Nabi Ibrahim dikaruniai istri yang salehah nan berparas rupawan, Sarah binti Haran. Syekh Ali Jum’ah, mufti besar Mesir 2003-2013, mengungkapkan keanggunanan Sarah sebagai wanita tercantik kedua setelah Hawa, istri Nabi Adam.
Kecantikan dan kewibawaan Sarah pernah membuat seorang raja kepincut dan memaksa dia untuk menjadi istrinya. Padahal saat itu Sarah berstatus istri sah Ibrahim. Kisah ini disampaikan dalam hadis Nabi cukup panjang yang diriwayatkan Imam Bukhari.
Dikisahkan, sekali waktu Ibrahim melakukan perjalanan bersama Sarah. Lalu mereka memasuki suatu kawasan yang dipimpin seorang raja bengis yang selalu memaksa setiap wanita cantik untuk menjadi istrinya.
Dalam hadis itu juga disebutkan, Ibrahim dipanggil sang raja kemudian ditanya, "Wahai Ibrahim, siapakah wanita yang bersamamu itu?" Ibrahim menjawab, "Dia adalah saudariku". Lalu Ibrahim kembali kepada Sarah dan berbisik, "Katakan seperti apa yang saya sampaikan, baru saja aku bilang kau adalah saudariku (dalam keimanan). Toh, tidak ada orang beriman di tempat ini selain aku dan kamu."
Kemudian Sarah dibawa menghadap raja. Sebelumnya, Sarah berwudhu dan shalat, lalu berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Jangan biarkan orang lain menyentuh tubuhku kecuali suamiku. Jauhkanlah aku dari raja kafir itu.’
Tiba-tiba langkah raja itu terhenti hingga kakinya tidak menempel ke tanah selain ujung-ujung jari-jemari kakinya.
Al-A'raj berkata bahwa Abu Salamah bin 'Abdurrahman menyampaikan, ‘Sesungguhnya Abu Hurairah ra berkata, ‘Sarah berdo'a, ‘Ya Allah, seandainya dia (raja) sampai mati, bisa-bisa aku dituduh telah membunuhnya.’ Maka Sarah dibawa kepada raja yang telah berdiri di hadapannya. Lalu Sarah berwudhu dan shalat, kemudian berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu. Jangan biarkan orang lain menyentuh tubuhku kecuali suamiku. Jauhkanlah aku dari raja kafir itu.’ Maka tiba-tiba langkah raja terhenti hingga kakinya tidak menempel ke tanah selain ujung-ujung jari-jemari kakinya.
Maka Sarah dibawa untuk kedua atau ketiga kalinya menghadap raja. Lalu raja berkata, ‘Demi Allah, perempuan yang kalian bawa ke hadapanku itu bukan manusia, tapi setan! Kebalikan wanita itu kepada Ibrahim dan berikan dia upah. Maka Sarah kembali kepada Ibrahim, lalu berkata, ‘Apakah kamu menyadari bahwa Allah telah membuat hina orang kafir itu? Bahkan dia menghadiahi seorang hamba sahaya perempuan. (HR Bukhari).
Pada hadis ini dipahami bahwa Ibrahim benar-benar dalam keadaan terdesak. Mau tidak mau Sarah akan diambil paksa oleh sang raja untuk dijadikan istri. Melawan pun sepertinya percuma. Untuk mengambil risiko paling ringan, ia menyuruh Sarah agar mengaku sebagai saudara perempuannya kepada raja. Sebab, jika mengaku sebagai istrinya, maka selain Sarah dirampas, Ibrahim juga akan dibunuh karena kecemburuan raja. Tapi jika mengaku sebagai saudara, nyawa Ibrahim tetap selamat. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar dalam Fatḥul Bārī, yang juga didukung oleh Imam al-Mundziri dalam Ḥāsyiyatus Sunan. (Ibnu Hajar, tanpa tahun: vol. 6, h. 393).
Karena tidak bisa berbuat apa-apa, Sarah dan Ibrahim hanya bertawakal kepada Allah dan memohon keselamatan kepada-Nya. Doa Sarah dan Ibrahim tidak hanya membuat keduanya selamat dari tangan besi sang raja, tetapi juga meluluhkan hatinya. Mereka dihadiahi seorang budak perempuan bernama Hajar yang kelak akan melahirkan Ismail. Hajar juga bukan orang sembarangan. Ia merupakan wanita berkebangsaan Mesir yang cantik, salehah, cerdas, dan memiliki kualitas spiritual cukup matang. Tampaknya sang raja memiliki standar seleksi cukup ketat untuk hamba sahayanya. Kisah perjalanan rumah tangga Ibrahim juga disampaikan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an.
