Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: Tips agar Puasa Diterima Allah

Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla: Tips agar Puasa Diterima Allah

Arina.id - KH Ulil Abshar Abdalla dalam sesi Ngaji Ihya’ Ulumiddin membahas penjelasan Imam Al-Ghazali mengenai puasa yang dapat dikategorikan sebagai mabrur (diterima) dan ghairu mabrur (tidak diterima). Gus Ulil, sapaan akrabnya, mengibaratkan puasa dengan ibadah haji; ada haji yang mabrur dan ada yang tidak. Seperti halnya ibadah haji, puasa yang diterima Allah adalah puasa yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan seseorang, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia. 

Gus Ulil menjelaskan, puasa yang diterima oleh Allah adalah puasa yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Pasalnya, esensi puasa adalah latihan jiwa untuk mencapai ketakwaan sejati, bukan hanya sebatas ritual fisik.

Sebaliknya, puasa yang ghairu mabrur adalah puasa yang tidak memberikan pengaruh positif pada diri seseorang. KH Ulil Abshar Abdalla mencontohkan puasa yang dilakukan hanya sebagai rutinitas tahunan tanpa ada peningkatan dalam ibadah maupun akhlak. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, puasa semacam ini hanya menghasilkan rasa lapar dan dahaga tanpa membawa manfaat spiritual. 

Puasa yang tidak disertai dengan introspeksi dan perubahan perilaku cenderung sia-sia karena tidak memberikan nilai ketakwaan yang hakiki. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memastikan bahwa puasanya tidak hanya formalitas, tetapi juga menjadi sarana transformasi diri.

“Sebagaimana ibadah haji, ada puasa yang mabrur dan ada pula puasa yang tidak mabrur. Puasa yang mabrur adalah puasa yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dan mampu mengubah diri kita menjadi lebih baik,” kata Gus Ulil sebagaimana dikutip dari kanal Youtube NU Berneo, diakses Rabu (05/03/2025)

Lebih jauh lag, Imam al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan, yaitu puasa orang kelas umum (awam), puasa kelas menengah (khusus), dan puasa kelas atas (khususul khusus). Agar puasa kita tidak menjadi rutinitas tanpa makna, kita harus membangkitkan kembali kesadaran dan penghayatan terhadap ibadah ini. 

Tingkatan pertama adalah shaumul umum, yaitu puasanya orang awam. Puasa ini hanya sebatas menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari terbit fajar hingga maghrib. Puasa seperti ini memang sah secara syariat dan menggugurkan kewajiban, tetapi jika tidak diiringi dengan peningkatan spiritual, puasa ini cenderung menjadi rutinitas belaka.

Tingkatan kedua adalah shaumul khusus, yaitu puasanya orang-orang yang lebih menjaga diri. Mereka tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Mata dijaga dari pandangan yang haram, telinga dijaga dari mendengar hal yang buruk, lisan dijaga dari berkata dusta, dan bahkan jari-jari kita di era digital ini dijaga dari menyebarkan informasi bohong atau menyakiti orang lain di media sosial.

Jika seseorang mampu meningkatkan puasanya hingga ke tingkatan kedua, maka puasanya memiliki makna yang lebih mendalam. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana untuk menahan hawa nafsu dan mengendalikan perilaku. Dengan demikian, puasa akan memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Tingkatan ketiga adalah shaumul khususul khusus, yaitu puasanya orang-orang khusus dari yang khusus. Pada tingkatan ini, seseorang tidak hanya menahan diri dari perbuatan lahiriah, tetapi juga menjaga hati dan jiwanya agar tetap fokus kepada Allah. Hatinya tidak tergoda oleh hal-hal duniawi yang melalaikan, dan seluruh orientasi hidupnya diarahkan hanya kepada Allah.

Simak penjelasan Imam Ghazali berikut;

إعلم أن الصوم ثلاث درجات صوم العموم وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص: وأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما سبق تفصيله، وأما صوم الخصوص فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام، وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الآخر

Artinya: “Ketahuilah bahwa puasa memiliki tiga tingkatan: puasa orang awam, puasa orang khusus, dan puasa orang yang sangat khusus. Adapun puasa orang awam adalah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi syahwat, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.”

Sedangkan puasa orang khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Adapun puasa orang yang sangat khusus adalah puasa hati dari ambisi yang rendah dan pikiran duniawi, serta menahan diri dari segala sesuatu selain Allah Azza wa Jalla secara total. Batalnya puasa pada tingkatan ini terjadi ketika hati mulai memikirkan sesuatu selain Allah Azza wa Jalla dan kehidupan akhirat.” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut: Darul Ma'rifah, tt] Jilid 1, hlm 234].

