Kitab Ihya Ulumuddin adalah karya masterpiece Imam Al-Ghazali yang masih dikaji hingga saat ini dan membawa pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Islam. Kitab ini tidak hanya membahas aspek-aspek syariat secara mendalam, tetapi juga mempertemukan dimensi spiritualitas Islam dengan tuntunan praktis dalam kehidupan sehari-hari.
KH Ulil Abshar Abdalla dalam sesi pembukaan pengajian kitab Ihya menjelaskan, latar belakang ditulisnya kitab Ihya Ulumuddin ini berawal dari keresahan Imam Ghazali karena saat itu kondisi dan dinamika ilmu pengetahuan dianggap sudah tidak ideal, akibatnya hal ini menjadi penyebab kematian pada ilmu-ilmu agama.
“Karena itu beliau menulis kitab dengan judul Ihya Ulumuddin, kitab untuk menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama karena Imam Ghazali melihat satu tendensi yang kurang sehat pada zamannya, pada abad 11 M,” kata Gus Ulil sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Rabu (23/10/2024)
Dijelaskan Gus Ulil, di zaman Imam Ghazali muncul 3 klasifikasi ulama yang belum bisa membawa umat Islam pada esensi ilmu agama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan menjadikannya sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Sebaliknya, ketiga kelompok ulama ini lebih cenderung menjadikan ilmu agama sebagai instrumen atau sarana untuk meraih kehidupan duniawi, seperti kedudukan, kemewahan, dan popularitas. Adapun 3 kelompok ulama yang dimaksud Imam Ghazali adalah sebagaimana berikut:
1. Ulama Fiqih
Imam Ghazali menyoroti para ulama fiqih di zamannya yang dinilai sudah tidak ideal, karena mereka menjadikan ilmu agama sebagai sarana untuk mencari kedudukan, reputasi sosial, dan meraih kedekatan dengan raja dan bangsawan.
2. Ulama Tauhid
Begitu pula dengan ulama tauhid atau mutakallimin, menurut Imam Ghazali, mereka lebih banyak berdebat terkaitan masalah ketuhanan. Sayangnya, perdebatan itu tidak kemudian membuat seorang muslim bisa menghayati imannya secara mendalam, khusu, dan khidmat.
3. Ulama Filsafat
Kelompok ketiga adalah para ulama filsafat atau filosof muslim yang mendapat kritik tajam dari Imam Ghazali. Mereka dikritik secara sistematis dalam sebuah kitab khusus yang berjudul Tahafutul Falasifah (Kerancuan Para Filsuf).
Imam Ghazali menilai, ketiga kelompok ulama ini telah membawa ilmu agama pada jurang kematian. Atas dasar itu, Imam Ghazali kemudian menulis kitab Ihya Ulumuddin, harapannya adalah kitab ini bisa menghidupkan ilmu-ilmu agama yang dinilai telah “mati” akibat ulah dan perilaku yang dilakukan oleh ketiga kelompok ulama tersebut.
Keajaiban Hati Manusia
Gus Ulil menjelaskan bahwa kitab Ihya ini terdiri dari 4 bagian: pertama membahas ritual ibadah, kedua membahas muamalah, ketiga membahas hal-hal yang merusak hati manusia, dan keempat membahas hal-hal yang bisa menyelematkan hati. Dalam pengajian ini, Gus Ulil langsung masuk pada bagian ketiga yang membahas tentang keajaiban hati manusia pada halaman 876. Menurutnya, bab ini dianggap penting dan menarik karena terkait dengan psikologi manusia.
“Saya sengaja langsung membahas bagian ini karena ini adalah pembahasan tentang psikologi manusia yang menarik, mungkin kita akan mendapatkan manfaat yang banyak dari ulasan yang dibuat Imam Ghazali ini,” terang Gus Ulil.
Imam Ghazali mengungkapkan dalam kitab Ihya Ulumuddin (Beirut, Daru Ibn Hazm: 2005) halaman 876:
فشرف الإنسان وفضيلته التي فاق بها جملة من أصناف الخلق باستعداده لمعرفة الله سبحانه، التي هي في الدنيا جماله وكماله وفخره، وفي الآخرة عدته وذخره، وإنما استعد للمعرفة بقلبه لا بجارحة من جوارحه ؛
Artinya: “Adapun kemuliaan dan keistimewaan manusia yang mengungguli semua makhluk lain adalah kemampuannya untuk mengetahui Allah Swt. Kapasitas untuk mengetahui Tuhan itulah menjadi sumber keindahan, kesempurnaan, dan kebanggaan manusia di dunia, serta menjadi sarana untuk meraih keselamatan dan tabungan di akhirat. Manusia itu mempunyai kemampuan untuk mengetahui Tuhan dengan hatinya, bukan dengan anggota badan lainnya,”
Hati merupakan instrumen penting dalam diri manusia. Dengan hati, manusia bisa mengenali, mendekati, berlari, dan mendapat ketersingkapan (mukasyafah) tentang Allah. Adapun anggota tubuh selain hati hanya sebatas pengikut, pelayan, dan alat yang dipakai oleh hati. Imam Ghazali mengibaratkan hati sebagai raja, seluruh anggota tubuh lainnya seperti bawahan yang selalu siap menerima dan melaksanakan semua perintah dari hati.
“Seluruh anggota badan kita adalah alat, hati adalah operatornya,” jelas Gus Ulil.