Terbakar Api Cemburu
Sekian lama menjalani rumah tangga, Ibrahim dan Sarah tak kunjung dikaruniai keturunan. Usia Ibrahim juga sudah lebih dari 80 tahun. Sarah merasa sangat bersalah karena sejauh ini dirinya belum mampu membahagiakan sang suami seutuhnya. Setelah merenung cukup panjang, mempertimbangkan dalam-dalam, juga beristikharah, Sarah akhirnya mengambil keputusan yang sangat berani. Ia mempersilahkan Ibrahim untuk menikah dengan Hajar, hamba sahayanya. Kisah dramatis ini disampaikan cukup detail oleh sejarawan muslim klasik Ibnu Katsir dalam al-Bidāyah wan Nihāyah dan Qashahul Ambiyā.
“Menikahlah dengan Hajar. Barangkali kau akan mendapat keturunan darinya,” pinta Sarah.
Tentu sebagai suami yang setia Ibrahim tidak mengamini begitu saja. Ia mempertimbangkan betul keputusan istrinya. Hingga akhirnya keduanya betul-betul matang untuk menghadirkan orang ketiga dalam rumah tangga. Meski begitu, sebagai perempuan Sarah sebenarnya sangat berat hati untuk dimadu. Tapi ini jalan satu-satunya. Pikirnya.
Ringkas hikayat, Hajar hamil. Ia merasa sangat bahagia telah memberi keturunan kepada Ibrahim. Diam-diam Sarah terbakar api cemburu dan mencurahkan semua isi hatiya kepada sang suami. Terlebih, Hajar sebenarnya tidak kalah cantik dengan Sarah. Bedanya, Sarah dari keturunan bangsawan sementara Hajar hanya rakyat biasa bahkan seorang hamba sahaya. Fakta ini membuat sulit bagi Sarah untuk tidak cemburu.
Hajar yang mendengar problem rumah tangga ini lantas kabur dari rumah seorang diri. Ia merasa sangat bersalah, menganggap dirinya perusak rumah tangga orang. Dalam sepi seorang malaikat berbisik padanya, “Wahai Hajar, tidak usah takut. Allah ada bersama anak yang ada di dalam kandunganmu.” Malaikat lalu menyuruhnya untuk pulang dan memberitahu bahwa ia akan melahirkan bayi laki-laki. “Kelak putramu akan menjadi manusia tangguh dan pemimpin umat,” pungkas Malaikat. Hajar pun sangat gembira dan bersyukur kepada Allah swt.
Syekh Abu Muhammad bin Abi Zaid dalam kitab an-Nawādir, yang dikutip Ibnu Katsir dalam al-Bidāyah wan Nihāyah, menyampaikan, saking sakit hatinya sampai Sarah meminta Ibrahim untuk melukai Hajar sebagai ekspresi kekesalannya. “Aku tahu kau ini orang baik, tapi tolong lukai Hajar,” pinta Sarah.
Untuk mengakali permintaan istri pertamanya, Ibrahim menindik kedua telinga Hajar. Dengan begitu ia sudah dianggap memenuhi perintah Sarah. Sementara untuk tetap menjaga perasaan Hajar, Ibrahim memberinya kedua anting sebagai hiasan hingga semakin tampak cantik. Dari kisah ini, Hajar menjadi wanita pertama yang memakai anting dalam sejarah.
Hajar kembali ke rumah dan menjalani hari-harinya dengan kecemburuan Sarah. Bayi Ismail kemudian lahir bertepatan dengan usia Ibrahim yang ke-86 tahun. Kecemburuan Sarah semakin menjadi, hingga ia meminta kepada Ibrahim untuk menjauhkan wajah Hajar dari hadapannya. Baginya melihat Hajar hanya membuat luka batinnya semakin dalam. Sarah sudah sangat tersiksa dengan gejolak cemburu yang menjadi tekanan batinnya selama ini. Berikut Ibnu Katsir dengan lugas menjelaskan rasa cemburu Sarah dalam Qashashul Ambiyā,
وَالْمَقْصُودُ أَنَّ هَاجَرَ عَلَيْهَا السَّلَامُ لَمَّا وُلِدَ لَهَا إِسْمَاعِيلُ، اشْتَدَّتْ غَيْرَةُ سَارَةَ مِنْهَا، وَطَلَبَتْ مِنَ الْخَلِيلِ أَنْ يُغَيِّبَ وَجْهَهَا عَنْهَا،فَذَهَبَ بِهَا وَبِوَلَدِهَا، فَسَارَ بِهِمَا حَتَّى وَضَعَهُمَا حَيْثُ مَكَّةَ الْيَوْمَ
Artinya, “Begitu Ismail lahir, gejolak api cemburu kian membakar Sarah. Ia pun meminta kepada Ibrahim, suaminya, untuk ‘mengusir’ Hajar. Sarah sudah tidak kuat menjalani hari-hari bersama istri kedua suaminya. Ibrahim pun membawa pergi Hajar bersama putranya, dan meninggalkan keduanya di tempat yang sekarang disebut Makkah.” (Ibnu Katsir, 2009: vol. 1, h. 192-194).
