Arina.id - Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak muda. Hampir setiap momen hidup diabadikan dan dibagikan dalam bentuk foto, video, atau story. Namun di balik keseruan itu, muncul fenomena insecure, yaitu perasaan tidak percaya diri yang lahir dari kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian atau kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di layar.
Scrolling tanpa henti membuat banyak orang tanpa sadar menilai dirinya dengan standar orang lain. Melihat teman yang sukses, wajah glowing, liburan ke luar negeri, atau punya pasangan ideal, membuat sebagian anak muda merasa gagal, tertinggal, dan tidak layak. Padahal, apa yang tampak di media sosial hanyalah fragmen terbaik dari hidup seseorang, bukan keseluruhan realita.
Dalam Islam, gejala semacam ini sudah lama dikenali dan bahkan diberi solusi. Dalam satu hadits dijelaskan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ. قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ: عَلَيْكُمْ
Artinya, "Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Lihatlah kepada orang yang keadaannya di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada kalian." Abu Mu'awiyah berkata: "Peganglah sabda ini (amalkanlah)." (HR Muslim)
Hadits ini menganjurkan kita untuk melihat ke bawah dalam urusan dunia. Jika kita terlalu sering melihat ke atas, yaitu mereka yang lebih kaya, lebih tampan, lebih sukses, maka nikmat yang kita miliki akan terasa kecil. Akhirnya, kita tidak mensyukurinya dan malah mengeluh. Itulah sebab utama munculnya rasa minder dan perasaan selalu tidak cukup. Berkaitan dengan hadits di atas, Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan:
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ وَغَيْرُهُ: هَذَا حَدِيثٌ جَامِعٌ لِأَنْوَاعٍ مِنَ الْخَيْرِ؛ لِأَنَّ الإِنْسَانَ إِذَا رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا، طَلَبَتْ نَفْسُهُ مِثْلَ ذَلِكَ، وَاسْتَصْغَرَ مَا عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةِ اللهِ تَعَالَى، وَحَرَصَ عَلَى الِازْدِيَادِ لِيُلْحِقَ بِذَلِكَ أَوْ يُقَارِبَهُ. هَذَا هُوَ الْمَوْجُودُ فِي غَالِبِ النَّاسِ. وَأَمَّا إِذَا نَظَرَ فِي أُمُورِ الدُّنْيَا إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ فِيهَا، ظَهَرَتْ لَهُ نِعْمَةُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ، فَشَكَرَهَا، وَتَوَاضَعَ، وَفَعَلَ فِيهِ الْخَيْرَ
Artinya, "Ibnu Jarir dan yang lainnya berkata: Hadits ini mencakup banyak kebaikan. Sebab, ketika seseorang melihat orang yang lebih unggul darinya dalam urusan dunia, jiwanya terdorong ingin seperti itu, lalu ia menganggap kecil nikmat Allah yang ia miliki, dan ia menjadi rakus ingin menambah (kenikmatan dunia) agar bisa menyamai atau mendekatinya. Itulah yang lazim terjadi pada kebanyakan orang. Namun, bila ia memandang orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia, maka ia akan menyadari betapa besar nikmat Allah atas dirinya. Ia pun bersyukur, menjadi rendah hati, dan terdorong untuk berbuat baik." (An-Nawawi, 1930, juz 18, h. 97)
Dari penyampaian An-Nawawi ini dapat dipahami bahwa kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan mereka yang lebih unggul dalam urusan dunia adalah sifat alami, namun bisa berdampak negatif pada spiritualitas dan kejiwaan. Ketika seseorang melihat ke atas, ia terdorong mengejar hal yang sama, hingga nikmat yang ia miliki tampak kecil. Akibatnya, ia terjebak dalam kerakusan dan hilang rasa syukur, karena terus merasa kurang dari orang lain.
Sebaliknya, jika seseorang membiasakan diri melihat orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia, ia akan lebih mudah menyadari betapa besar nikmat Allah yang telah ia terima. Dari sini tumbuh rasa syukur, kerendahan hati, dan keinginan untuk berbuat baik. Inilah sikap mental yang sehat dan Islami dalam menghadapi kehidupan modern, termasuk saat terpapar realitas semu di media sosial yang memicu rasa tidak percaya diri.
Melihat pencapaian positif orang lain di media sosial sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah. Justru hal itu bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk bergerak lebih maju, selama ditanggapi dengan hati yang lapang dan pikiran yang sehat. Ketika melihat seseorang sukses berdagang, misalnya, kita bisa terdorong untuk lebih giat bekerja. Jika melihat orang dermawan, kita bisa terinspirasi untuk lebih sering berbagi kepada sesama.
Namun, agar tidak berubah menjadi rasa iri yang merusak, motivasi itu harus diarahkan pada tujuan yang benar. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa iri yang dibenarkan hanyalah terhadap orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah, atau yang mengamalkan serta mengajarkan ilmu. Jadi, ketika melihat kebaikan orang lain di media sosial, tanyakan pada diri, “Apakah aku ingin seperti mereka demi dunia semata, atau demi kebaikan yang bernilai di sisi Allah?” Dalam satu hadits diriwayatkan:
وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا، فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ، فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya, "Dari Abu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua hal: (pertama) seorang laki-laki yang diberi harta oleh Allah, lalu ia menghabiskannya di jalan yang benar; dan (kedua) seorang laki-laki yang diberi hikmah oleh Allah, lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya." (Hadits disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim)
Kesimpulannya, daripada tenggelam dalam perasaan insecure akibat melihat pencapaian orang lain di media sosial, mari ubah sudut pandang kita. Alih-alih membandingkan nasib, lebih baik kita membandingkan amal. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai pemicu kebaikan, bukan penyebab keluh kesah. Dalam pandangan Islam, rasa iri hanya layak diarahkan pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Itulah iri yang mendidik hati, bukan yang melukai jiwa.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi
