Ada yang selalu menarik setiap kali Iduladha datang. Bukan hanya gema takbir. Bukan hanya sapi dan kambing yang mulai berdatangan ke halaman masjid. Tetapi wajah-wajah yang bekerja dalam diam.
Perempuan-perempuan yang sejak pagi menanak nasi. Membungkus daging. Menyiapkan bumbu. Mengatur pembagian. Menyapu halaman. Menyiapkan teh, kopi, atau penganan untuk panitia kurban. Dan sering kali, pulang paling akhir.
Mereka jarang berdiri di depan mikrofon. Nama mereka kadang tak disebut dalam laporan kegiatan. Tetapi hampir semua peristiwa sosial yang besar berdiri di atas tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak suara. Iduladha salah satunya.
Kita sering memahami Iduladha sebagai peristiwa besar tentang ketundukan Nabi Ibrahim. Tentang kesabaran Nabi Ismail. Tetapi ada sosok lain yang sering hadir lebih sunyi dalam kisah itu: Siti Hajar. Perempuan yang ditinggalkan di lembah tandus. Tanpa pohon. Tanpa sumber air. Tanpa keramaian. Hanya bersama seorang bayi.
Dalam banyak kisah besar peradaban, perempuan kerap hadir bukan sebagai pusat sorotan. Tetapi pusat ketahanan.
Siti Hajar tidak diberi kemudahan. Ia diberi keadaan yang mengharuskannya kuat. Ketika air habis. Ketika bayi menangis. Ketika ketidakpastian berdiri di depan mata.
Ia tidak menyerah pada keadaan. Ia bergerak. Berjalan cepat. Berlari. Dari Shafa ke Marwah. Tujuh kali. Bukan karena ia tahu di mana air berada. Tetapi karena ia percaya ikhtiar tidak boleh berhenti. Dan sejarah mencatat langkah seorang ibu itu menjadi bagian penting dalam ibadah umat Islam hingga hari ini.
Allah mengabadikan tempat perjuangan itu dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syiar Allah…” (QS Al-Baqarah: 158).
Ada sesuatu yang indah di sana. Jejak seorang perempuan. Langkah seorang ibu. Kecemasan seorang manusia. Diabadikan menjadi bagian dari jalan spiritual umat Islam sepanjang zaman.
Ada pesan yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Bahwa keteguhan sering lahir bukan ketika hidup tenang. Tetapi ketika keadaan sedang tidak mudah. Hari ini, banyak perempuan menjalani peran yang tidak ringan. Mengurus rumah. Bekerja. Mengasuh anak. Menjaga orang tua. Menjadi tempat pulang bagi banyak persoalan.
Dan sering kali melakukan semuanya dalam diam. Tidak sedikit perempuan yang setiap hari menyimpan lelahnya sendiri.
Tetapi tetap memastikan orang lain baik-baik saja. Mungkin karena itu kisah Siti Hajar selalu terasa hidup. Karena ia bukan sekadar cerita masa lampau. Ia berjalan bersama perempuan-perempuan hari ini. Di dapur sederhana. Di ruang kerja, pasar, sekolah, pesantren, atau rumah-rumah kecil yang setiap hari diam-diam menjaga kehidupan tetap menyala.
Iduladha juga mengajarkan satu hal penting bahwa pengorbanan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar dan terlihat.
Kadang ia hadir dalam bentuk waktu yang diberikan. Tenaga yang dicurahkan. Kesabaran yang dipelihara. Dan cinta yang terus diberikan meski sering tak mendapat tepuk tangan.
Di tengah dunia yang semakin sibuk, ada pekerjaan-pekerjaan yang tidak tercatat dalam angka ekonomi. Tetapi menopang kehidupan. Menguatkan keluarga. Menjaga hubungan sosial. Merawat nilai. Mengajarkan empati.
Al-Qur’an memberikan penghormatan yang begitu indah terhadap kerja-kerja kebaikan manusia. Bukan berdasarkan siapa yang paling terlihat. Tetapi siapa yang terus menebar manfaat. “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS An-Nahl: 97)
Barangkali itu pula yang setiap hari dilakukan banyak perempuan. Bekerja tanpa sorotan. Mengabdi tanpa banyak pujian. Tetapi diam-diam menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi sekelilingnya.
Perempuan-perempuan di rumah, di majelis taklim, di organisasi sosial, di Fatayat, di lingkungan masyarakat. Mereka menjadi penjaga yang membuat nilai-nilai tetap hidup. Karena perubahan sosial kadang lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus.
Mendampingi anak belajar. Menjenguk tetangga yang sakit. Mengantar makanan. Menguatkan sesama perempuan. Mendengar keluh kesah orang lain. Menjadi tempat cerita bagi mereka yang sedang lelah.
Iduladha mengingatkan bahwa membangun kehidupan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang berdiri di depan. Tetapi juga mereka yang bekerja dalam sunyi. Mereka yang memilih hadir ketika banyak orang memilih pergi. Mereka yang menjaga ketika banyak orang sibuk mengejar. Dan mungkin, salah satu pelajaran paling indah dari Iduladha adalah ini bahwa ketulusan sering bekerja tanpa suara.
Sebagaimana api kecil di dapur yang tidak banyak terlihat. Namun diam-diam menyajikan makanan bagi penghuni rumah.
Sebagaimana langkah Siti Hajar di padang tandus ribuan tahun lalu. Yang hingga hari ini jejaknya masih diikuti jutaan manusia. Karena sejarah tidak selalu dibangun oleh mereka yang paling keras suaranya.
Kadang-kadang sejarah justru bertahan karena ada orang-orang yang diam-diam memilih tetap mengabdi. Tetap merawat, menjaga. Meski dunia jarang melihatnya.
Endang Listyowati
Ketua PAC Fatayat NU Banyumanik, Kota Semarang
Editor: Muhammad Zunus