Penting diketahui, pengasingan yang dilakukan Ibrahim kepada Hajar dan putranya, Ismail, ke daerah tandus dan gersang yang sekarang menjadi kota Makkah merupakan perintah Allah, bukan semata-mata menuruti permintaan Sarah. Sebab, dalam Al-Qur’an pengasingan ini disebut sebagai perintah wahyu. Allah swt berfirman mengisahkan situasi ini,
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ ۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْوَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ ﴿إبراهيم) : ۳۷
Artinya, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrāhīm [14]:37)
Mengapa Sarah Cemburu?
Kita mungkin bertanya, mengapa Sarah, istri nabi yang juga terkenal salehah dan mempunyai tingkat spiritual cukup tinggi, sampai-sampai terbakar api cemburu yang demikian hebat? Untuk menjawab ini penting diketahui bahwa cemburu adalah emosi alami yang dimiliki oleh setiap manusia, apalagi seorang istri yang dimadu seperti Sarah. Karena merupakan tabiat bawaan setiap orang, maka orang yang cemburu dianggap normal dan tidak berdosa.
Faktor lain yang membuat rasa cemburu Sarah kian memuncak setidaknya dua hal. Pertama, Hajar bisa hamil lebih cepat, padahal belum lama membina rumah tangga dengan Ibrahim. Selama ini bisa hamil adalah impian besar Sarah. Kedua, dalam penjelasan KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha), kecemburuan Sarah terhadap Hajar dipicu oleh status sosial. Sarah wanita cantik dari kalangan bangsawan, sedangkan Hajar -meski tidak kalah rupawan- berasal dari rakyat biasa bahkan seorang hamba sahaya. Pendek kata, Sarah agak keberatan istri kedua suaminya terlalu cantik untuk seukuran hamba sahaya.
Terkait rasa cemburu, Rasulullah memberi batasan, selama rasa cemburu tidak mendorong seseorang berbuat maksiat maka tidak menmimbulkan dosa. Sehingga, rasa cemburu pada diri Sarah sebenarnya tabiat bawaan yang wajar dan sah-sah saja. Nabi bersabda,
إِنَّ مِنْ الْغَيْرَةِ مَا يُحِبُّ اللَّهُ وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُ اللَّهُ وَمِنْ الْخُيَلَاءِ مَا يُحِبُّ اللَّهُ وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُ اللَّهُ فَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِي يُحِبُّ اللَّهُفَالْغَيْرَةُ فِي رِيبَةٍ وَأَمَّا الَّتِي يُبْغِضُ اللَّهُ فَالْغَيْرَةُ فِي غَيْرِ الرِّيبَةِ وَأَمَّا الْخُيَلَاءُ الَّتِي يُحِبُّ اللَّهُ أَنْ يَتَخَيَّلَ الْعَبْدُ بِنَفْسِهِ لِلَّهِ عِنْدَالْقِتَالِ وَأَنْ يَتَخَيَّلَ بِالصَّدَقَةِ.
Artinya, “Sesungguhnya diantara cemburu itu ada yang disukai Allah dan ada yang dibenci Allah. Demikian juga diantara sikap sombong itu ada yang disukai Allah dan ada yang dibenci Allah. Cemburu yang disukai Allah adalah cemburu dalam keraguan dan yang dibenci Allah adalah cemburu di luar keraguan, sedangkan sikap sombong yang disukai Allah sombongnya seorang hamba untuk Allah saat perang dan sombong dengan sedekah.” (HR Ahmad)
Maksud cemburu yang dalam keraguan tersebut adalah rasa cemburu yang wajar dan tidak sampai mendorong seseorang melakukan maksiat. Sementara cemburu di luar keraguan adalah cemburu yang melewati batas wajar dan menyebabkan seseorang melanggar norma-norma agama. Wallahu a’lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Zunus