Salah satu cara meningkatkan kualitas puasa adalah dengan menahan dan mengendalikan seluruh organ tubuh dari tindakan maksiat. telinga kita harus dijaga agar tidak mendengar sesuatu yang buruk, mata kita harus dijaga agar tidak melihat hal-hal yang maksiat, dan terutama mulut serta jari-jari kita harus dikendalikan, terutama di era media sosial saat ini.

Di zaman digital ini, jari-jari kita bisa berdampak besar dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, Gus Ulil mengingatkan bahwa puasa juga berarti menahan diri dari menyebarkan informasi bohong, menyakiti orang lain melalui kata-kata, dan melakukan hal-hal yang dapat merusak hubungan sosial. 

“Inilah yang disebut dengan puasa orang-orang khusus, yaitu mereka yang benar-benar menjaga seluruh aspek kehidupannya agar tetap sesuai dengan ajaran Islam,” tambahnya.

Imam Al-Ghazali mengungkapkan:

وأما صوم الخصوص وهو صوم الصالحين فهو كف الجوارح عن الآثام وتمامه بستة أُمُورٍ; الْأَوَّلُ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّهُ عَنِ الِاتِّسَاعِ فِي النَّظَرِ إِلَى كُلِّ مَا يُذَمُّ وَيُكْرَهُ وَإِلَى كُلِّ مَا يُشْغِلُ الْقَلْبَ وَيُلْهِي عَنْ ذكر الله عز وجل قال صلى الله عليه وسلم النظرة سهم مسموم من سهام إبليس لعنه الله فمن تركها خوفاً من الله أتاه الله عز وجل إيماناً يجد حلاوته في قلبه....  الثاني حفظ اللسان عن الهذبان وَالْكَذِبِ وَالْغَيْبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالْفُحْشِ وَالْجَفَاءِ وَالْخُصُومَةِ وَالْمِرَاءِ وإلزامه السكوت وشغله بذكر الله سبحانه وتلاوة القرآن فهذا صوم اللسان

Artinya: “Adapun puasa khusus, yaitu puasa orang-orang saleh, maka itu adalah menahan anggota tubuh dari perbuatan dosa. Kesempurnaannya terwujud dalam enam hal:

Pertama, menjaga pandangan serta menahan diri dari melihat segala sesuatu yang tercela dan dibenci, juga dari segala sesuatu yang dapat menyibukkan hati dan melalaikan dari mengingat Allah. Rasulullah bersabda: ‘Pandangan adalah anak panah beracun dari anak panah Iblis -semoga Allah melaknatnya-. Barang siapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberinya keimanan yang ia rasakan manisnya dalam hatinya.’ 

Kedua, menjaga lisan dari ucapan yang sia-sia, kebohongan, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), kata-kata keji, kasar, permusuhan, dan perdebatan. Hendaknya lisan dibiasakan diam dan disibukkan dengan mengingat Allah  serta membaca Al-Qur’an. Inilah yang disebut sebagai puasa lisan." [Ihya Ulumiddin, Jilid I, hlm, 234].

Lebih lanjut, Gus Ulil menjelaskan inilah puasa yang berada di tingkatan puasa yang lebih tinggi, yaitu puasa orang-orang yang lebih khusus lagi. Mereka yang berada pada level ini bukan hanya menahan anggota tubuh dari maksiat, tetapi juga menjaga hati dan jiwa agar selalu terfokus kepada Allah. 

Artinya, seseorang yang mencapai level ini tidak membiarkan hatinya terganggu oleh hal-hal duniawi yang tidak membawa manfaat bagi perjalanan spiritualnya. Jiwa dan rohaninya diarahkan sepenuhnya kepada Allah, sehingga segala aktivitasnya didasarkan pada niat untuk mendapatkan ridha-Nya.

Namun, ini bukan berarti kita harus meninggalkan urusan dunia sepenuhnya. Masalah dunia tetap diperhatikan, tetapi bukan sebagai tujuan utama. Sebaliknya, segala sesuatu di dunia ini dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, seseorang tetap bisa bekerja, berkeluarga, dan menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi dengan niat yang lurus dan hati yang tetap terhubung kepada-Nya.

Dengan meningkatkan level puasa dari sekadar menahan lapar dan haus hingga menahan seluruh organ tubuh dari maksiat, serta menjaga hati agar tetap fokus kepada Allah, maka puasa kita akan menjadi lebih bermakna. Puasa tidak hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi sarana untuk membentuk karakter yang lebih baik dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah. Inilah yang disebut sebagai puasa yang berkualitas, yang dapat mengubah diri menjadi pribadi yang lebih taat dan berakhlak mulia.


Editor: Aiz Luthfi
logo