Hati juga menjadi sesuatu yang akan diterima oleh Allah, dengan catatan hati tersebut bersih dari sesuatu atau ikatan-ikatan selain Allah. Sebaliknya, ketika hati tersebut tidak bersih dari ikatan-ikatan selain Tuhan maka ikatan-ikatan tersebut akan menjadi hijab yang menghalangi seorang manusia untuk bisa meraih atau sampai pada Allah.
“Jadi kuncinya adalah hati. Anda bisa dekat dengan Allah karena hati, Anda bisa terhalang dari Allah karena hati juga. Inilah salah satu keajaiban hati manusia, dia menjadi jendela yang dengannya manusia bisa ‘melihat’ Allah, tetapi dia juga menjadi penghalang yang menghijab manusia dari Allah,” ungkap Gus Ulil.
Selanjutnya, hati manusia menjadi pihak yang akan dituntut oleh Allah, menjadi mukhatab atau lawan bicara Allah, dan menjadi sasaran teguran Allah. Hati juga menjadi instrumen yang merasakan kebahagiaan ketika manusia membersihkannya, merasa rugi dan celaka ketika manusia mengotorinya, menjadi sumber cahaya yang menyebarkan kepada seluruh anggota tubuh ketika taat kepada Allah, dan menjadi sumber kegelapan yang menyebarkan kepada seluruh anggota tubuh ketika membangkang kepada Allah.
“Kita sering mendengar ungkapan inner beauty atau kecantikan yang bersumber dari dalam bukan kecantikan yang ada pada tubuh luar. Ada kecantikan yang sumbernya bukan pada fisik tetapi sesuatu yang ada pada batin manusia. Nah, yang kita sebut inner beauty itu sesungguhnya kecantikan yang sumbernya hati manusia,” jelas Gus Ulil.
Imam Ghazali mengibaratkan hati manusia seperti sebuah wadah, ketika hati manusia dipenuhi dengan cahaya maka cahaya itu akan tampak pada tubuhnya. Sebaliknya, ketika hati manusia dipenuhi dengan kegelapan maka kegelapan itulah yang akan menyebarkan pada anggota tubuh lain. Selanjutnya, hati juga bisa menjadi sarana manusia untuk mengenal Tuhan. Imam Ghazali mengungkapkan:
وهو الذي إذا عرفه الإنسان فقد عرف نفسه، وإذا عرف نفسه فقد عرف ربه، وهو الذي إذا جهله الإنسان فقد جهل نفسه، وإذا جهل نفسه فقد جهل ربه ومن جهل قلبه فهو بغيره أجهل
Artinya: “Hati adalah sesuatu yang ketika manusia bisa mengetahui hatinya maka dia akan mengetahui dirinya. Ketika manusia mengetahui dirinya maka dia akan mengetahui Tuhannya. Ketika manusia tidak bisa mengetahui hatinya maka dia tidak mengetahui dirinya sendiri. Ketika manusia tidak mengenal dirinya sendiri maka dia tidak bisa mengenal Tuhannya. Ketika manusia tidak mengenali hatinya maka dia tidak akan mengenali sesuatu yang lain,”
“Apakah kita ini mengenal diri kita yang sesungguhnya? kata Imam Ghazali sesungguhnya tidak, sebagian besar orang itu tidak tahu diri mereka yang sesungguhnya. Itulah kenyataan yang harus kita akui. Kalau kita tidak mengenal diri kita sendiri, kita tidak mengenal yang lain, tidak mengenal Tuhan, lingkungan, kitab kita, dan lain-lain,” ujar Gus Ulil.
Tuhan sebenarnya sangat dekat dengan manusia, namun masalahnya adalah manusia tidak sadar, tidak mengetahui, dan tidak mengenal dirinya sendiri yang kemudian karena manusia tersebut tidak mengenal dirinya sendiri, akhirnya hal itu menjadi hijab dalam mengetahui dan mengenal Tuhan. Gus Ulil kemudian mengutip firman Allah dalam Surat Qaf ayat 16:
وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
Artinya: “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,”
Manusia, kata Gus Ulil, sering melihat ke luar sehingga dia lalai terhadap dirinya sendiri. Hal ini sesuai dengan sebuah peribahasa: gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang lautan nampak. Di sisi lain, manusia sering kali dihijab oleh Tuhan dengan cara mencegah untuk mengenal-Nya, menyaksikan-Nya, dekat dengan-Nya, dan hatinya dibolak-balikan oleh-Nya. Hal ini sebagaimana sebuah hadits:
إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
Artinya: “Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki,” (HR. At-Tirmidzi)
Hati manusia biasanya mengalami keadaan yang dinamis, kadang merasa dekat dengan Tuhan kadang jauh dari Tuhan, kadang cemas kadang bahagia, kadang optimis kadang pesimis, kadang merasa lega kadang merasa sempit. Diumpamakan Gus Ulil, hati manusia seperti pendulum yang terus bergerak secara dinamis.
“Tuhanlah yang menggerakkan hati manusia seperti sebuah pendulum, kadang dia bergerak ke arah kanan kadang ke kiri,” kata Gus Ulil.
Mengingat hal tersebut, manusia harus selalu waspada dengan kondisi ini. Bagi orang yang selalu waspada, mengenal dirinya, dan mengenal Tuhannya, dia akan naik derajatnya melebihi malaikat. Sebaliknya, bagi orang yang lengah, tidak mengenal dirinya, dan Tuhannya, dia akan turun derajatnya melebihi binatang.
Editor: Aiz Luthfi
