Arina.id - Seringkali kita menyaksikan pemberitaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang mengatasnamakan agama dan dijadikan tameng pembenaran, sehingga beberapa kejadian misalnya pemukulan terhadap istri, anak, pembantu, saudara, orang tua terkesan dinormalisasi.
Terlebih banyak peristiwa kekerasan yang berkedok mengikuti akhlak Rasulullah. Akhlak yang mana? Padahal sudah jelas bahwa Rasulullah memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan bagi umatnya.
Memang tidak semudah membalikkan tangan untuk meneladani sosok Rasulullah dalam aspek kehidupan dan kesehariannya, akan tetapi prinsip yang ditanamkan oleh Rasulullah terletak pada akhlak yang mulia. Rasulullah menyampaikan:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ
Artinya: "Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Baihaqi)
Pernyataan Rasulullah ini mendapat testimoni dari Anas bin Malik, sahabat Nabi, yang menjadi pembantu (khadam) beliau :
قال انس بن مالك رضي الله عنه: خدمتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم عشرَ سنين ، فما سبَّني سبَّةً قط ، وَلاَ ضَرَبَنِي ضَرْبَةً، وَلاَ انْتَهَرَنِي، وَلَا عبَسٌ فِي وَجْهِي، وَلَا أَمَرَنِي بِأَمْرٍ فَتَوَانَيْتُ فِيهِ فَعَاتَبَنِي عَلَيهِ، فَإِنْ عَاتَبَنِي أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ قَالَ : دَعُوهُ ، فَلَوْ قُدِّرَ شَيءٌ كَانَ
Artinya: "Aku ikut membantu Nabi di rumahnya selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata-kata kasar, tidak pernah menyakitiku, tidak pernah membentakku, tidak pernah menampakkan wajah cemberut di hadapanku, dan bila menyuruhku untuk melakukan sesuatu namun aku terlambat mengerjakannya, beliau tidak pernah memarahiku. Bahkan bila ada salah seorang keluarganya memarahiku, beliau mencegahnya sambil mengatakan : “Biarkan saja, tidak apa-apa. Bila Allah menghendaki sesuatu, itu pasti akan terjadi." (Dalail Nubuwwah, Abi Nuaim al-Asfahani)
Sikap itu bukan hanya terhadap sahabatnya yang Muslim, melainkan juga terhadap non-Muslim. Abu Hurairah, berkata:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً
Artinya: "Dari Abu Hurairah berkata: Wahai Rasulullah, doakanlah celaka atas orang-orang musyrik (yang menyakitimu). Beliau menjawab: “Sungguh aku tidak diutus Tuhan untuk melaknat (mengutuk), akan tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat (kasih)." (HR. Muslim)
Meskipun Rasulullah tergolong manusia biasa yang berpotensi memiliki sifat marah, akan tetapi tingkah laku dan etikanya jauh berbeda dengan kita. Maka dari itu, Beliau sangat pantas dijadikan panutan hidup termasuk dalam urusan rumah tangga sekalipun.
Wajar jika dalam salah satu bait syiir disebutkan:
محمد بشر لا كالبشر بل هو كالياقوت بين الحجر
Artinya: : "Nabi Muhammad adalah seorang manusia biasa, tapi bukan seperti manusia biasa pada umumnya. Bahkan Nabi Muhammad bagaikan permata yang indah diantara batu-batu kerikil."
Oleh karena itu, dalam sejumlah riwayat hadits digambarkan bahwa Rasulullah adalah sosok ideal yang bisa diteladani kehidupannya, penuh santun baik ucapan maupun tingkah lakunya.
Sikap Rasulullah terhadap pembantu Muslim maupun orang non-Muslim menjadi sebuah pelajaran penting untuk berakhlak mulia kepada siapapun. Beliau tidak pernah membentak, menggunakan kekerasan, apalagi melaknat orang lain. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin
