Ingin jadi Waliyullah? Contohlah 5 Sifat Anak Kecil Ini

Ingin jadi Waliyullah? Contohlah 5 Sifat Anak Kecil Ini

Salah satu ulama Indonesia, KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengatakan bahwa bagi kebanyakan orang, menjadi wali atau orang yang dicintai Allah memang bukan sebuah cita-cita. Namun, Gus Baha mengingatkan setiap Muslim untuk naik level. Menurutnya, kebanyakan orang ingin dicintai pejabat, tetangga, dan juga teman. Mereka kadang lupa untuk ingin dicintai Allah. 

“Kita ini terlalu lama ingin dicintai mahluk. Mbok yaho, naik kelas sedikit, ingin dicintai Allah,” ujar Gus Baha.

Dalam berbagai literatur, syarat menjadi wali Allah memang tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Syaratnya bertingkat dan banyak. Dibutuhkan totalitas ketaatan, kesungguhan dalam menjaga hati, dan menjauhi bermacam perbuatan yang dibenci Allah. 

Menariknya, meskipun menjadi kekasih Allah bukan hal yang mudah, namun Imam Al-Ghazali memberi penjelasan bagaimana seseorang dapat meraih derajat kewalian. Salah satunya, kata Hujjatul Islam ini adalah dengan mencontoh beberapa perangai atau sifat yang melekat pada anak kecil. 

Imam Ghazali menyebut banyak perangai mulia yang Allah sukai dapat ditemukan pada diri anak-anak. Meskipun mereka belum dibebani kewajiban syariat, sifat polos dan tulus yang dimiliki oleh anak-anak mencerminkan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai agama. 

Dalam kitab At Tibr Al Masbuk Fi Nasihah Al Muluk, Imam Ghazali menjelaskan sejumlah perangai anak kecil yang dapat kita contoh agar meraih derajat kekasih Allah. Beliau dalam kitab tersebut menyebutkan lima perangai, yakni:

خَمْسُ خِصَالٍ فِي الأَطْفَالِ لَوْ كَانَتْ فِي الكِبَارِ مَعَ رَبِّهِمْ لَكَانُوا أَوْلِيَاءَ: لَا يَهْتَمُّونَ بِالرِّزْقِ، وَلَا يَشْكُونَ مِنْ خَالِقِهِمْ إِذَا مَرِضُوا، وَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ مُجْتَمِعِينَ، وَإِذَا خَافُوا جَرَتْ عُيُونُهُمْ بِالدُّمُوعِ، وَإِذَا تَخَاصَمُوا تَسَارَعُوا إِلَى الصُّلْحِ۔

1. Tidak Khawatir perihal Rezeki 

Anak kecil tidak pernah pusing bagaimana makanan atau kebutuhan mereka akan terpenuhi. Mereka sepenuhnya bergantung pada orang tua tanpa merasa cemas. Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari perangai anak kecil ini adalah keyakinan dan ketenangan hati dalam menghadapi urusan rezeki.

Dengan kata lain kita bersikap tawakal yakni berserah diri sepenuhnya kepada Allah sambil tetap berusaha. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi percaya bahwa segala rezeki telah diatur oleh-Nya dan akan datang pada waktu yang sudah ditentukan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 6 berikut:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Artinya: “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”

2. Tidak Mengeluh kepada Allah saat Sakit

Saat sakit, anak kecil menerima keadaan tanpa menyalahkan atau mempertanyakan takdir. Hal ini mengajarkan kepada orang dewasa pentingnya bersabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian, karena semua yang terjadi pasti memiliki hikmah dari Allah.  

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah: 155)

3. Makan Bersama dengan Orang Lain

Anak-anak sering makan dengan gembira bersama teman-teman atau keluarga tanpa perhitungan. Dari perangai ini, kita dapat mengambil pelajaran tentang kebersamaan dan sikap saling berbagi. Pun dalam Islam, makan bersama dianjurkan karena dapat mempererat hubungan sosial serta menjadi sarana mendatangkan berkah.

4. Menangis Saat Takut

Ketika anak kecil merasa takut, mereka spontan menangis. Ini menunjukkan ketulusan emosi, sesuatu yang bisa kita tiru saat berdoa kepada Allah. Memohon dengan hati yang tulus dan penuh rasa takut kepada-Nya menunjukkan kedekatan dan keikhlasan seorang hamba.  

5. Cepat Berdamai setelah Bertengkar 

Anak kecil tidak menyimpan dendam lama. Setelah bertengkar, mereka segera rukun kembali dan bermain seperti biasa. Dari perangai ini kita bisa belajar bahwa betapa damainya ketika kita mudah memaafkan dan tidak membiarkan perselisihan berkepanjangan. Perangai ini pun juga sejalan dengan akhlak mulia yang dianjurkan dalam Islam, sebab Allah mencintai hamba-Nya yang tulus memaafkan.

فَمَن عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

Artinya: "Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya adalah bagi Allah." (QS Asy-Syura: 40)

Dari penjelasan ini, kita perlu menyadari bahwa kita acapkali berusaha keras mendapatkan cinta dari sesama manusia, tapi tak jarang berakhir dengan kecewa, patah hati, bahkan rasa sakit yang sulit terobati. Berbeda dengan cinta-Nya yang tidak pernah mengecewakan dan selalu membawa ketenangan. Sudah saatnya kita mulai beranjak menjalin hubungan dengan Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
logo