Arina.id – Waktu terus berjalan. Saat ini kita sudah memasuki tahun baru 2026. Tahun 2025 telah berlalu dengan berbagai dinamika yang terjadi dalam hidup kita. Saatnya berhenti sejenak untuk menengok perjalanan 2025 dan mempersiapkan diri untuk menjalani 2026.
Di setiap fase perjalanan hidup, waktu adalah aset berharga yang diberikan Allah kepada kita. Dalam setiap detiknya, waktu memberikan peluang pada kita untuk belajar, berkembang, dan mencapai tujuan.
Allah melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an telah banyak mengingatkan manusia tentang waktu. Dalam Buku ‘Waktu dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains’ Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama RI, disebutkan bahwa ada proses-proses yang yang berjalan sangat singkat dan ada yang sangat panjang hingga beratus atau bermiliar tahun yang terjadi di alam.
Tugas kita mencari besaran kuantitatif tentang rentang waktu proses-proses yang berlangsung di alam semesta sekaligus memahami ayat-ayat Al-Qur’an sebagai panduan dalam memaksimalkan waktu.
Dalam Al-Qur’an, Allah juga menyebut kata waktu secara spesifik. Bahkan Allah menjadikan waktu-waktu tertentu sebagai kata yang dipakai untuk sumpah yang menunjukkan betapa pentingnya waktu. Selain itu, Allah juga menyebut waktu dengan berbagai macam jenis kata.
Berikut 10 ayat Al-Qur’an yang terdiri dari 5 ayat tentang waktu yang digunakan oleh Allah untuk sumpah dan 5 ayat tentang nama-nama dari waktu.
1. ‘Ashr. Surat Al Asr ayat 1-2:
وَالۡعَصۡرِۙ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.”
Dalam Tafsir Kementerian Agama RI kata ‘Ashr’ diartikan sebagai masa. Allah bersumpah dengan masa yang terjadi di dalamnya bermacam-macam kejadian dan pengalaman yang menjadi bukti atas kekuasaan Allah yang mutlak, hikmah-Nya yang tinggi, dan Ilmu-Nya yang sangat luas.
Apa yang dialami manusia dalam masa itu dari senang dan susah, miskin dan kaya, senggang dan sibuk, suka dan duka, dan lain-lain menunjukkan secara gamblang bahwa bagi alam semesta ini ada pencipta dan pengaturnya.
2. Malam. Surat Al Lail ayat 1-2:
وَالَّيۡلِ اِذَا يَغۡشٰىۙ وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ
Artinya: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang.”
Malam yang gelap gulita dan hening menjadi waktu bagi manusia untuk beristirahat dari kepenatan kerja di siang hari. Dalam Tasir Tahlili disebutkan Allah bersumpah dengan malam apabila menutupi, yaitu ketika malam sudah merata menutupi alam ini. Ini adalah waktu isya yaitu ketika cahaya merah sudah hilang di ufuk barat. Waktu itu manusia pada umumnya sudah mengakhiri aktivitasnya, dan ingin istirahat dan pergi tidur.
3. Dhuha. Surat Al-Dhuha ayat 1-2:
وَالضُّحٰىۙ وَالَّيۡلِ اِذَا سَجٰى
Artinya: “Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi.”
Penyebutan waktu dhuha mengisyaratkan bahwa tenggang waktu ketika Nabi tidak menerima wahyu beberapa lama bagaikan malam yang gelap, sedangkan turunnya surat ini setelah itu bagaikan fajar yang menyingsing. Dalam ayat-ayat ini, Allah bersumpah dengan dua macam tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu Ḍuḥâ (waktu matahari naik sepenggalah) bersama cahayanya dan malam beserta kegelapan dan kesunyiannya.
4. Fajar. Surat Al-Fajr ayat 1-2:
وَالۡفَجۡرِۙ وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ
Artinya: “Demi fajar, demi malam yang sepuluh.”
Demi fajar, yaitu awal mula terangnya bumi setelah kegelapan malam sirna. Pada waktu ini manusia memulai aktivitasnya. Allah bersumpah dengan fajar di yaumun-nahr (hari penyembelihan kurban), yaitu tanggal 10 Zulhijah, yang diikuti ayat berikutnya membicarakan “malam yang sepuluh”, yaitu sepuluh hari pertama bulan tersebut. Akan tetapi, ada yang berpendapat bahwa fajar yang dimaksud adalah fajar setiap hari yang mulai menyingsing yang menandakan malam sudah berakhir dan siang siap dimulai.
5. Shubuh. Surat Al-Takwir ayat 18:
وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ
Artinya: “Dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing.”
Dalam ayat ini Allah bersumpah demi subuh apabila fajar mulai menyingsing dan bersinar. Waktu subuh digunakan Allah dalam bersumpah karena waktu ini menimbulkan harapan yang menggembirakan bagi setiap manusia yang bangun pagi karena menghadapi hari yang baru. Saat itu mereka dapat menemukan hajat keperluan hidupnya mengganti yang hilang dan bersiap-siap untuk yang akan datang.
6. Waktu. Surat An-Nisâ’ ayat 103:
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
Artinya: “Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
Sholat adalah suatu kewajiban bagi orang mukmin dan mereka wajib memelihara waktunya yang sudah ditetapkan. Paling kurang lima kali dalam sehari semalam umat Islam melakukan shalat agar selalu ingat kepada Allah, sehingga meniadakan kemungkinan terjerumus ke dalam kejahatan dan kesesatan. Bagi orang yang ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah, waktu lima kali itu dipandang sedikit, maka dia menambah lagi dengan sholat-sholat sunah pada waktu-waktu yang telah ditentukan dalam agama.
7. Ajal. Surat Yunus ayat 49:
قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”
Ayat ini merupakan penegasan Allah bahwa tiap-tiap umat mempunyai ajal yang telah ditentukan waktunya oleh Allah. Ajal itu akan tiba saatnya apabila waktu yang telah ditentukan Allah telah tiba. Waktu tibanya ajal itu termasuk pengetahuan Allah yang tidak dapat diketahui oleh siapapun juga selain-Nya. Maka apabila ajal mereka telah tiba mereka tidak mampu menundanya sesaat pun, dan mereka tidak pula mampu memajukan waktunya dari waktu yang telah ditentukan.
8. Dahr. Surat Al-Jāsiyah ayat 24:
وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ
Artinya: “Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.”
Pada ayat ini Allah menjelaskan keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Menurut anggapan mereka kehidupan itu hanya di dunia saja. Di dunia mereka dilahirkan dan di dunia pula mereka dimatikan dan di situlah akhir dari segala sesuatu, dan demikian pula terjadi pada nenek moyang mereka. Menurut mereka, yang menyebabkan kematian dan kebinasaan segala sesuatu ialah pertukaran masa. Dari pendapat mereka, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka mengingkari terjadinya hari kebangkitan.
9. Amadan. Surat Al-Jin ayat 25:
قُلْ اِنْ اَدْرِيْٓ اَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ اَمْ يَجْعَلُ لَهٗ رَبِّيْٓ اَمَدًا
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat ataukah Tuhanku menetapkan waktunya masih lama.””.
Dalam Tafsir Kementerian Agama RI, ayat ini dan ayat-ayat sesudahnya adalah jawaban atas pertanyaan, “Bilakah datangnya hari yang dijanjikan itu kepada kami.” Allah menyuruh Nabi-Nya agar menyampaikan kepada manusia bahwa hari Kiamat itu pasti akan tiba, tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi, tidak ada yang mengetahui kapan waktunya tiba, apakah dalam waktu dekat ataukah masih dalam jangka waktu yang panjang.
10. Sâ’ah. Surat Al-A’rāf ayat 187:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Kata Sâ’ah dalam ayat ini diartikan sebagai kiamat. Allah dalam ayat ini menegaskan bahwa hanya Dialah yang mengetahui saat terjadinya hari Kiamat itu. Kepastian terjadinya hari Kiamat dan apa yang terjadi pada hari Kiamat sudah banyak dijelaskan oleh Al-Qur’an. Akan tetapi khusus yang berkenaan dengan saat terjadinya hari Kiamat itu tidak ada dijelaskan dalam Al-Qur’an. Hal itu hanya berada dalam ilmu Allah semata-mata.
Editor: Muhammad Faizin
