Sebelum Anak Terluka, Belajarlah Menjadi Orang Tua

Sebelum Anak Terluka, Belajarlah Menjadi Orang Tua

Sepanjang perbincangan mengenai masalah pendidikan, biasanya ruang diskusi tidak pernah absen menyebut Paulo Freire. Kita mengenal tokoh itu sebagai penggagas pendidikan yang membebaskan. Freire menyoroti dominasi pendidik dalam pembelajaran dan posisi murid yang ditempatkan layaknya kendi kosong. Gagasan itu kemudian lebih dikenal dengan kritik pembelajaran gaya bank. 

Pendidikan gaya bank memposisikan anak layaknya benda mati yang tidak tahu apa-apa sehingga membutuhkan petunjuk orang dewasa secara penuh. Model ini amat sering ditemukan dalam ruang kelas. Akibatnya, justru anak menjadi tidak aktif, takut untuk berpendapat, dan bingung dengan dirinya sendiri.

Ternyata, bukan hanya sekolah yang menyuburkan culture silent pada diri anak. Keluarga juga bisa menjadi asal muasal pendidikan gaya bank. Relasi kuasa antara orangtua dan anak sering menjadi celah munculnya pola pendidikan yang menempatkan anak sebagai objek. Kondisi ini bisa dipicu karena kuatnya keyakinan masyarakat yang mempercayai tugas orang tua adalah kodrat. Seolah-olah, menjadi ibu atau ayah adalah peran otomatis yang bisa dilakukan dengan benar tanpa perlu belajar.

Padahal, keyakinan itu keliru. Sebelum menjadi orang tua, ada baiknya mempertimbangkan dengan matang hal-hal yang terkait dengan kehidupan anak. Anak tidak pernah memilih terlahir dari siapa, tapi sebagai calon orang tua, tentu kita punya pilihan dan kesadaran penuh untuk memilih kehidupan seperti apa yang akan diberikan kepada anak.

Sudah terlalu banyak angka fatherless dan motherless yang muncul. Begitu menggunung angka depresi anak karena ketidakpedulian orang tua. Ratusan anak juga terlantar tanpa kejelasan.

Data Susenas 2021 menyebutkan dari 30,83 juta anak usia dini di Indonesia, sekitar 2,67% atau 826.875 anak tidak tinggal bersama ayah dan ibu kandung. Selain itu, 7,04% atau 2.170.702 anak hanya tinggal bersama ibu kandung. Ini berarti sekitar 2.999.577 anak usia dini kehilangan sosok ayah. Data dari United Nations Children's Fund (UNICEF) tahun 2021 juga menyebutkan sekitar 20,9% anak-anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah.

Merujuk dari kegelisahan di atas, beberapa poin berikut mungkin bisa dijadikan referensi parenting sebelum menjadi orang tua. Kita boleh memodifikasi atau merubahnya seturut dengan tujuan yang diharapkan. Paling penting, anak ditempatkan dalam posisi sebagai subjek, tak sekedar objek yang dianggap tanpa kehendak.

Anak sebagai Individu Merdeka
Ada sebuah tulisan sangat menarik yang menyadarkan para calon orangtua untuk menghargai anak sebagai individu merdeka. Tulisan itu termuat dalam buku Sang Nabi (2024) gubahan Kahlil Gibran:

“Anakmu bukanlah milikmu/ Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri/ Lewat engkau mereka lahir, tapi bukan dari engkau/ Mereka ada padamu, tapi bukan dari engkau/ Mereka ada padamu, tapi bukan kepunyaanmu/

Berikan mereka kasih sayangmu/ Tapi, jangan sodorkan bentuk pikiranmu/ Sebab pada mereka ada dalam pikiran tersendiri/ Patut kau berikan rumah untuk raganya/ Tapi, tidak untuk jiwanya/ Sebab jiwa mereka adalah penghuni  rumah masa depan/Yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpi/

Kau boleh berusaha menyerupai mereka/Namun, jangan membuat mereka menyerupaimu/ Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur/ Pun tidak tenggelam di masa lampau/

Setiap orang tua yang telah melahirkan dan mengasuh seorang anak tentu tergiring untuk merasa memiliki tubuh dan jiwa anak seutuhnya. Ternyata, membiarkan rasa itu terus tumbuh  tidak baik. Orang tua hanyalah jembatan yang berusaha menghubungkan  anak dengan luar dirinya. Kesadaran ini dapat menghindarkan orang tua dari sikap posesif dan otoriter dalam pola pengasuhan.

