Etika Berbuka Puasa menurut Imam Al-Ghazali

Etika Berbuka Puasa menurut Imam Al-Ghazali

Arina.id- Tidak lama lagi umat Islam di seluruh dunia akan menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Tentu, untuk meraih kesempurnaan dan pahala yang maksimal, puasa yang dilakukan tidak sebatas untuk menggugurkan kewajiban agama, tetapi juga memperhatikan etika ibadahnya. Salah satu etika yang penting dijaga saat berpuasa ada pada momen berbuka. 

Puasa merupakan ibadah yang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga bertujuan untuk mengendalikan hawa nafsu. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menekankan bahwa berbuka puasa seharusnya tidak dilakukan dengan berlebihan. Mengisi perut secara penuh, meskipun dengan makanan halal, tidak sesuai dengan tujuan puasa. Allah tidak menyukai perut yang penuh meskipun dengan makanan yang dibolehkan.

Salah satu hikmah puasa adalah melemahkan hawa nafsu yang berlebihan. Namun, jika seseorang justru mengganti makanan yang terlewat sepanjang hari dengan porsi yang lebih banyak saat berbuka, maka tujuan ini tidak akan tercapai. Bahkan, kebiasaan orang yang menyimpan dan menyiapkan makanan lebih banyak selama Ramadan berpotensi menggagalkan esensi pengendalian diri dalam ibadah puasa. Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin menyampaikan:

مَعْلُومٌ أَنَّ مَقْصُودَ الصَّوْمِ الْخَوَاءُ وَكَسْرُ الْهَوَى لِتَقْوَى النَّفْسُ عَلَى التَّقْوَى وَإِذَا دُفِعَتِ الْمَعِدَةُ مِنْ ضَحْوَةِ نَهَارٍ إِلَى الْعِشَاءِ حَتَّى هَاجَتْ شَهْوَتُهَا وَقَوِيَتْ رَغْبَتُهَا ثُمَّ أُطْعِمَتْ مِنَ اللَّذَّاتِ وَأُشْبِعَتْ زَادَتْ لَذَّتُهَا وَتَضَاعَفَتْ قُوَّتُهَا وَانْبَعَثَ مِنَ الشَّهَوَاتِ مَا عَسَاهَا كَانَتْ رَاكِدَةً لَوْ تُرِكَتْ عَلَى عَادَتِهَا.

Artinya, “Sudah diketahui bahwa tujuan utama puasa adalah menahan lapar dan mengendalikan hawa nafsu agar jiwa semakin kuat dalam bertakwa. Namun, jika perut dibiarkan kosong sejak pagi hingga malam sehingga rasa laparnya memuncak, lalu tiba-tiba diisi dengan berbagai makanan lezat hingga kenyang, maka kenikmatan makan justru semakin bertambah, keinginan pun semakin kuat, dan dorongan hawa nafsu yang sebelumnya tenang bisa bangkit kembali dengan lebih besar.” (Al-Ghazali, 2018: juz 1, h. 298)

Penjelasan Al-Ghazali ini menekankan bahwa tujuan utama puasa adalah membiarkan perut kosong dan menekan hawa nafsu agar jiwa semakin kuat dalam ketakwaan. Jika seseorang menahan lapar sepanjang hari lalu berbuka dengan berbagai makanan hingga kenyang, maka nafsunya akan semakin meningkat. Akibatnya, dorongan terhadap kenikmatan duniawi semakin besar, dan hawa nafsu yang sebelumnya terkendali menjadi semakin sulit dijinakkan, berlawanan dengan esensi puasa itu sendiri.

Lebih lanjut, Al-Ghazali mengkritik kebiasaan sebagian orang yang menjadikan berbuka sebagai ajang pesta makan. Fenomena ini bertolak belakang dengan esensi puasa yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan. Jika seseorang makan berlebihan saat berbuka, maka ia justru menghidupkan kembali nafsu yang seharusnya ditekan selama puasa. Padahal, tujuan puasa adalah agar manusia lebih peka terhadap kondisi dirinya dan lebih dekat dengan Tuhannya. Al-Ghazali menyampaikan:

وَكَيْفَ يُسْتَفَادُ مِنَ الصَّوْمِ قَهْرُ عَدُوِّ اللَّهِ وَكَسْرُ الشَّهْوَةِ إِذَا تَدَارَكَ الصَّائِمُ عِنْدَ فِطْرِهِ مَا فَاتَهُ ضَحْوَةَ نَهَارِهِ وَرُبَّمَا يَزِيدُ عَلَيْهِ فِي أَلْوَانِ الطَّعَامِ حَتَّى اسْتَمَرَّتِ العادات بأن تدخر جميع الأطعمة لرمضان فيؤكل من الأطعمة فِيهِ مَا لَا يُؤْكَلُ فِي عِدَّةِ أَشْهُرٍ.

Artinya, “Bagaimana mungkin puasa dapat digunakan untuk menundukkan musuh Allah dan mengendalikan hawa nafsu jika saat berbuka seseorang justru mengganti semua makanan yang terlewat sepanjang hari, bahkan menambahkannya dengan berbagai hidangan? Kebiasaan ini semakin mengakar hingga Ramadan menjadi waktu untuk menyimpan dan mengonsumsi makanan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lainnya.” (Al-Ghazali, 2018: juz 1, h. 298)

Puasa sebagai Pengendalian Hawa Nafsu

Dari penjelasan Al-Gazali di atas, dapat dipahami bahwa dengan mengendalikan hawa nafsu melalui kondisi perut kosong saat berpuasa, dorongan untuk berbuat maksiat pun semakin kecil. Sebab, tegas Al-Ghazali, kondisi perut kenyang dapat memicu datangnya hawa nafsu, ketika hawa nafsu tersebut muncul, maka dorongan untuk bermaksiat semakin kuat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad sebagaimana dikutip dalam Ihya ‘Ulumiddin:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ

Artinya, “Sesungguhnya setan itu berjalan dalam diri anak Adam sebagaimana aliran darah, maka persempitlah jalannya dengan lapar."

Hadits ini diperkuat dengan nasihat Nabi kepada Sayyidah ‘Aisyah berikut:

دَاوِمِي قَرْعَ بَابِ الْجَنَّةِ. قَالَتْ: بِمَاذَا؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بِالْجُوعِ.

Artinya, “Rutinlah mengetuk pintu surga.” Aisyah bertanya, “Dengan apa?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Dengan rasa lapar.” 

Dua hadits ini menunjukkan bahwa puasa memiliki peran penting dalam mengekang hawa nafsu dan mencegah dorongan untuk bermaksiat. Dengan menahan lapar, seseorang dapat mengurangi potensi gangguan setan yang berusaha menggoda manusia melalui hawa nafsu. Dalam keadaan perut kosong, godaan untuk melakukan perbuatan tercela menjadi lebih lemah, sehingga seseorang lebih mudah menjaga diri dan meningkatkan ketakwaannya kepada Allah.

Selain itu, puasa juga melatih kesabaran dan kedisiplinan dalam mengendalikan diri. Nabi menekankan bahwa lapar dapat menjadi sarana spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana yang beliau nasihatkan kepada Sayyidah ‘Aisyah. Dengan membiasakan rasa lapar, seseorang tidak hanya menjaga diri dari maksiat, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk lebih mendekat kepada Allah serta memperoleh ketenangan batin dan kejernihan hati.

Di bulan Ramadan tahun ini, dan tahun-tahun yang akan datang, semoga kita semua bisa menjaga etika dalam berbuka puasa. Jangan sampai karena menahan lapar seharian, saat magrib sudah tiba, kita seakan lupa diri esensi puasa yang telah kita lakukan. Bersantap hidangan terlalu kenyang, akibatnya memberi ruang bagi hawa nafsu pada diri kita, sehingga ibadah terasa malas atau justru dorongan maksiat semakin kuat.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
logo