Tafsir Surah An-Nas Ayat 4: Setan, Pembisik yang Menyesatkan Manusia

Tafsir Surah An-Nas Ayat 4: Setan, Pembisik yang Menyesatkan Manusia

Arina.id — Tak bisa dipungkiri, dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menguji moralitas dan integritasnya. Di balik setiap keputusan yang diambil, terdapat suara-suara kecil di dalam hati dan pikiran yang berperan besar dalam menentukan arah tindakan. Suara-suara ini dapat menjadi petunjuk yang bijak, agar senantiasa melakukan kebenaran dan kebaikan. 

Akan tetapi, tidak jarang pula ada bisikan yang menyesatkan. Bisikan negatif ini sering kali muncul dari hasrat dan hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri manusia. Bisikan ini berusaha membenarkan sesuatu yang salah atau melanggengkan perilaku yang tidak etis. Misalnya, seseorang yang tergoda untuk berbuat curang mungkin mendengar bisikan seperti, “Ini hanya sekali ini saja,” atau, “Tidak ada yang akan tahu.” Padahal, tindakan tersebut dapat menimbulkan konsekuensi yang merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam Al-Qur’an surah An-Nas ayat 4, Allah menjelaskan tentang bahaya bisikan negatif ini:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ۝٤

min syarril-waswâsil-khannâs.

Artinya: dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi.

Imam Qurthubi dalam kitab Tafsir Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an, yang dimaksud dengan “الوسواس الخناس” adalah setan. Setan memiliki sifat selalu membisikkan keburukan atau godaan kepada hati manusia, terutama ketika seseorang lengah atau dalam keadaan tertentu yang memudahkan untuk dipengaruhi.

Lebih lanjut, Imam Qurthubi menjelaskan bahwa bisikan yang dimaksud adalah bentuk gangguan dari setan yang sering kali muncul di hati manusia. Setan bersembunyi dan berusaha mempengaruhi pikiran atau perasaan seseorang secara halus. 

Lewat ayat ini, Allah mengingatkan umat Islam untuk berlindung kepada Allah dari godaan dan kejahatan setan yang selalu berusaha mengganggu dan menyesatkan hati manusia.

Simak penjelasan Imam Qurthubi berikut: 

قوله تعالى : من شر الوسواس الخناس, يعني : من شر الشيطان . والمعنى : من شر ذي الوسواس

Artinya: Ayat ini, “قوله تعالى: من شر الوسواس الخناس”, artinya: “Dari kejahatan bisikan yang bersembunyi.” Maksudnya adalah dari kejahatan setan. Maknanya: dari kejahatan yang memiliki sifat membisikkan (kejahatan di hati). [[Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an,  [Lebanon: Darul Fikr, tt], Jilid XX, hlm, 234]

Kenapa dikatakan dengan Khannas? Imam Qurthubi dalam kitab tafsir Jami’ Li Ahkami Al-Qur’an menjelaskan bahwa istilah ‘al-khannas’ digunakan untuk menggambarkan sifat setan yang sering bersembunyi. 

Pada sisi lain, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa setan disebut ‘khannas’ karena ia mundur saat seseorang menyebut nama Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setan selalu mengintai di hati anak Adam, dan ketika manusia lalai, setan membisikkan was-was. Namun, ketika seorang hamba mengingat Allah, setan itu mundur dan berhenti menggoda.

- الشَّيطانُ جاثمٌ على قلبِ ابنِ آدمَ؛ فإذا ذَكَرَ اللَّهَ خنسَ وإذا غفلَ وَسوَسَ

Artinya; “Setan itu berdiam di hati anak Adam; apabila dia mengingat Allah, setan itu mundur, dan apabila dia lalai, setan itu membisikkan (bisikan jahat).”

Menanggapi hadis ini, Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, menjelaskan bahwa hadis ini harus dipahami secara harfiah, yakni Allah memberikan kemampuan kepada setan untuk mengalir dalam tubuh manusia, seperti darah yang mengalir melalui pembuluh-pembuluh halus. 

