Salah satu ciri khas penduduk Mesir adalah sangat mencintai para Ahli Bait; keturunan Nabi saw. Karakter ini seakan seperti anugerah dari Allah swt yang tidak diberikan kecuali hanya kepada Ahli Mesir. Sejarah telah mencatat, bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu mengagungkan para sayid-sayidah dan tidak pernah menghianatinya.
Saat kejadian Karbala, ketika kelompok Sayid Husain RA diserang dengan sangat keji yang sebelumnya dikhianati oleh penduduk Kufah, Mesir menjadi tempat pelarian para keluarga Nabi saw yang masih tersisa. Mereka sangat menerima kedatangan Ahli Bait dan percaya dengan mencintai Ahli Bait berarti mencintai moyangnya yaitu Baginda Nabi saw.
Jika kita mengunjungi negara Mesir, maka kita akan temui banyak sekali makam-makam Ahli Bait, bahkan kepala mulia Sayid Husain RA berada di tengah kota Kairo, tepatnya di Masjid Husain. Karena penduduk Mesir sangat menerima keluarga Nabi saw. Kebanyakan mereka lebih memilih hidup di Mesir, sehingga di kemudian hari banyak sekali pemakaman para Ahli Bait. Ini menunjukkan bagaimana penduduk Mesir sangat mencintai Ahli Bait, dan para Ahli Bait juga mencintai penduduk Mesir.
Fikrah Perayaan Maulid
Setelah Panglima Jauhar Assiqili menaklukkan Mesir, mulailah Khalifah Muiz li dinillah mengatur sistem tata negara, melakukan banyak pembangunan dan restorasi. Lalu setelah akhirnya semuanya stabil, barulah ia berfikir bagaimana merayu penduduk Mesir agar rasa loyalitas mereka terhadap sang Khalifah tetap terjaga.
Sang Khalifah akhirnya menemukan sebuah cara untuk menarik hati penduduk Mesir. Lantaran cara beragama yang kental dan kecintaan penduduk Mesir terhadap Ahli Bait, maka ia menyimpulkan untuk menarik perhatian mereka dengan mengadakan perayaan-perayaan yang bernuansa Islami, tak terkecuali dengan perayaan maulid. Di samping ia juga sering mengadakan perayaan-perayaan seperti saat hari Asyura, terjadinya pembantaian Husain RA dan Maulid Ali krw dan lainnya.
Pada tataran selanjutnya, tradisi maulidan ini akhirnya berkembang di Mesir secara khusus dan di seluruh bangsa Arab yang lain secara khusus, hingga menyeluruh ke semua lapisan masyarakat Muslim.
Pakar maulid Muhamad Kholid Tsabit merekam jejak inovasi demi inovasi yang dilakukan rakyat Mesir pada zaman sultan Mamalik pertama yakni Dlohir Barquq (1382 M) sampai pada era Raja Faruok awal (1936 M). Jika dilihat dalam catatan bukunya, maka akan ditemukan perayaan maulid pada masa-masa kekhalifahan Islam yang masih eksis itu begitu meriah.
Perayaan maulid pada masa itu biasanya akan dimulai ketika memasuki bulan Rabiulawal, hari pertama sampai hari ke dua belas. Semua orang akan berbondong-bondong menuju halaman istana. Mulai dari masyarakat jelata yang ada di pelosok-pelosok negeri sampai masyarakat yang mempunyai status sosial di masyarakatnya. Lalu mereka akan mulai membuat perkemahan yang sangat besar dan yang besar ini akan diperuntukkan untuk yang Mulia dan para pejabat istana, agamawan istana, dan para penyair yang melantunkan pujian-pujian nabawiah. Ditambah para ulama dan fuqaha, serta para sufi. Orang-orang ini selama perayaan maulid akan berada di perkemahan besar bersama sang Sultan.
Selain perkemahan yang begitu besar, mereka juga membuat perkemahan kecil yang diperuntukkan untuk masyarakat umum untuk tinggal di sana sampai hari ke dua belas. Seiring berjalannya waktu mereka akhirnya tidak sekedar membuat perkemahan biasa, tetapi mereka mencoba menghiasnya dengan pernak-penik lampu khas Mesir yang berwarna kekuningan. Semakin dekat dengan hari ke dua belas, pengunjung istana semakin banyak dan perayaan semakin meriah.
