Arina.id — Masjid Aisyah yang terletak di kawasan Tan'im, menjadi salah satu tempat Miqat (permulaan ihram) terfavorit bagi jamaah umrah, khususnya bagi mereka yang sudah berada di dalam wilayah Makkah.
Masjid ini berjarak sekitar 7 kilometer dari Masjidil Haram dan berada di wilayah Tan’im, jalur antara Makkah dan Sarif. Dinamakan Tan’im karena lokasi ini diapit oleh dua gunung yang disebut dengan Jabal Naim dan Jabal Naiim.
Masjid Aisyah sebagai tempat mengambil Miqat tidak lepas dari sebuah peristiwa yang melibatkan istri Nabi Muhammad SAW, yaitu Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar RA. Masjid ini pertama kali dibangun pada 240 Hijriyah oleh Gubernur Makkah yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Daud.
Latar Belakang Peristiwa
Pada tahun ke-10 Hijriyah, Rasulullah SAW menunaikan Haji Wada’ (haji perpisahan) bersama para sahabat dan keluarganya, termasuk Sayyidah Aisyah. Rangkaian ibadah haji ini sangat spesial karena setelah 23 tahun berdakwah dan berupaya membebaskan (fath) Makkah dari penyembahan terhadap berhala, pada akhirnya Nabi beserta para Sahabat bisa melaksanakan ibadah haji dengan damai, tenang, dan penuh kekhidmatan.
Dinamakan haji wada’ karena ibadah haji tersebut dianggap sebagai ibadah haji perpisahan mengingat tidak lama setelahnya Nabi Muhammad SAW wafat.
Sayangnya, dalam perjalanan haji tersebut, Sayyidah Aisyah mengalami haid saat tiba di Sarif yang jaraknya sekitar 10 KM dari Makkah. Karena itu, beliau tidak bisa langsung melaksanakan tawaf sebagaimana jamaah lainnya.
Beliau pun merasa sangat sedih karena justru di momen yang sangat dinantikan ini ia malah haid sehingga aktifitas ibadah hajinya agak terhambat. Paham atas hal tersebut, Rasulullah lantas memberikan pesan kepadanya:
اصنعي ما يصنع الحاج غير أن لا تطوفي
"Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang haji hanya saja engkau jangan tawaf."
Meskipun mungkin hal ini menyedihkan bagi Sayyidah Aisyah, namun pada akhirnya ada hikmah yang sangat besar bagi kaum muslimin yakni pelajaran penting tentang manasik haji bagi perempuan yang sedang haid sehingga kelak hingga hari kiamat, peristiwa ini bisa tetap menjadi pedoman bahwa seorang perempuan yang sedang haid tetap bisa melaksanakan rangkaian ibadah haji hanya saja khusus untuk tawaf, mereka harus menunggu hingga suci.
Dalam hadis lain juga ada penegasan tambahan bahwa perempuan yang haid tetap bisa melaksanakan niat ihram. Dikisahkan bahwa Sayyidah Asma binti Umais ketika sedang melaksanakan perjalanan nusuk, beliau melahirkan seorang putra yakni Muhammad binti Abu Bakar. Beliau kemudian mengutus seseorang untuk bertanya kepada Rasulullah tentang apa yang mesti ia lakukan. Rasulullah bersabda:
اغتسلي واستثفري بثوب وأحرمي
"Mandilah, balutlah dengan kain, dan ihramlah." (HR. Muslim)
Dari hadis-hadis di atas kemudian bisa menjadi pelajaran bagi para muslimah bahwasanya perempuan haid tetap disunnahkan mandi ihram, boleh niat ihram, hanya saja tetap tidak diperbolehkan shalat sunnah ihram.
Sayyidah Aisyah Umrah dari Tan’im
Pada saat telah suci, Sayyidah Aisyah kemudian berkata kepada jamaaah: “Kalian semua telah melaksanakan umrah dan haji, sementara aku baru mengerjakan haji saja”.
Mendengar hal ini, Nabi kemudian memerintahkan saudara Sayyidah Aisyah, yakni Sahabat Abdurrahman bin Abu Bakar untuk mengantarkan Sayyidah Aisyah pergi ke Tan’im, sebuah tempat yang berada di luar batas tanah suci agar beliau bisa niat ihram mengambil miqat dari sana untuk kemudian melaksanakan umrah.
Dari situlah Sayyidah Aisyah melakukan miqat dan memulai rangkaian ibadah umrah. Rasulullah sendiri tidak membersamai beliau, namun menunggu hingga Sayyidah Aisyah selesai melaksanakan umrah.
Penamaan Masjid Aisyah
Tempat di mana Sayyidah Aisyah memulai ihram tersebut kemudian dikenang oleh umat Islam sebagai Miqat Tan'im, dan masjid yang dibangun di sana diberi nama Masjid Aisyah sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa tersebut.
Masjid ini kini menjadi tempat yang sangat sering dikunjungi oleh jamaah umrah yang ingin melakukan umrah tambahan setelah menyelesaikan satu kali umrah dari miqat aslinya. Jamaah dari Makkah juga sering menggunakan tempat ini untuk memulai ihram.
Dengan demikian bisa kita pahami bahwa masjid Aisyah bukan hanya sekadar tempat untuk mengambil miqat, tetapi juga menyimpan sejarah yang penuh makna tentang kasih sayang Nabi SAW kepada umat khusunya istri beliau, semangat ibadah, dan kemudahan dalam Islam. Kini, masjid ini menjadi salah satu simbol penting bagi jamaah yang ingin mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah umrah.
Editor: Muhammad Zunus
