikhlasan adalah kunci dari setiap amal ibadah. Keikhlasan dianggap sebagai syarat utama yang harus dipenuhi sebelum seseorang melakukan sebuah amalan. Banyak orang yang berpikir bahwa jika sebuah amalan tidak dilakukan dengan keikhlasan yang murni, maka amalan tersebut tidak akan bernilai di sisi Allah SWT.

Pemahaman seperti ini memang penting, karena niat yang tulus sangat ditekankan dalam Islam. Namun, pemahaman ini juga bisa menjadi penghalang yang membuat banyak orang ragu untuk segera berbuat baik. Mereka merasa takut jika amal ibadah yang dilakukan tidak diterima oleh Allah karena merasa niatnya belum sepenuhnya ikhlas.

Pikiran seperti ini sering kali menimbulkan dilema. Di satu sisi, kita ingin berbuat kebaikan, tetapi di sisi lain kita merasa takut dan ragu, karena kita tidak yakin apakah niat kita sudah benar-benar tulus. 

Akibatnya, banyak orang yang menunda-nunda untuk beramal, dengan harapan bahwa suatu saat nanti mereka akan bisa melakukannya dengan keikhlasan yang sempurna. Namun, apakah menunda amal kebaikan karena merasa belum ikhlas ini adalah tindakan yang tepat? Apakah benar kita harus menunggu hingga benar-benar ikhlas sebelum melakukan kebaikan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami konsep ikhlas dalam Islam. Ikhlas adalah keadaan di mana seseorang melakukan ibadah dengan niat yang murni hanya untuk mencari ridha Allah SWT, tanpa ada tujuan lain seperti ingin dipuji oleh orang lain atau ingin mendapatkan keuntungan duniawi.

Sebagaimana penjelasan dalam kitab Risalah Al Qusyairiyah berikut: 

الإخلاصُ إفرادُ الحقِ سبحانه في الطاعة بالقصدِ، وهو أن يريدَ بطاعته التقرّبَ إلى الله تعالى دون شيء آخرَ، مِن تَصنُّعٍ لمخلوق. وقال: ويصحُّ أن يقالَ: الإخلاصُ تصفيةُ الفعلِ عن ملاحظةِ المخلوقين

Artinya: “Ikhlas adalah engkau mengesakan Allah dalam mengerjakan ketaatan dengan sengaja. Melakukan seluruh ketaatan semata untuk mendekatkan kepada Allah tidak ada tujuan lain, misalnya karena berpura-pura kepada perbuatan makhluk. Dan ia berkata; Ikhlas adalah memurnikan diri kepada Allah dari pandangan makhluk."

Dari penjelasan ini, kita bisa memahami bahwa ikhlas adalah sebuah proses mental dan spiritual yang membutuhkan waktu dan usaha. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dicapai secara instan. Mencapai keikhlasan yang sempurna dalam setiap amalan memang merupakan tujuan yang mulia, tetapi tidak berarti kita harus menunggu ikhlas sepenuhnya sebelum mulai beramal.

Pada kenyataannya, banyak dari kita yang merasa sulit untuk benar-benar ikhlas dalam setiap ibadah yang dilakukan. Hal ini sangat manusiawi, mengingat godaan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain atau keinginan duniawi lainnya sering kali muncul tanpa kita sadari. Jika kita menunda amal kebaikan hanya karena merasa belum ikhlas, kita justru bisa kehilangan banyak kesempatan untuk berbuat baik. Bahkan, ini bisa menjadi salah satu trik setan untuk menghentikan kita dari melakukan amal kebaikan.

Sayyid Abdurrahman Ba'lawi dalam kitabnya Bughayyah Mustarsyidin halaman 5, menjelaskan sebuah kisah yang relevan dengan situasi ini. Penjelasan ini dapat menjadi alternatif solusi bagi umat islam yang sedang dilanda dilema antara berbuat baik tapi takut tidak ikhlas atau menunda perbuatan baik tersebut.

Berikut penjelasan beliau:

وقد جاء رجل إلى أبي هريرة - رضي الله عنه - فقال: إني أريد أن أتعلم العلم وأخاف أن أضيعه، فقال أبو هريرة - رضي الله عنه -: " كفى بتركك العلم اضاعة وقال الامام من مكايد الشيطان ترك العمل خوفا من أن يقول الناس انه مراء لأنه تطهير العمل من نزعات الشيطان بالكلية متعذر فلو وقفنا العبادة على الكمال لتعذر الاشتغال من العبادات وذلك يوجب البطالة التي هي أقصى غرض الشيطان

Artinya: ”Dan telah datang seseorang laki laki kepada sahabat Abu Hurairah ra. Pemuda tersebut berkata; ”Aku sebenarnya ingin belajar ilmu agama, tapi saya khawatir nanti malah menyianyiakan ilmu tersebut (tidak mengamalkan atau mengamalkan tapi tidak ikhlas atau sempurna). Kemudian sahabat Abu Hurairah menjawab:”Justru dengan engkau telah meninggalkan belajar ilmu agama, itu adalah menyianyiakan ilmu itu sendiri. 

Imam Haramain berkata;”Sebagian dari tipu daya setan adalah meninggalkan amal kebaikan karena takut dikatakan “sok alim” oleh manusia, takut dikatakan “sok suci” dan lain lain. Sesungguhnya membersihkan semua amal ibadah dari tipu daya setan dan nafsu itu tidak pernah bisa. Jika kita beramal menunggu sempurna, maka sampai kapanpun kita tidak akan bisa beramal.”

Kisah ini mengajarkan bahwa menunda beramal karena takut tidak ikhlas justru bisa menjadi jebakan setan. Setan ingin kita tidak berbuat baik dengan cara menanamkan keraguan dan ketakutan di hati kita. Menunggu hingga merasa ikhlas sempurna bisa membuat kita tidak pernah memulai amal baik. Padahal, lebih baik kita tetap melakukan amal kebaikan sambil terus memperbaiki niat kita. Ikhlas adalah sesuatu yang bisa dicapai melalui proses, bukan sesuatu yang harus ada sepenuhnya sejak awal.

Ketika kita mulai beramal, terkadang muncul bisikan di hati yang meragukan apakah niat kita sudah ikhlas atau tidak. Ada juga kemungkinan kita mendengar komentar dari orang lain yang meragukan niat kita, seperti "sok alim" atau "sok suci". Namun, kita harus ingat bahwa setiap amal baik yang kita lakukan, jika diniatkan untuk Allah, tetap bernilai di sisi-Nya. Jangan biarkan keraguan dan komentar orang lain menghentikan kita dari berbuat baik. Yang terpenting adalah kita tetap berusaha berbuat baik sambil terus memperbaiki niat kita.

Semoga Allah SWT membimbing kita agar selalu ikhlas dalam setiap amal yang kita lakukan dan menerima segala usaha kita dalam beribadah. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo