Arina.id - Imam Malik bin Anas adalah salah satu ulama yang berpegaruh dalam kajian keilmuan fiqih Islam dengan madzhabnya yang hingga kini masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Muslim di belahan dunia. Imam Malik disebut oleh Syamsuddin al-Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubala sebagai Imam Darul Hijrah atau Imam kota Madinah dan tidak ada orang alim dalam bidang fiqih setelah era tabi’in yang menyamai kealiman Imam Malik.
Imam Malik hidup di era kepemimpinan kekhalifahan Islam dari Dinasti Umayyah hingga dinasti Abbasiah. Kebesaran namanya membuatnya menjadi penasihat beberapa khalifah seperti Khalifah Harun al-Rasyid. Kisah kedekatan beliau berdua banyak ditulis oleh para ulama dan menjadi kisah inspiratif bagi generasi setelahnya.
Terdapat suatu kisah tentang kedekatan beliau berdua saat Harun Al-Rasyid menginginkan bisa belajar kepada Imam Malik. Sedangkan Imam Malik memberinya pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya memuliakan ilmu. Berikut kisahnya:
Abu Hilal Husain bin Abdillah al-Askari mencatat kisah dalam Al-Hittsu ala Thalabil Ilmi wal Ijtihadi fi Jam’ihi [Beirut: Maktabah al-Islami, 1986, hlm. 84] sebagai berikut:
وَذَكَرَ أَحْمَدُ بْنُ اسحق الْحَلَبِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ سَيَّارٍ الْمَنْبِجِيَّ يَقُول: سَمِعت مَالك بن أنس رحمه الله: يَقُول: وَجه إِلَيّ هَارُون الرشيد يسألني أَنْ أُحَدِّثَهُ، فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنَّ الْعِلْمَ يُؤْتَى وَلا يَأْتِي قَالَ: فَصَارَ إِلَى مَنْزِلِي فَاسْتَنَدَ مَعِي إِلَى الْجِدَارِ فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ مِنْ إِجْلالِ اللَّهِ إِجْلالَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، قَالَ: فَجَلَسَ بَيْنَ يَدَيَّ، قَالَ: فَقَالَ لي بَعْدَ مُدَّةٍ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، تَوَاضَعْنَا لِعِلْمِكَ فَانْتَفَعْنَا بِهِ، وَتَوَاضَعَ لَنَا عِلْمُ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، فَلَمْ نَنْتَفِعْ بِهِ. وَكَانَ سُفْيَانُ يَأْتِيهم إِلَى بُيُوتِهِمْ فَيُحَدِّثُهُمْ وَيَأْخُذُ دَرَاهِمَهُمْ.
Artinya: "Ahmad bin Ishaq al-Halabi menceritakan dia mendengar Umar bin Sayyar al-Manbiji berkata, aku mendengar Malik bin Anas berkata: Harun al-Rasyid mengirim utusan dan memintaku untuk membacakan hadits kepadanya, aku menjawab “wahai amirul mukminin, sesungguhnya ilmu itu didatangi, tidak didatangkan”. Kemudian Harun al-Rasyid datang ke rumahku, dia bersamaku bersandar di tembok rumah, kemudian aku berkata “wahai amirul mukminin, sesungguhnya salah satu bentuk memuliakan Allah adalah memuliakan orang Muslim ini”. Kemudian dia duduk di depanku, lalu dia berkata “wahai Abu Abdillah, aku menunduk kepadamu karena ilmumu dan aku mendapatkan manfaatnya. Sedangkan ilmu Sufyan bin Uyinah menunduk kepadaku, tetapi aku tidak mendapatkan manfaatnya”. (al-Askari berkomentar) Sufyan bin Uyinah mendatangi rumah-rumah mereka membacakan hadits kepada mereka dan menerima upah dari mereka."
Abul Falah Abdullah bin Hayy al-Akri mencatat kisah kisah lain yang lebih panjang dalam Syadzaratudz Dzahab fi Akhbari Man Dzahab [Beirut: Dari Ibn Katsir, 1987, vol. 2, hlm. 352] dari riwayat Atiq bin Ya’qub al-Zabidi, dia berkata:
Ketika Khlifah Harun al-Rasyid tiba di Madinah, dia telah mendengar informasi bahwa Imam Malik bin Anas telah menulis kitab Muwattha dan membacakannya kepada masyarakat. Harun mengutus Al-Barmaki untuk menemui Imam Malik dan berkata: “Sampaikan salamku kepadanya dan katakan bawakan aku kitab itu dan bacakan kepadaku.”