Dengan kekuatan ini, setan dapat mempengaruhi hati manusia dengan lebih mudah, terlebih jika hati tersebut terbuka karena kelalaian. Oleh karena itu, menjaga dzikir dan kesadaran akan Allah merupakan langkah penting untuk melindungi diri dari pengaruh buruk setan.

فقيل : هو على ظاهره ، وأن الله جعل له قوة وقدرة على أنه يجري في باطن الإنسان وعروقه مجرى الدم في مسام لطيفة من البدن فتصل إلى القلب .

Artinya; Sebagian mengatakan ini sesuai dengan maknanya secara harfiah, bahwa Allah memberikan kekuatan dan kemampuan kepada syaitan sehingga ia bisa mengalir di dalam tubuh manusia dan urat-uratnya seperti darah, melalui saluran-saluran halus dalam tubuh hingga sampai ke hati.” [Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih, [Beirut: Darul Fikr, 2002], Jilid IV, hlm, 1559].

Lebih jauh lagi, bisikan setan, yang dikenal dengan istilah al-khannas, merujuk pada sifat setan yang mundur dan menjauh ketika hati seorang hamba mengingat Allah. Ketika seorang hamba senantiasa berdzikir dan menjaga hatinya dalam keadaan ingat kepada Allah, bisikan setan menjadi lemah dan dampaknya berkurang. 

Sebaliknya, jika hati seorang hamba lalai dan melupakan dzikir kepada Allah, maka setan memiliki kesempatan untuk menggoda dan membisikkan kejahatan. Dalam keadaan lalai ini, setan tidak hanya menguasai hati, tetapi juga memberikan bisikan yang semakin kuat. 

Hal ini menunjukkan bahwa kelalaian adalah penyebab utama dari datangnya bisikan setan, bukan kebalikannya seperti yang sering diyakini oleh sebagian orang. Ketika seorang hamba tidak menjaga dzikirnya, ia membuka pintu bagi setan untuk masuk dan menggoyahkan hatinya dengan berbagai godaan dan pikiran buruk.

Simak penjelasan Imam Qurthubi berikut;

ووصف بالخناس لأنه كثير الاختفاء ؛ ومنه قول الله تعالى : فلا أقسم بالخنس يعني النجوم ، لاختفائها بعد ظهورها . وقيل : لأنه يخنس إذا ذكر العبد الله ؛ أي يتأخر . وفي الخبر “ إن الشيطان جاثم على قلب ابن آدم ، فإذا غفل وسوس ، وإذا ذكر الله خنس “ أي تأخر وأقصر . وقال قتادة : الخناس الشيطان له خرطوم كخرطوم الكلب في صدر الإنسان ، فإذا غفل الإنسان وسوس له ، وإذا ذكر العبد ربه خنس . يقال : خنسته فخنس ؛ أي أخرته فتأخر . وأخنسته أيضا


Artinya: Ia disebut dengan ‘al-khannas’ karena ia sering bersembunyi. Hal ini juga digunakan dalam firman Allah: ‘Maka Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam’ (QS. At-Takwir: 15), yang merujuk pada bintang-bintang yang tersembunyi setelah tampak. Ada juga yang mengatakan bahwa ia disebut ‘khannas’ karena ia mundur ketika seorang hamba menyebut nama Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan: ‘Sesungguhnya setan duduk (mengintai) di hati anak Adam. Ketika ia lalai, setan membisikkan (was-was) padanya. Namun, ketika ia mengingat Allah, setan itu mundur.’ Maksudnya adalah setan tersebut mundur dan berhenti. 

Menurut Qatadah, ‘al-khannas’ adalah setan yang memiliki belalai seperti belalai anjing yang berada di dada manusia. Ketika manusia lalai, setan itu membisikkan was-was padanya. Namun, ketika seorang hamba mengingat Tuhannya, setan itu mundur. Dalam bahasa Arab dikatakan, ‘Khannastuhu fa khanasa’ yang berarti, ‘Aku membuatnya mundur, maka ia pun mundur.’ Demikian juga, dikatakan ‘akhannastuhu’ yang memiliki makna serupa.” [hlm, 234].

