Arina.id – Kejujuran bisa menjadi modal dasar seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain untuk menumbuhkan kepercayaan. Di sisi lain, berbuat jujur terkadang sulit dilakukan apalagi jika dalam keadaan terdesak. Namun demikian, jika seseorang tetap memegang teguh kejujuran pada akhirnya akan mendapatkan keberuntungan dan kemuliaan.
Berkaitan dengan hal tersebut, ada kisah menarik yang dilakukan oleh seorang perempuan anak penjual susu yang jujur dan dijodohkan oleh Umar bin Khattab dengan salah satu anaknya. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab 'Uyunul Hikayat (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2019), halaman 28-29.
Dikisahkan, suatu malam Umar bin Khattab blusukan bersama salah seorang pengawalnya bernama Aslam. Setelah berjalan berkeliling memastikan keadaan rakyatnya, Umar merasa lelah dan mencoba memulihkan tenaganya dengan beristirahat sejenak di sebuah dinding rumah salah satu warganya.
Beberapa saat kemudian Umar mengetahui bahwa rumah tersebut adalah milik seorang wanita penjual susu. Hal ini diketahui setelah Umar tak sengaja mendengar percakapan wanita penjual susu itu dengan anak perempuannya.
“Anakku, susu yang akan dijual itu tolong campurkan dengan air,” kata wanita penjual susu kepada anak perempuannya.
Wanita itu berharap, dengan ditambahkannya air bisa meningkatkan jumlah air susu dan keuntungan pun akan berlipat. Namun tak disangka, anak perempuan itu menolak keinginan ibunya karena hal itu termasuk perbuatan tercela dan bertentangan dengan nilai kejujuran.
“Ibu, apakah engkau tidak mengetahui bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khattab melarang hal tersebut?” tanya anak perempuan itu.
“Memang apa larangannya?” tanya ibunya yang memang belum mengetahui aturan terbaru.
“Umar melarang penjual susu agar tidak mencampur susu dengan air,” jawab anaknya.
“Anakku, campurkan saja susu itu dengan air. Jangan khawatir, kita di sini tidak mungkin diketahui oleh Umar juga oleh aparatnya,” ucap wanita itu konsisten dengan keinginannya.
“Ibu, tidak mungkin aku taat kepada Umar di depan banyak orang dan melanggar aturannya saat tidak dilihat orang,” jawab anak perempuan itu teguh pada prinsipnya.
Umar pun berdecak kagum dengan keteguhan anak perempuan itu. Setelah mendengar percakapan mereka, Umar segera pergi untuk memantau warga lainnya. Sebelum beranjak pergi, Umar memerintahkan kepada Aslam untuk mengingat lokasi rumah penjual susu ini.
“Aslam, berilah tanda di pintu rumah ini, dan ingatlah tempat ini,” perintah Umar pada Aslam.
Keesokan harinya, Umar memerintahkan Aslam untuk menyelidiki identitas penghuni rumah yang semalam sudah ditandai olehnya. Beberapa saat kemudian, Aslam berhasil mengantongi identitas perempuan yang membuat Umar kagum itu.
“Saya sudah mengetahui identitas perempuan itu. Dia adalah seorang gadis yang belum mempunyai suami,” kata Aslam melaporkan.
Setelah mendengar laporan dari Aslam, Umar memanggil putra-putranya dan berrencana akan menjodohkan perempuan jujur tersebut dengan salah satu dari mereka.
“Apakah di antara kalian ada yang mau menikahi seorang perempuan? Andaikan ayahmu ini berniat ingin menikah lagi, niscaya akan menikahi perempuan tersebut,” ucap Umar pada putra-putranya.
Putra-putra Umar terdiam sejenak usai mendengar perkataan ayahnya. Selanjutnya, satu per satu mereka pun menjawab. Abdullah bin Umar dan Abdurrahman bin Umar memberikan jawaban yang sama:
“Ayah, aku sudah punya istri dan tidak ada niat untuk menikah lagi,”
Sementara itu, Ashim bin Umar yang kebetulan belum mempunyai istri menyatakan kesediaannya untuk menikahi perempuan anak penjual susu itu.
“Ayah, saya belum mempunyai istri, tolong nikahkan saya dengan perempuan itu,” jawab Ashim bin Umar mantap.
Tidak menunggu lama, Umar segera mengutus seseorang untuk meminang perempuan anak penjual susu itu. Tidak lama kemudian, Ashim bin Umar pun menikah dan membangun rumah tangga dengan perempuan jujur tersebut. Dari pernikahan ini, lahirlah seorang anak perempuan bernama Ummu Asim dan dari Ummu Asim ini lahirlah Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin yang dikenal adil dan bijaksana.
***
Kisah ini mempunyai hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik oleh umat Islam, di antaranya adalah bahwa kejujuran dan integritas dalam berbisnis maupun berinteraksi dengan orang lain harus dijaga dengan baik, entah itu saat dilihat orang lain maupun tidak, karena pada hakikatnya Allah menyaksikan segala aktivitas makhluk-Nya. Dengan menjaga kejujuran, perempuan tersebut mendapat keberkahan dan kemuliaan yaitu dinikahi oleh salah seorang anak Umar bin Khattab.
Kisah ini juga mengingatkan umat Islam agar menjadikan agama, ketakwaan, dan akhlakul karimah sebagai pertimbangan pertama dan utama dalam mencari jodoh. Dari pernikahan Ashim bin Umar bin Khattab dan perempuan salehah tersebut lahirlah generasi terbaik, di antaranya adalah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.
Selain itu, kisah ini juga memberikan teladan kepada para pemimpin agar selalu memerhatikan kehidupan rakyatnya, sebagaimana telah dicontohkan oleh Umar bin Khattab. Dengan turun langsung ke lapangan, seorang pemimpin bisa mengetahui aneka permasalahan dan keluh kesah masyarakat untuk kemudian mencari solusi terbaik. Wallahu a‘lam.
Editor: Aiz Luthfi
