Arina.id - Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang ramah dan murah senyum. Sesekali, beliau bercanda dengan keluarga serta para sahabatnya. Disamping itu, beliau juga kerap menyampaikan kata-kata yang bertujuan untuk menghibur mereka. Namun, candaannya selalu dalam batas yang wajar dan tidak berlebihan, semata-mata untuk menyenangkan hati sahabat-sahabatnya.
Imam Al-Ghazali (wafat tahun 505 H) menjelaskan hal ini dalam kitabnya:
وَكَانَ أَكْثَرَ النَّاسِ تَبَسُّمًا وَضَحْكاً فِيْ وُجُوْهِ أَصْحَابِهِ وَتَعَجُّبًا مِمَّا تَحَدَثُّوْا بِهِ وَخَلْطاً لِنَفْسِهِ بِهِمْ
Artinya: “Nabi SAW merupakan figur yang paling sering tersenyum dan tertawa di hadapan para sahabatnya, dan menunjukkan kekaguman terhadap apa yang mereka ceritakan serta berbaur dengan mereka dengan penuh kebersamaan.” (Ihya Ulumiddin, [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah], vol. 2, h. 452)
Berdasarkan sejumlah keterangan yang dirangkum oleh penulis, terdapat setidaknya lima bentuk humor yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana tercantum dalam beberapa riwayat hadits berikut ini:
1. Humor Nenek Masuk Surga
Suatu hari, Nabi SAW pernah berkata kepada seorang nenek bahwa tidak ada perempuan tua yang akan masuk surga. Mendengar ucapan itu, sontak saja sang nenek merasa sedih dan kecewa. Melihat reaksinya, Nabi SAW tersenyum kemudian membacakan kutipan ayat dari surat Al-Waqi’ah, yang menjelaskan bahwa orang-orang lanjut usia akan kembali muda di surga kelak. Mendengar pernyataan tersebut, sang nenek pun tertawa membayangkan dirinya kembali muda:
إِنَّ عَجُوْزًا أَتَتِ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ اُدْعُ اللهَ أَنْ يُدْخِلَنِيَ الْجَنَّةَ فَقَالَ يَا أُمَّ فُلَانٍ إِنَّ الْجَنَّةَ لَا يَدْخُلُهَا عَجَوْزٌ قَالَ فَذَهَبَتْ وَهِيَ تَبَكِيْ فَقَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرُوْهَا إِنَّهَا لَا تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوْزٌ إِنَّ الله تَعَالَى يَقُوْلُ عُرُبًا أَتْرَابًا أَيْ مُتَسَاوِيَاتٍ فِيْ سِنٍ وَاحِدَةٍ
Artinya: “Suatu hari, seorang perempuan tua mendatangi Nabi SAW dan memohon kepada beliau: Wahai Rasulullah, doakanlah aku agar bisa masuk surga. Nabi SAW lalu menjawab: Wahai ibu fulan, sesungguhnya orang tua tidak akan masuk surga. Mendengar hal itu, perempuan tua tersebut pergi sambil menangis. Nabi SAW kemudian berkata kepada para sahabatnya: Sampaikan kepada ibu tadi bahwa ia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua. Lantas, Nabi membacakan ayat yang artinya: Penuh cinta lagi sebaya umurnya. Maksudnya, bahwa kelak seluruh penghuni surga akan memiliki usia yang sama.” (Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani Al-Makki, Muhammad Al-Insan Al-Kamil [Surabaya: Hai`ah As-Shofwah Al-Malikiyyah], h. 254)
2. Humor Julukan Perahu
Adalah Safinah RA, seorang mantan budak Ummu Salamah pernah bercerita bahwa ia menjadi bahan gurauan Nabi SAW. Ia mengisahkan bahwa dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah SAW, para sahabat yang merasa keberatan memikul barang mereka menyerahkannya kepadanya, sehingga ia membawa banyak beban. Melihat hal itu, Nabi SAW pun berkata: "Engkau memang benar-benar layaknya safinah (perahu)":
كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَجَعَلَ كُلُّ مَنْ ثَقُلَ عَلَيْهِ مَتَاعُهُ مِنْ أَصْحَابِهِ حَمَلَهُ عَلَيَّ، حَتَّى حَمَلْتُ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا كَثِيرًا، فَمَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: مَا أَنْتَ إِلَّا سَفِينَةٌ