Sementera itu, Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, mengatakan setan termasuk makhluk yang terkenal dengan kejahatannya, terutama dalam membisikkan godaan ke dalam hati manusia. Dalam Tafsir As-Sam’ani,  ia menjelaskan bahwa setan disebut waswas karena ia selalu dekat dengan manusia, seperti menjelma menjadi bisikan dalam hati. 

Namun, sifatnya yang mengganggu itu tidak mutlak; ia akan mundur dan menjauh ketika seorang hamba mengingat Allah dan bertasbih. Sebaliknya, ketika manusia lalai dari mengingat Allah, setan kembali hadir untuk membisikkan keraguan, kegelisahan, atau hasutan kepada manusia. Fenomena ini memperlihatkan kelemahan setan yang tidak dapat bertahan di hadapan kekuatan zikir dan ibadah.

Kata الخناس dalam ayat ini memiliki makna “yang bersembunyi,” menandakan bahwa setan bukanlah ancaman yang nyata dan terus-menerus, tetapi ia menjadi aktif hanya ketika manusia memberikan celah. Dalam hadis yang shahih disebutkan bahwa setan “menggigit” hati manusia, sebuah metafora yang menggambarkan betapa dekatnya ia dengan manusia ketika hati kosong dari mengingat Allah.

Sejatinya, keterangan Abu Muzhaffar As-Sam’ani ini, menunjukkan betapa pentingnya bagi manusia untuk senantiasa menjaga hatinya dengan zikir dan ibadah, sehingga setan tidak memiliki ruang untuk beraksi. Zikir, pada akhirnya, menjadi perisai spiritual yang ampuh untuk melindungi diri dari godaan setan.


هُوَ الشَّيْطَان، وَالْمعْنَى من شَرّ الشَّيْطَان ذِي الوسواس، وَيُقَال: سمى وسواسا؛ لِأَنَّهُ يجثم، فَإِن ذكر العَبْد ربه خنس _ أَي تَأَخّر - وَإِن لم يذكر: وسوس. وَفِي رِوَايَة: الْتَقم ووسوس أَي الْقلب. وَفِيه خبر صَحِيح على هَذَا الْمَعْنى. وَقَوله: {الخناس} مَعْنَاهُ مَا قُلْنَا يَعْنِي: إِذا ذكر العَبْد ربه وَسبح رَجَعَ أَي: تَأَخّر وخنس وَتَنَحَّى.

Artinya: Dia adalah setan, dan maknanya adalah dari kejahatan setan yang suka membisikkan (waswas). Disebut ‘waswas’ karena ia sering menetap (dekat dengan manusia), namun jika seorang hamba mengingat Tuhannya, ia akan mundur – yaitu menjauh – dan jika tidak mengingat-Nya, ia mulai membisikkan (waswas). Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ia menggigit hati dan membisikkan ke dalamnya. Dalam hal ini terdapat hadis shahih yang sesuai dengan makna ini. Firman Allah: {الخناس} (yang bersembunyi) bermakna sebagaimana yang telah kami jelaskan, yaitu: jika seorang hamba mengingat Tuhannya dan bertasbih, maka ia akan mundur, menjauh, dan bersembunyi.” [Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, Tafsir as-Sam’ani, jilid VI, [Riyadh, Darul Wathan, 1997],  hal. 308].

Dengan demikian, kata “waswas” dalam ayat ini berasal dari akar kata yang berarti “bisikan yang samar”. Setan tidak datang dengan suara keras yang mencolok, melainkan dengan cara yang begitu lembut dan tersembunyi, sehingga sering kali manusia tidak menyadari bahwa dirinya sedang digoda. 

Sementara itu, kata “khannas” menunjukkan sifat setan yang “bersembunyi”. Artinya, setan tidak selalu aktif menggoda; ia datang dan pergi, tergantung pada kelemahan iman manusia. Ketika seseorang mengingat Allah, setan mundur, tetapi saat manusia lalai, ia kembali mendekat dan menyerang.

Hal ini menggambarkan strategi setan yang licik. Ia tidak memaksa manusia untuk berbuat dosa, melainkan hanya membisikkan ide-ide negatif, menciptakan keraguan, dan mendorong hawa nafsu untuk mengambil alih kendali.


Editor: Muhammad Zunus
logo