Memutus Trauma pada Anak
Orang tua tanpa sadar sering menularkan anak-anak muatan perasaan depresi dan rasa takut. Biasanya semua itu terjadi begitu saja. Takut kecoa, tabu seksual, perilaku terhadap makanan, takut pada kematian dan serentetan hal lainnya.

Biasanya trauma yang terwariskan terjadi lewat kebiasaan yang terus diulang dari generasi ke generasi. Di buku Apa yang Diajarkan oleh Anak Kita (2002), penulis menceritakan bagaimana penularan masa lalu terjadi pada anak dalam hal-hal yang sederhana dan kerap kita anggap sebagai kewajaran:

Saya sedang memanjat tebing bersama Emilio (anak penulis). Sementara saya tertatih-tatih di antara bebatuan, ia melompat-lompat, luwes dan ringan langkah. Saya bisa membayangkannya terjatuh, terluka, tergores-gores, tapi saya diam saja karena tidak sependapat dengan orangtua yang tak henti-hentinya memperingatkan anak mereka, “Awas!”, “Jangan pegang itu!”. Kata-kata tersebut adalah teknik paling jitu untuk menciptakan anak-anak penakut dan penggugup.

Untuk sementara, saya masih bisa mengendalikan diri. Tapi, ketika Emilio sampai di tebing paling berbahaya, segenap kecemasan yang sudah terakumulasi meledak dalam sebuah teriakan, “Stop! Awas!” Saya masih bisa melihat adegan itu diputar ulang dalam gerak lambat. Dalam tubuh Emilio, yang sampai detik itu masih bekerja dengan sangat baik, terjadi konsleting. Tubuhnya menegang, ia kehilangan kesimbangan, terjatuh, dan menangis. Bukan hanya karena kesakitan, saya yakin, tapi karena saya memindahkan ketakutan saya sendiri kepadanya.

Sebenarnya, kalau pun Emilio benar-benar menghadapi risiko, saya akan memperingatkannya. Tapi, ia tidak dalam bahaya. Tetap saja saya senewen, seperti orang-orang dewasa di sekitar saya memperlakukan saya dulu di masa kecil. Saya tersekap dalam penjara kegelisahan. Kali ini saya memindahkannya kepada Emilio.

Cerita ini menyingkap rasa takut orangtua yang tanpa sadar memindahkan trauma ke dalam diri anak. Pemindahan terjadi melalui rasa takut, khawatir, ketidak percayaan diri, dendam dan sederet perasaan lainnya. Berdamai pada diri sendiri atas segala emosi yang telah dirasakan sebelum memiliki anak, adalah sebuah gaya parenting yang perlu untuk dicoba.

Memperhitungkan Kesiapan Finansial
Kita mungkin sering mendengar petuah “Banyak anak, banyak rezeki." Kalimat itu dibumikan oleh banyak orang untuk mendorong seseorang lekas memiliki anak. Seolah, dengan hadirnya anak maka otomatis akan datang rezeki yang mengiringinya.

Menurut saya, kalimat tersebut layak disebut logical fallacy, sesat pikir atau penalaran yang kurang tepat. Akan lebih masuk akal jika diubah menjadi “Banyak rezeki, banyak anak.” Jadi, siap dahulu secara finansial baru berani memiliki anak.

Kenyataannya, memilih untuk memiliki anak berarti harus siap bertanggung jawab menyiapkan parenting yang baik, sandang, pangan, dan papan bagi si buah hati. Semua itu tentu membutuhkan rencana dan perhitungan finansial yang matang.

Kalimat “Banyak anak, banyak rezeki” seolah menempatkan anak terlebih dahulu sebelum kebutuhanya, mudahnya begini: Nekat punya anak dulu, kebutuhannya nanti menyusul. Anggapan ini sama saja menempatkan anak layaknya kocokan dadu atau proses perjudian.

Ketika anak lahir, banyak orang tua absen memenuhi kebutuhan anak baik secara psikologis maupun materi. Hal itu tentu memunculkan efek domino tidak hanya pada diri anak tapi juga kenyamanan keluarga hingga masyarakat. Jadi, perhitungan soal finansial sangat penting untuk kita persiapkan terlebih dahulu ketimbang berjudi dengan nasib.

Tiga poin di atas hanyalah pengantar bagi para calon orangtua yang berkeinginan memiliki anak. Ada berbagai aspek lain yang bisa terus dipelajari dan disesuaikan dengan konteks masing-masing. Pada akhirnya, menjadi orang tua adalah sebuah upaya belajar yang tidak pernah usai, sejak sebelum maupun sesudah memiliki anak. 


Editor: Kendi Setiawan
logo