Nyanyian Imagine di Sidang Tahunan MPR

Nyanyian Imagine di Sidang Tahunan MPR

Imagine all the people
Sharing all the world
You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will live as one
(Imagine, John Lennon)

 
Situasi tak biasa terjadi saat sidang tahunan MPR, Jumat (15/8/2025). Terdengar nyanyian dari bibir Ketua DPR RI, Puan Maharani. Lagu yang dipilih tak tanggung-tanggung, Imagine (1971) gubahan John Lennon. Lagu yang diyakini sebagai himne perdamaian dunia.

Ia menyelipkan sepenggal lagu legend itu di tengah pidatonya yang membaca catatan. Meski tak begitu merdu, dan tak sesuai nada lagu aslinya, tindakan Puan patut diapresiasi. Ia memberi sebuah angin segar untuk melihat lagu tak hanya sebagai hiburan tetapi alat untuk menyatakan keresahan, masalah, dan harapan.

Lagu memang memiliki daya begitu kuat untuk menyampaikan berbagai maksud tanpa membuat pendengarnya merasa diperintah atau digurui. Melalui lirik dan melodi, lagu mampu menciptakan suasana emosional yang intim dan memudahkan proses penyampaian pesan.

Jika boleh memberi usul, mungkin setelah John Lennon, lagu milik Iwan Fals bisa dijadikan daftar nyanyian selanjutnya. Pimpinan DPR bisa spesifik memilih lagu bertajuk Surat Buat Wakil Rakyat (1987) supaya lebih kontekstual dengan para pendengar. Selain liriknya yang realistis, melodinya sangat pas untuk dinyanyikan bersama-sama, layaknya paduan suara.

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tau nyanyian lagu setuju
 

Konon, lagu ini diciptakan sebagai bentuk kritik terhadap kinerja anggota DPR yang dianggap tidak menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya dengan baik. Lagu karya Iwan Fals ini bisa menjadi pengingat agar para dewan tak lupa fungsi dan tugasnya seperti yang diamanahkan dalam undang-undang: mengawasi kinerja pemerintah untuk memastikan pelaksanaan undang-undang dan kepentingan rakyat. 

Nyanyian di Sekolah
Lagu tak hanya ada di Gedung DPR tetapi juga di sekolah. Semasa SD, kebiasaan menyanyi sebelum pelajaran dimulai pernah saya alami. Beramai-ramai para murid diminta menyanyi lagu Indonesia Raya, Garuda Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa, dan beberapa judul lainnya. Kegiatan itu menjadi kewajiban yang tak boleh ditinggal. 

Konon, menyanyi sebelum belajar bisa meningkatkan nasionalisme pada diri anak-anak. Saya mulai berpikir, gagasan soal menumbuhkan nasionalisme memang penting tapi saya rasa lebih penting lagi membuka kesadaran anak untuk berani dan mampu berpikir kritis.

Gagasan nasionalisme dahulu diperlukan untuk menguatkan rasa cinta pada tanah air, mengusir para penjajah lewat jalan intelektual maupun fisik. Kini, Indonesia sudah merdeka secara simbolis. Tapi esensi dari kemerdekaan yang sesungguhnya masih terasa di kejauhan.

Kemerdekaan sering kali hanya dimiliki segelintir pihak. Rakyat masih banyak merasakan penderitaan seperti pada zaman penjajahan. Janji-janji palsu para pemimpin, pembengkakan pajak, pendidikan yang mahal, ketimpangan akses, dan korupsi, masih tumbuh begitu subur.

Semua masalah itu tak bisa terselesaikan hanya dengan sikap nasionalisme, mencintai tanah air dengan pasrah dan patuh. Justru, diperlukan sebuah upaya untuk membuat masyarakat menjadi kritis dan punya keberanian bersuara. Upaya yang bisa dilakukan bisa dengan nyanyian, tapi memilih judul lagu yang menggelitik anak  agar mampu berpikir secara kritis terutama soal masalah di negaranya, spesifik pada pendidikan.

Di sekolah, para guru bisa memperkenalkan lagu Pink Floyd berjudul Another Brick in the Wall (1979). Selain musiknya yang penuh semangat liriknya juga amat tajam menarik pendengar untuk jeli melihat masalah dalam pendidikan, terutama objektifikasi anak-anak dalam ruang kelas. Melalui liriknya yang sarkas Pink Floyd mengajak pendengarnya tidak hanya bernyanyi tetapi juga berpikir.

We don't need no education
We don't need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teachers, leave them kids alone
Hey, teacher, leave us kids alone
All in all, you're just another brick in the wall
All in all, you're just another brick in the wall

Nyanyian di Indonesia
Sejarah Indonesia punya banyak cerita soal lagu yang menyangkut biografi tokoh, salah satunya WR Supratman. Beliau pernah membuat sebuah lagu yang hampir mengantarkannya ke jeruji besi. Pihak Belanda merasa terganggu dengan lirik dan musik buah pikirnya. 

Lagu itu dinilai mendukung Jepang dan berpotensi mengganggu kestabilan. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1938. Lirik tak begitu tajam, tapi bisa menarik pendengar makin mencintai tanah airnya.

Matahari sudah terbit
Putra ibu lekas bangun
Lihat cahaya yang mulia
Lekas bangun, lekas bangun

Hai Putraku yang berbudi
Putra ibu yang sejati
Mari lihat cahaya yang mulia
Indonesia tanah airku

 
Lama setelah merdeka, tepatnya tahun 2025, Indonesia tetap heboh persoalan lagu. Namun kali ini tidak berkaitan dengan kolonialisme melainkan bangsa sendiri. Pencekalan sebuah lagu yang dibuat band Sukatani pernah terjadi. Konon, personel band tersebut mendapatkan intimidasi karena lagunya dinilai mengusik sebuah institusi pemerintah.
 
Lagu itu bertajuk Bayar, Bayar, Bayar (2023), Isinya mengkritik keburukan sistem kepolisian di Indonesia. Liriknya berupaya menguliti korupsi yang merajalela di kepolisian. Meski dibantah oleh pihak yang dituju dalam lagu itu, masyarakat ramai-ramai membenarkan bahwa yang dialami di lapangan memang demikian adanya.
 
Mau korupsi, bayar polisi
Mau gusur rumah, bayar polisi
Mau babat hutan, bayar polisi
Mau jadi polisi, bayar polisi
Aduh, aduh, ku tak punya uang
Untuk bisa bayar polisi

 
Pada akhirnya, lagu tak hanya menjadi sebuah hiburan tapi juga menjadi media kesadaran, pembelajaran, dan perlawanan. Tempat di mana lagu dinyanyikan juga kerap menyimpan cerita tersendiri. Sepanjang sejarah, lagu menjadi salah satu saksi penting yang turut merekam kondisi zaman.


Editor: Kendi Setiawan
logo