Artinya: “Aku pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan. Setiap sahabat yang merasa berat membawa barang bawaannya menyerahkan barang tersebut kepadaku, hingga aku memikul beban yang cukup banyak. Ketika Nabi SAW melewatiku, beliau bersabda: Engkau ini tak lain adalah safinah (perahu).” (Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir [Kairo: Maktabah Ibn Taimiyyah], vol. 7, h. 83)
3. Humor tentang Dua Telinga
Salah satu bentuk candaan dan keakraban Nabi SAW dengan sahabatnya ialah tatkala beliau memanggil dengan julukan dua telinga kepada pelayannya Anas bin Malik RA. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam hadits:
قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا ذَا الْأُذُنَيْنِ
Artinya: “Abu Dawud berkata: Ibrahim bin Mahdi telah menceritakan kepada kami, Syarik telah menceritakan kepada kami dari ‘Ashim, dari Anas, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Wahai yang memiliki dua telinga.” (H.R. Abu Dawud)
Dalam hadits ini, gurauan Nabi SAW tidak mengandung kebohongan dan tidak berlebihan. Ungkapan beliau, bahwa setiap orang memiliki dua telinga, sesuai dengan kenyataan. Kendati demikian, mungkin tujuan beliau tidak semata-mata bercanda tetapi juga memberikan isyarat kepada Anas RA agar mendengar dan menyimak dengan sungguh-sungguh apa yang akan beliau sampaikan.
Lantaran Allah SWT menciptakan sepasang telinga sebagai sarana untuk mendengar. Melalui keduanya, Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, sehingga tidak ada alasan bagi pemiliknya untuk lalai dalam mendengar dan memahami dengan baik:
قَالَ الشَّيْخُ: كَانَ مِزَحُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِزَحًا لَا يَدْخُلُهُ الْكَذِبُ وَالتَّزْيِيدُ وَكُلُّ إِنسَانٍ لَهُ أُذْنَانِ فَهُوَ صَادِقٌ فِي وَصْفِهِ إِيَّاهُ بِذَلِكَ. وَقَدْ يَحْتَمِلُ وَجْهًا آخَرَ وَهُوَ أَنْ لَا يَكُونَ قَصَدَ بِهَذَا الْقَوْلِ الْمِزَاحَ وَإِنَّمَا مَعْنَاهُ الْحَضَّ وَالتَّنْبِيهَ عَلَى حُسْنِ الاسْتِمَاعِ وَالتَّلَقُّفِ لِمَا يَقُولُهُ وَيَعْلِمُهُ إِيَّاهُ، وَسَمَّاهُ ذَا الْأُذْنَيْنِ إِذْ كَانَ الْاسْتِمَاعُ إِنَّمَا يَكُونُ بِحَاسَّةِ الْأُذُنِ، وَقَدْ خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ أُذْنَيْنِ يَسْمَعُ بِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِّنْهُمَا وَجَعَلَهُمَا حُجَّةً عَلَيْهِ فَلَا يُعْذَرُ مَعَهُمَا إِنْ أَغْفَلَ الاسْتِمَاعَ لَهُ وَلَمْ يُحْسِنْ الْوَعْيَ لَهُ
Artinya: “Guruku berkata: Lelucon Nabi SAW merupakan lelucon yang tidak mengandung kebohongan atau tambahan yang berlebihan, setiap orang memiliki dua telinga. Sehingga Nabi SAW orang yang jujur dalam menggambarkannya. Bisa jadi ada kemungkinan lain, yaitu bahwa yang dimaksud dengan perkataan ini bukanlah lelucon, melainkan maksudnya dorongan dan peringatan untuk mendengarkan dengan baik dan menerima apa yang beliau ucapkan dan ajarkan. Anas bin Malik RA disebut sebagai orang yang memiliki dua telinga, sebab pendengaran hanya terjadi melalui indera telinga, dan Allah SWT telah menciptakan baginya dua telinga untuk mendengarkan, serta menjadikannya sebagai bukti yang mengikat dirinya, sehingga tidak ada alasan baginya jika ia mengabaikan untuk mendengarkan dan tidak memperhatikan dengan seksama.” (Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad Al-Khithabi, Ma’alim As-Sunan [Beirut: Al-Mathba’ah Al-Ilmiyah] vol. 4, h. 135)
4. Humor Saat Menang Balap Lari
Suatu ketika, Sayyidah Aisyah pernah berlomba lari dengan Nabi SAW dan berhasil mengalahkan beliau. Namun, seiring berjalannya waktu, tubuh Sayyidah Aisyah mulai bertambah berat. Pada kesempatan lain, mereka kembali berlomba, dan kali ini Nabi SAW yang memenangkan perlombaan.
