Ramadhan akan memasuki sepuluh hari akhir. Pada fase ini biasanya umat Islam berlomba mengisi malam Ramadhan dengan i'tikaf, tadarus, tahajud dan amal ibadah lain.
Salah satu motivasi yang mendorong untuk menguatkan ibadah ini adalah menyongsong Lailatul Qadar atau yang populer dikenal dengan malam kepastian, malam seribu bulan.
Dalam surat Al-Qadr disebutkan:
(1) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan.
(2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Artinya: Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
(3) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
(4) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Artinya: Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
(5) سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya: Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
Para mufassir, termasuk Imam Qurtubi berpendapat bahwa surat al-Qadr ini termasuk Madaniyah. Berbeda dengan Imam Al-Suyuti yang mengatakan dalam al-Itqan bahwa terdapat dua pendapat mengenai turunnya surat ini; Makiyah dan Madaniyah, namun mayoritas ulama berpendapat Makiyah.
Ibnu Katsir mengutip dari perkataan Ibnu Abbas yang menguraikan perihal surat al-Qadr sebagai berikut:
قال ابن عباس وغيره : أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العزة من السماء الدنيا ، ثم نزل مفصلا بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم
Artinya: Ibnu Abbas dan lainnya berkata, Allah menurunkan Al-Quran satu kali secara keseluruhan dari Lauhul Mahfud ke Baitul Izzah, yakni langit dunia, kemudian Allah menurunkan secara bertahap sesuai peristiwa yang terjadi selama 23 tahun kepada Rasulullah.
Baitul Izzah adalah rumah ibadah bagi penduduk langit dunia. Ini merupakan pendapat Ibnu Katsir yang menjelaskan bahwa setiap langit terdapat rumah yang digunakan untuk ibadah bagi penduduk langit.
Sedangkan Imam Baghawi berpendapat bahwa surat al-Qadr berkenaan dengan Al-Qur'an yang diturunkan langsung secara keseluruhan di malam kepastian (Lailatul Qadar) dari Lauh Mahfud ke langit dunia, kemudian meletakkannya di Baitul Izzah, kemudian Jibril turun menyampaikannya kepada Nabi secara berangsur selama 20 tahun.
إنا أنزلناه في ليلة القدر"، يعني القرآن، كناية عن غير مذكور، أنزله جملة واحدة في ليلة القدر من اللوح المحفوظ إلى السماء الدنيا، فوضعه في بيت العزة، ثم كان ينزل به جبريل عليه السلام نجوماً في عشرين سنة
Lantas mengapa dinamakan Lailatul Qadar? Mengulas perihal ini dalam tafsir As-Sa'diy dijelaskan:
وسميت ليلة القدر، لعظم قدرها وفضلها عند الله، ولأنه يقدر فيها ما يكون في العام من الأجل والأرزاق والمقادير القدرية
Artinya: Dinamakan Lailatul Qadar karena betapa agung malam kepastian dan keistimewaan tersebut di sisi Allah. Dan di malam itu segala hal ditakdir selama setahun, seperti ajal, rejeki dan beberapa penentuan takdir yang lain.
Penjelasan ini senada dengan pandangan Thabari:
وهي ليلة الحُكْم التي يقضي الله فيها قضاء السنة
Artinya: Lailatul Qadar adalah malam kepastian yang ditetapkan Allah selama setahun.
Prof. Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya berjudul Membumikan Al-Qur’an, 1999, memberikan penjelasan terkait arti dan makna kata qadar. Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah tersebut memaparkan tiga arti pada kata qadar, sebagai berikut:
Pertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga Lailatul Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Sebagian ulama memahami penetapan (Al-Qadar) itu dalam batas setahun.
Oleh karena itu, Al-Qur’an yang turun pada malam Lailatul Qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah telah mengatur dan menetapkan khittah dan strategi bagi Nabi Muhammad guna mengajak manusia kepada agama Islam yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.
Kedua, qadar berarti kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.
Ketiga, qadar berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Qadar: "Pada malam itu turun malikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."
Dengan demikian dapat dipahami bahwa keterkaitan Al-Qur'an dengan Lailatul Qadar adalah bahwa Al-Qur'an yang merupakan kitab suci sekaligus kitab pedoman umat Islam ini diturunkan di malam penentuan takdir seorang hamba. Yakni Nabi Muhammad yang mengajak umat manusia agar memeluk agama Islam yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia.
Editor: Muhammad Faizin
