Khidir dan Rahasia Air Kehidupan

Khidir dan Rahasia Air Kehidupan

Air kehidupan menjadi simbol universal dari multi-spiritualitas dunia. Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria, penduduk wilayah Palestina bagian utara yang dulunya bagian dari Kerajaan Israel, sering disebut sebagai percakapan tentang air kehidupan (Yohanes 4:1-42). Kitab Wahyu (21:6; 22:1), kitab terakhir dari Perjanjian Baru, juga menyinggung air kehidupan dengan narasi "Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan". 

Dalam lanskap Islam, para sufi seperti Jalaluddin Rumi dalam Al-Matsnawi al-Maknawi sering membicarakan tema air kehidupan, tentu saja berkaitan erat dengan isyarat-isyarat al-Quran. Pun, serat Bima Suci di Nusantara berbicara tentang pencarian Bima akan air kehidupan (toya amerta).

Di antara empat elemen dasar di alam semesta, air dengan beragam bentuknya adalah yang paling banyak disebut dalam al-Quran. Secara harfiah, kata ‘air’ dalam al-Quran tentu merujuk kepada elemen alamiah (material fisik) yang murni dan menyegarkan itu, tetapi ia juga punya makna simbolis. Syekh Dawud al-Qaysari menyebut bahwa Ibn ‘Abbas menafsir ‘air’ dalam ayat “Dan Kami turunkan air dari langit” (al-Mu’minun [23]: 18) sebagai ‘pengetahuan’. Mengutip ayat “Dia turunkan air dari langit, kemudian lembah-lembah mengalir sesuai dengan ukurannya” (al-Ra‛d [13]: 17), Imam al-Ghazali mengatakan ‘air’ yang dimaksud adalah pengetahuan dan wahyu, sedangkan ‘lembah’ adalah kalbu.

Satu lagi makna simbolis ‘air’, kali ini simbol metafisik, yakni Materia Universal (al-hayula al-kulliyyah) atau Nafas sang Mahakasih (Nafas al-Rahman). Yang dimaksud adalah substansi potensial (al-jawhar al-hayulani) yang pasif dan menerima segala macam forma eksistensial, sebagaimana nafas manusia adalah bahan dasar untuk segala bentuk kata dan kalimat. Makna simbolik inilah, kata Syekh Dawud, yang dimaksud dengan ‘air’ dalam ayat “Dan adalah singgasana-Nya di atas air” (Hud [11]: 7). Ayat “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama” juga mengisyaratkan pokok ini (al-Ra‛d [13]: 4).


Nafas sang Mahakasih itu, sebagaimana namanya, berasal dari Hadirat sang Mahakasih (al-hadrah al-rahmaniyyah) yang merupakan asal-usul kehidupan. Karena itu, Materia Universal itu juga hidup. Dan karena ia mengalir ke segala sesuatu, maka segalanya pun juga hidup, meski pada sebagian kehidupan itu tampak, pada sebagian lain tersembunyi. Pokok terakhir ini barangkali terlihat berlawanan dengan pemahaman sehari-hari. Namun demikian, para sufi mendasarkan pokok tersebut atas pengalaman ruhani mereka dan pada isyarat dalam ayat “Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” (al-Isrā’ [17]: 44). Tidak mungkin sesuatu menghaturkan puja-puji kepada Tuhan, kata para sufi berargumentasi, jika ia tidak hidup.

Dengan demikian, kehidupan bertingkat-tingkat dan membentuk suatu Mata Rantai Agung Kehidupan (The Great Chain of Life): kehidupan indrawi-fisik, kehidupan psikis, kehidupan kalbu, kehidupan ruhani, dan kehidupan intelektual.

Lalu apa kaitan antara makna ‘air’ dan kehidupan? Sebagaimana sudah disebut, Nafas sang Mahakasih, sang ‘air metafisik’ itu, membuat segala sesuatu diberkati dengan kehidupan sesuai dengan tingkat hierarki wujud. Pun setiap manifestasi ‘air metafisik’ itu dalam setiap hierarki wujud juga menyalurkan kehidupan. “Kami ciptakan dari air setiap yang hidup,” kata al-Quran memberikan isyarat (al-Anbiya’ [21]: 30). Dalam tingkat wujud fisik, air membuat tetumbuhan, binatang, dan tubuh manusia hidup.

(Lukisan karya: Mustafa Ruhullah/ Instagram sejiwasemesta)

Khusus untuk jiwa dan kalbu manusia, air kehidupan yang sejati dan menghubungkannya langsung dengan sang Mahahidup adalah air ilmu laduni, air pengetahuan yang Tuhan karuniakan langsung tanpa perantara kepada seorang hamba, dan tentunya tidak sembarang hamba, melainkan kepada hamba yang jiwanya suci dari kotoran-kotoran ego, karena hanya yang suci bisa mewadahi yang suci tanpa mengotorinya. Orang yang terhalang dari air kehidupan ini sejatinya mati, meski raganya hidup. “Kau tidak dapat memperdengarkan orang-orang mati (al-Naml [27]: 80; al-Rum [30]: 52),” tegas al-Quran kepada Nabi tentang orang-orang yang berpaling menolaknya. Mereka secara ragawi hidup, tetapi secara ruhani mati karena menolak jalan lurus yang mengantarkan kepada air kehidupan.

Khidir telah minum dari telaga air laduni. Dia dikaruniai kehidupan yang abadi, karena air yang dia minum mentransformasi secara alkemis-ruhani bukan hanya jiwanya, tetapi juga raganya. Meminumnya, Balya’ menjadi Khidir, ‘sang manusia hijau’, yang kehadirannya semata mampu mengairi dan menghidupkan segala yang mati di sekitarnya.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Wawan Kurniawan
Dosen Ushuluddin UIN Jakarta


Editor: Muhammad Zunus
logo