Beliau kemudian bersabda: "Kemenangan ini adalah balasan atas kekalahanku sebelumnya." Ungkapan tersebut menunjukkan kebesaran hati Nabi SAW, yang tidak hanya menerima kekalahan dengan lapang dada tetapi juga menyikapi kemenangan dengan candaan yang penuh kehangatan:
فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَيَّ فَلَمَّا حَمَلْتُ اللَّحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي قَالَ هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ
Artinya: “Dulu, aku pernah balap lari dengan Nabi SAW dan berhasil mengalahkan beliau. Saat aku mulai gemuk, kami melakukan balap lari lagi dan Nabi SAW mengalahkanku. Beliau bersabda: (kemenanganku) ini adalah (balasan) untuk (kekalahanku) dalam balap lari waktu itu.” (H.R. Abu Dawud)
5. Menjadi Objek Humor Sahabat
Nabi Muhammad SAW juga pernah menjadi sasaran gurauan dari para sahabatnya, salah satunya dialami oleh ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i RA. Suatu ketika, ia menemui Nabi SAW saat Perang Tabuk, di mana beliau berada di dalam tenda kecil yang terbuat dari kulit.
Setelah memberi salam dan meminta izin untuk masuk, Rasulullah SAW membalas salamnya dan mempersilakannya masuk dengan berkata: "Masuklah." ‘Auf bin Malik pun bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah aku boleh masuk sepenuhnya?" Beliau menjawab: "Masuklah sepenuhnya." Karena ukuran tenda yang kecil, jawaban tersebut menjadi gurauan yang mengundang senyum:
وَعَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ: أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، وَهُوَ فِي قُبَّةٍ مِنْ أَدَمٍ، فَسَلَّمْتُ، فَرَدَّ عَلَيَّ، وَقَالَ: " ادْخُلْ " فَقُلْتُ: أَكُلِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: " كُلُّكَ "، فَدَخَلْتُ. قَالَ عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَاتِكَةِ: إِنَّمَا قَالَ: أَدْخُلُ كُلِّي مِنْ صِغَرِ الْقُبَّةِ
Artinya: “Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyjai, ia berkata: Aku datang menemui Rasulullah SAW saat Perang Tabuk, sementara beliau berada di dalam sebuah tenda dari kulit. Aku memberi salam, beliau membalas salamku dan berkata, Masuklah. Lalu aku bertanya: Apakah aku boleh masuk sepenuhnya, wahai Rasulullah? Beliau menjawab Masuklah sepenuhnya. Maka aku pun masuk, selanjutnya Utsman bin Abu Al-Athikah berkata, Yang dimaksud dengan masuk sepenuhnya adalah karena tenda yang kecil.” (Ali bin Muhammad Al-Mulla Al-Qari, Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Mashabih [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 7, h. 3065)
Hadits ini menggambarkan bagaimana hubungan Nabi SAW dengan para sahabatnya penuh dengan kehangatan dan kedekatan. Sebagaimana Nabi SAW kerap bercanda dengan para sahabatnya, para sahabat pun tak segan membalas gurauan beliau dengan canda tawa dengan tetap menjaga etika dan sopan santun. Hal ini menunjukkan betapa Nabi SAW membangun hubungan yang penuh kasih sayang dan saling menghormati, sehingga suasana di antara mereka selalu terasa hangat dan akrab.
Demikian uraian mengenai lima sisi humoris Nabi Muhammad SAW, sebagaimana termaktub dalam pelbagai riwayat hadits. Humor tersebut tidak hanya menggambarkan akan kehangatan dan kelembutan beliau dalam berinteraksi dengan orang terdekat serta para sahabatnya.
Alih-alih merendahkan, justru canda gurau itu dapat menjadi hiburan serta wasilah keakraban jika dilakukan tanpa berlebihan, tidak mengandung unsur kebohongan, dan tetap menjaga etika. Wallahu a’lam bis shawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor: Muhammad Faizin