Setiap malamnya perayaan ini akan diisi dengan membaca pujian-pujian kepada Nabi saw, biasanya dibarengi dengan pembacaan kitab sirah nabawiah juga. Lalu setelah itu makan bersama dengan Sultan dan para pejabat lainnya. Lantas dilanjut dengan membagi-bagikan uang dan manisan-manisan maulid.
Setelah acara selesai, sang Sultan akan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan masyarakat akan beristirahat di perkemahan yang sudah mereka buat. Tradisi ini terus berlanjut hingga kini, hanya saja ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan di zaman sekarang, seperti halaman istana yang dipenuhi perkemahan-perkemahan dan tentunya seorang khalifah yang sudi mengikuti acara perayaan maulid.
Perayaan maulid setelah era kekhalifahan
Nuansa maulidan di Mesir saat ini masih sama meriahnya dengan nuansa perayaan maulid yang ada pada waktu kekhalifahan Islam berjaya. Hanya saja, ada perbedaan bentuk, karena beberapa hal ada yang tidak bisa dilaksanakan di era sekarang.
Seperti halnya zaman dahulu, masyarakat Mesir zaman sekarang masih merayakan maulid dengan sangat antusias. Mereka akan mulai merayakannya pada awal bulan Rabiulawal sampai di hari ke dua belas, semakin menuju hari-H acara akan semakin meriah.
Orang-orang dari So’idi (orang pedesaan) akan mulai berdatangan, ada yang menuju kota terdekatnya atau menuju pusat kota Kairo, tepatnya di tempat-tempat pemakaman para Ahli Bait. Lalu mereka akan membuat perkemahan di tepian-tepian masjidnya. Biasanya mereka berangkat dari desa sekaligus membawa peralatan memasak dan perlengkapan lainnya. Mereka akan memasak di situ, nanti ketika mandi ada yang di masjid atau mengungsi di rumah-rumah yang ada di situ.
Malamnya mereka isi dengan pujian-pujian kepada Baginda Nabi saw sampai larut dalam kesyahduan. Selain itu, selama perayaan ini, mereka biasanya akan memotong korban sapi atau unta untuk mereka makan setelah pembacaan maulid. Seringkali mereka juga mengajak orang-orang yang hidup di kota untuk sekedar mampir di perkemahan, seperti para pelajar Al-Azhar yang tidak sengaja melewati perkemahan tersebut. Mereka sangat baik, menyuruh kita mampir lalu makan bersama dan mengobrol hal-hal ringan. Mereka juga biasanya di bulan maulid ini membagi-bagikan secara gratis manisan yang mereka namai “halawiyat maulid”.
Tradisi ini tidak hanya terjadi saat bulan maulid saja, melainkan pada momen-momen tertentu seperti maulid Sayid Husain ra, para wali kutub; syekh Badawi, Dasuki, atau para sufi lainnya juga dirayakan sedemikian meriah.
Tetapi bagi para pelajar yang ada di Al-Azhar, biasanya hanya merayakan dengan pelajar lainnya, di flat masing-masing dengan membaca kasidah burdah dan sirah nabawiah lainnya. Sedangkan Al-Azhar sendiri biasanya mengadakan pengajian pembacaan serta ijazahan kitab-kitab sirah nabawiah bersama para ulama senior Al-Azhar. Saat acara ijazahan ini, semua pelajar dari negara manapun yang sedang belajar di Al-Azhar akan hadir bersimpuh mendengarkan ilmu-ilmu dari para ulama yang hadir saat itu.
Beginilah atmosfer bulan Rabiulawal di negeri Kinanah. Sangat meriah dengan diadakannya perayaan-perayaan maulid rasul di setiap sudut kota. Semua orang berkumpul di pinggiran masjid-masjid yang terdapat makam Ahli Bait, mereka bersenandung pujian-pujian rasul. Di bulan ini mereka jadikan ajang beramal sebanyak-banyaknya layaknya bulan Ramadhan. Mereka akan berkurban sapi, kambing bahkan unta untuk kemeriahan bulan maulid, sampai-sampai mereka menganggap hari maulid rasul sebagai hari raya ketiga setelah Hari Raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha.
Ahmad Reza
Mahasiswa Al-Azhar Mesir, menempuh S1 Jurusan Tafsir
Editor: Muhammad Faizin