Kemudian al-Barmaki mendatangi Imam Malik, lalu Imam Malik berkata “Sampaikan salamku kepadanya dan katakan bahwa ilmu itu didatangi bukan mendatangi”. Kemudin Al-Barmaki menghadap ke Harun dan menyampaikan pesan Imam Malik, dan di sana ada Abu Yusuf al-Qadhi. Abu Yusuf berkata “Wahai amirul mukminin, orang Irak menyampaikan informasi bahwa engkau mengutus seseorang kepada Imam Malik untuk suatu keperluan sedangkan dia tidak memenuhi panggilanmu, biarkan aku mendatangkannya.”
Setelah itu datanglah Imam Malik. Beliau memberi salam dan duduk, kemudian Harun al-Rasyid berkata: “Wahai Ibnu Abi Amir, aku mengirimkan utusan kepadamu sedangkan engkau tidak mematuhiku?"
Imam Malik menjawab: “Wahai amirul mukminin, Al-Zuhri telah memberiku hadits dari Kharijah bin Zaid dari ayahnya, berkata: aku menulis wahyu di depan Rasulullah ayat:
لَا يَسْتَوِى الْقٰعِدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya: "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang)."
Ketika itu ada Abdullah bin Ummi Maktum bersama Rasulullah dan dia berkata: "Wahai Rasulullah aku adalah pria yang buta, sedangkan Allah sungguh telah menurunkan ayat tentang keutamaan jihad kepadamu sebagaimana yang engkau ketahui.
Kemudian Rasulullah menjawab: "Aku tidak mengetahuinya, dan ketika itu penaku masih basah." Lalu Rasulullah duduk mendekat kepadaku dan beliau memejamkan mata dan seletah itu beliau berkata: "Wahai Zaid, tuliskanlah:
غَيْرُ اُولِى الضَّرَرِ
Artinya: "Tanpa mempunyai uzur."
Kemudian Imam Malik berkata: "Wahai amirul mukminin, satu huruf yang di bawa oleh Malaikat Jibril dan malaikat lainnya dari perjalanan 50 ribu tahun apakah tidak sebaiknya aku muliakan dan aku agungkan? Sesungguhnya Allah SWT telah meninggikan derajatmu dan memposisikanmu di kekuasaan ini dengan ilmumu, maka janganlah engkau menjadi orang pertama yang merendahkan kemuliaan ilmu sehingga Allah akan merendahkan kehormatanmu."
Mendengar nasihat Imam Malik tersebut, Harun al-Rasyid berdiri bergegas berjalan bersama Imam Malik untuk menuju rumah Imam Malik untuk mendengarkan kajian kitab Muwattha, dan mendudukkan Imam Malik bersamanya di singgasana.
Ketika Harun ingin segera dibacakan kitab Muwattha, dia berkata: “Engkau yang membacakannya kepadaku”. Imam Malik berkata: “Aku selama ini tidak pernah membacakannya kepada satu orang saja, sehingga masyarakat keluar dari rumahku untuk kubacakan kitab itu kepadamu. Sesungguhnya ilmu ketika dibatasi untuk kepentingan orang tertentu, maka orang itu tidak bisa mengambil manfaatnya."
Imam Malik lalu memerintahkan Ma’an bin Isa al-Qazzas untuk membacakan kitab Muwattha kepada Harun al-Rasyid. Ketika akan mulai dibacakan, Imam Malik berkata kepada Harun: “Wahai amirul mukminin, engkau menemui pakar ilmu di negeri kita, dan sesunugguhnya mereka sangat suka menghormati ilmu”. Mendengar hal itu Harun Al-Rasyid langsung turun dari singgasana dan duduk di bawah dekat dengan Ma’an dan mendengarkannya membaca kitab Muwattha.
***
Kisah ini menunjukkan betapa ilmu dimuliakan oleh para ulama dengan tidak pandang bulu. Bahkan kepada sekelas pemimpin tertinggi, ia yang harus datang sendiri demi belajar ilmu kepada ulama. Para petinggi tidak serta-merta memerintahkan ulama untuk datang keistananya. Kisah ini juga menunjukkan betapa mulianya ilmu sampai seorang pemimpin tertinggi harus duduk di bawah sebagaimana rakyat biasa ketika mengaji kepada ulama. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin
