Mengutip Imam Al-Ghazali, KH. Ulil Abshar Abdalla, menjelaskan bahwa keserakahan dan ketamakan adalah dua sifat yang sangat merugikan. Kerugian ini tidak hanya menimpa diri sendiri, tetapi juga berpengaruh bagi masyarakat. Kenapa? Karena dua sifat ini berasal dari ketidakpuasan terhadap apa yang sudah dimiliki, serta keinginan untuk selalu meraih lebih, tanpa memperhitungkan ketentuan agama Islam.
“Keserakahan ini menciptakan siklus ketidakpuasan yang tidak pernah berhenti, karena manusia dengan sifat tersebut akan terus menerus menginginkan apa yang ada di tangan orang lain, bahkan dengan cara yang tidak etis. Hal ini bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menyebabkan kegelisahan batin, karena seseorang yang tidak pernah puas akan selalu merasa terjajah oleh keinginan-keinginannya,” demikian penjelasan Gus Ulil pada edisi ke-398 dari kajian Ngaji Ihya’ Ulum al-Din karya Imam Al Ghazali.
Tema yang diangkat Gus Ulil ini sangat relevan dengan kondisi sosial dan psikologis umat manusia masa kini. Pembahasan tentang dua sifat yang sangat bertolak belakang, yaitu sifat keserakahan (حرص) dan tamak (طمع), serta sifat qana’ah (قناعة), dan ketidaktergantungannya kepada kekayaan duniawi ( واليأس مما في أيدي الناس), yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din.
Jauh-jauh hari, sejatinya Rasulullah sudah mengingatkan, bahwa secara alami, manusia memiliki hasrat yang besar untuk memperoleh lebih banyak (keserakahan) dari apa yang sudah dimilikinya. Simak Sabda Rasulullah berikut,
قال رسول الله صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : ( لَوْ كَانَ لابن آدم واديانِ مِنْ ذهب .. لا بتغى إليهما ثالثاً ، ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب ، ويتوب الله على مَنْ تابَ
Artinya; Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah penuh emas, ia pasti akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut (nafsu) anak Adam kecuali tanah (kubur). Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.”
Hadist ini menggambarkan betapa keinginan manusia akan harta dan kepuasan materi bersifat tak terbatas. Fenomena ini bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Saban orang cenderung ingin lebih kaya, lebih berkuasa, atau lebih diakui, meskipun sebenarnya mereka sudah memiliki hak yang lebih dari cukup. Nafsu untuk terus mencari lebih bagian dari sifat dasar manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki.
Kapan manusia akan berhenti dari dunia? Rasulullah berkata hanya “tanah kubur” yang mampu mengakhiri hasrat manusia, karena hanya kematian yang menutup pintu pencarian duniawi. Artinya, sebanyak apa pun seseorang mengumpulkan harta dan kekayaan, akhirnya semua itu tak lagi berarti ketika hidup berakhir. Kesadaran bahwa kehidupan ini sementara seharusnya memotivasi manusia untuk mengarahkan pandangannya kepada hal-hal yang lebih kekal, seperti kebaikan dan ibadah.
Sebaliknya, qana’ah atau kepuasan hati adalah sifat yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Qana’ah bukan berarti menyerah dalam usaha atau tidak berambisi, tetapi lebih kepada sikap menerima keadaan dengan lapang dada, tidak menggantungkan kebahagiaan pada kekayaan duniawi. Gus Ulil menekankan bahwa seorang qana’ah akan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, dan tidak terikat pada apa yang ada di tangan orang lain.
Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghazali menggambarkan bahwa orang yang qana’ah tidak terpengaruh oleh godaan materi, dan ia selalu merasa puas dengan yang minimal, mencukupi kebutuhan hidup dengan cara yang sederhana, tanpa harus memperbesar harapan kepada sesuatu yang lebih. “Qana’ah, menerima apa yang diberikan oleh Allah kepada kita dan tidak terlalu berharap pada hak milik orang lain,” jelasnya.
Tak kalah menarik, dalam edisi ini Imam Ghazali juga menuturkan bahwa, kemiskinan itu sesuatu yang terpuji. Ia membahasakannya dengan “اعلم : أن الفقر محمود”, yang berarti bahwa ketauhilah! Kemiskinan itu sesuatu yang terpuji.
Menurut Gus Ulil, sejatinya, penting untuk dipahami bahwa konsep “kemiskinan” yang dimaksud Al-Ghazali di sini adalah dalam perspektif rohani, bukan dalam konteks pengelolaan ekonomi makro negara. “Kita harus menempatkan dalam proporsinya apa yang diucapkan Al-Ghazali ini,” jelas Gus Ulil, sebagaimana dikutip dari laman Youtube Ghazali College, Senin (11/11/2024)
Lebih lanjut, Gus Ulil menegaskan bahwa, dalam konteks makroekonomi, negara memang harus berjuang mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Namun, pada level individu dan dalam konteks penghayatan spiritual, kemiskinan memiliki makna yang berbeda. Di tingkat pribadi, kemiskinan dipandang sebagai sesuatu yang “mahmudun” atau terpuji karena menunjukkan kerendahan hati dan ketergantungan seseorang kepada Tuhan
“Kemiskinan yang terpuji adalah ketika seseorang menerima keadaan hidupnya dengan lapang dada dan tidak merasa terhina,” jelas Gus Ulil, agar tidak disalahpahami, ketika menerangkan lebih lanjut maksud teks Al-Ghazali di halaman 136 tersebut.
Penulis buku Menjadi Manusia Rohani, ini menegaskan bahwa seseorang yang miskin namun mampu menerima keadaannya dengan hati bahagia, justru menunjukkan tingkat kerohanian yang tinggi. Menurutnya, kebahagiaan dalam menerima keadaan kemiskinan adalah bentuk ketenangan batin yang mulia. Ini berarti bahwa sikap menerima dan ikhlas dalam menghadapi keadaan sulit memiliki nilai spiritual yang luar biasa.
Berbanding terbalik, jika seseorang berada dalam kemiskinan tetapi merasa gelisah, pikirannya tidak tenang, dan ibadahnya terganggu karena memikirkan hal-hal duniawi seperti deposito, saldo, atau cicilan, maka kemiskinan tersebut menjadi beban. Dalam kondisi seperti ini, Gus Ulil menyarankan agar orang tersebut sebaiknya berusaha untuk menjadi kaya. “Agar ibadahnya bisa dilakukan dengan lebih khusyuk dan tenang,” tambahnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa kekayaan yang tidak disertai ketenangan batin justru membawa bencana. Jika setelah menjadi kaya seseorang tetap tidak merasa tenang, bahkan menjadi semakin tamak dan serakah, maka hal itu bisa menjadi celaka yang berlipat-lipat. Oleh karena itu, ketenangan hati dan kesederhanaan jiwa, baik dalam keadaan miskin maupun kaya, adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan sejati.
Selanjutnya, Imam Ghazali, memberikan penjelasan bagaimana manusia seharusnya menyikapi kehidupan duniawi. Pasalnya, sifat manusia yang cenderung tamak dan serakah, sering kali menjadi sumber kerusakan dalam kehidupan. Keinginan untuk memiliki lebih, baik dalam hal harta, kedudukan, atau hal lainnya, jika tidak dikendalikan, dapat berujung pada perilaku yang merusak, seperti melakukan segala cara untuk mendapatkan kekayaan, bahkan dengan cara yang tidak adil.
Lebih lanjut, Ghazali juga mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam obsesi [serakah] untuk merencanakan masa depan secara berlebihan. Meskipun merencanakan hidup adalah hal yang penting, Ghazali menegaskan bahwa kita tidak boleh terlalu khawatir atau terbebani oleh masa depan yang tidak dapat kita kendalikan sepenuhnya. “ Ya itulah obsesi manusia modern yang terlalu ingin mengontrol segala hal, [bahkan] yang tidak predictable itu harus diatasi termasuk masa depan,” lanjut Gus Ulil.
Padahal kata Hujjatul Islam ini, terlalu banyak berpikir dan merencanakan masa depan bisa melemahkan keimanan seseorang kepada Allah, karena ia lebih fokus pada usaha manusiawi untuk mengatur takdir, daripada menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah yang Maha Mengetahui. Dalam salah satu kutipannya yang terkenal, ia mengatakan:
فإن تشوف إلى الكثير أو طول أمله .. فاته عن القناعة ، وتدنسر - لا محالة - بالطمع وذل الحرص ، وجرَّهُ الحرص والطمع إلى مساوىء الأخلاق وارتكاب المنكرات الخارقة للمروءات ، وقد جبل الآدمي على الحرص والطمع وقلة القناعة
Artinya; “Maka jika seseorang menginginkan banyak atau memiliki angan-angan yang panjang, ia akan kehilangan sikap puas diri, dan pasti terjerumus ke dalam ketamakan dan kehinaan akibat keserakahan. Keserakahan dan ketamakan itu akan menyeretnya kepada akhlak yang tercela dan melakukan perbuatan-perbuatan mungkar yang merusak martabat. Sesungguhnya manusia secara fitrah memiliki sifat tamak, keinginan, dan kurangnya rasa puas.” (Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin, Jilid VI, (Saudi: Darul Minhaj, 2011), hlm. 136)
Dengan demikian, Imam Ghazali mengajarkan umat manusia untuk menjaga keseimbangan dalam hidup, antara upaya duniawi dan perhatian terhadap kehidupan akhirat. Ia mengingatkan bahwa sifat serakah dan ketamakan dapat merusak jiwa dan mendekatkan seseorang pada perbuatan tercela.
Selain itu, ia juga mengingatkan kita untuk tidak terlalu khawatir tentang masa depan yang belum tentu terjadi, karena takdir Allah-lah yang menentukan segala sesuatu. Sebagai umat yang beriman, kita harus lebih fokus pada amal baik, ibadah, dan usaha yang mendekatkan kita pada Allah, dengan penuh rasa syukur atas apa yang telah diberikan-Nya. Dengan demikian, kita dapat meraih ketenangan batin dan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.
Editor: Muhammad Zunus
