Kata menimbulkan keributan dalam nalar politik dan tafsir demokrasi: gratis. Para pejabat menggunakan kata gratis dalam mengabarkan kebijakan-kebijakan besar. 'Gratis' pun politis. Pada 6 Januari 2025, rezim Prabowo-Gibran membuat sejarah berjudul 'makan bergizi gratis'.
Debat panjang itu gratis. Chris Anderson dalam buku berjudul Gratis: Harga Radikal yang Mengubah Masa Depan (2010) mengingatkan: "Kata ini membangkitkan rasa curiga, tetapi memiliki kekuatan untuk menarik perhatian yang nyaris tanpa tandingan. Kata ini tidak pernah sesederhana kelihatannya, tetapi merupakan transaksi yang paling alamiah di antara semuanya." Gratis dalam bisnis mempertimbangkan laba, kemonceran, dan kesetiaan. Gratis itu siasat bisnis meski bisa bermakna politis dalam peristiwa berbeda.
Orang-orang terlalu memikirkan harga bakal girang saat mendapat pengumuman pemerolehan baju, makanan, sepatu, atau sepeda secara gratis. Kata itu 'menghilangkan' masalah harga dalam pikiran publik. Gratis menjadi 'keajaiban' saat hidup dipenuhi nalar bisnis dan ketagihan uang.
Harga dan gratis menimbulkan pemikiran bagi konsumen dalam memenuhi beragam kebutuhan dan keinginan. Chris Anderson mengaitkan gratis dengan 'subsidi silang' dan 'ekonomi-hadiah'. Ia memberi contoh tentang makan siang gratis: “Pada 1872, New York Times menceritakan bahwa makan siang gratis telah muncul sebagai tren umum di Crescent City (New Orleans).” Kebiasaan makan siang gratis di restoran-restoran itu memicu anggapan: gratis sebagai alat atau senjata pemasaran. Orang-orang pun curiga kaitan gratis dan kapitalisme.
Gratis itu politis. Gratis tak sekadar melekat dengan kapitalisme abad XX dan XXI. Gratis itu masalah bagi para penggerak revolusi. Usaha mewujudkan 'sama rata' memerlukan gratis. Goenawan Mohamad (1976) dalam pengertian berbeda mengingatkan revolusi dan pesta makan: "Revolusi, kata Mao, bukanlah sebuah pesta makan. Setelah ia meninggal, bisakah bangsanya yang 800 juta itu terus tanpa pesta, biarpun kenduri kecil, seraya bernapas sebentar dan mengatakan bahwa revolusi sedang turun minum?' Gratis memiliki pengertian dan dampak berbeda bagi negara-negara membesarkan kapitalisme atau sosialisme.
Gratis tak mewajibkan orang memberikan uang atau sesuatu sebagai pengganti atas hal-hal sudah diperoleh. Gratis berarti tanpa harga. Kita sejenak memikirkan masalah gratis dan hadiah. Gratis memiliki sejarah panjang dalam kapitalisme dan sosialisme. Hadiah pun memiliki sejarah panjang dan rumit. Kita mendapat penjelasan hadiah menimbulkan 'kewajiban membalas' dalam buku berjudul Pemberian (1992) garapan Marcel Mauss. Orang menerima hadiah tanpa mengeluarkan uang meski tak memenuhi ketentuan-ketentuan gratis. Hadiah berbeda dengan gratis jika dipikirkan cara, waktu, dan wujud dalam membalas. Gratis mungkin memerlukan 'balasan' tapi bukan kewajiban.
Pada akhir 2024 dan awal 2025, kita dipusingkan dengan gratis. Kita justru sulit girang. Sumber pusing dan bingung itu omongan para pejabat. Mereka fasih mengucap gratis tanpa menjelaskan sumber kamus-kamus dan pamrih-pamrih politik. Gratis dalam lakon demokrasi mutakhir di Indonesia mungkin melampaui masalah sekadar bisnis.
Di Indonesia, gratis menjadi kata penting dalam kekuasaan. Kita bisa membuka kamus-kamus untuk menemukan pengertian-pengertian gratis. Kamus-kamus tak terlalu berguna bagi elite politik dan pengusaha sedang membuat pengertian baru bertajuk demokrasi. Gratis justru terlalu politis, sejak pilihan kata dan pembuatan peristiwa.
Gratis diinginkan dalam situasi hidup makin sulit. Chris Anderson (2010) berpendapat gratis bukan kata sederhana bila mengikuti lacakan pengertian dalam beragam bahasa. Kita simak: "Sebaliknya, ada dua kata, yang satu berasal dari bahasa Latin liber (kebebasan) dan kata lainnya berasal dari bahasa Latin gratis (kependekan dari gratiis, ‘untuk ucapan terima kasih’ sehingga ‘tanpa pembayaran’ atau harga nol). Dalam bahasa Spanyol, misalnya, libre adalah hal yang baik (kebebasan berpendapat) sementara gratis sering dicurigai sebagai taktik pemasaran." Kita pun mengetahui free dalam bahasa Inggris. Lacakan kebahasaan oleh Chris Anderson menghasilkan pemahaman: “Jadi kata free atau ‘gratis’ berasal dari gagasan sosial yang berkaitan dengan kebebasan, bebas dari perbudakan maupun dari biaya.”
Di Indonesia, kita terbiasa menginginkan free atau gratis. Kata sering digunakan dalam siasat politik, bisnis, pendidikan, atau industri hiburan. Gratis mampu menimbulkan girang kolosal. Gratis mudah dipahami tanpa perlu kerepotan membuka kamus-kamus atau membaca buku-buku bertema bahasa, sejarah, ekonomi, pertanian, dan teknologi.
Kita iseng saja melacak kata dan pengertian melalui buku-buku lawas. Sasrasoeganda dalam Baoesastra Mlajoe-Djawa (1922) mengartikan 'pertjoema' adalah 'tanpa gawe'. 'Tjoema' diartikan 'tanpa bajaran'. Kita membuka Kitab Vortaro disusun D. Kwik, terbitan Sin Po, 1923. Kita simak keterangan berkaitan judul buku: “Sagala perkatahan-perkatahan asing jang soeda oemoem digoenaken di dalem soerat-soerat kabar Melajoe, diperloeken boewat pembatja-pembatja Sin Po.” Di halaman 131, ada entri 'gratis' diartikan 'tida ada bajaran, pro deo, pertjoema'. Gratis berasal dari bahasa asing. Pada masa lalu, orang-orang mula-mula menggunakan kata 'pertjoema', sebelum terbiasa dengan kata 'gratis'.
E St Harahap dalam Kamoes Indonesia (1942) mengartikan 'pertjoema' itu 'tiada dengan bajaran, sia-sia, diberi sahadja'. Kita membuka buku kecil dan tipis berjudul New Asia: Kamoes 4 Bahasa, Indonesia Modern-Inggris-Blanda-Tionghoa susunan Chen Yen Hui, diterbitkan oleh Hoa Kiao Book Co. Buku tanpa mencantumkan tahun terbit. Di halaman 104, 'pertjoema' berarti 'gratis'. Kita menduga 'gratis' berasal dari bahasa asing. Kata mulai terbiasa digunakan dalam bahasa Indonesia, sebelum disaingi free.
Kita telah membuka kamus-kamus. Pemahaman tentang gratis belum selesai. Gratis bukan sekadar urusan leksikografi. Di Indonesia, gratis terlalu penting dalam politik. Gratis bakal bertambah arti dalam lakon kekuasaan digerakkan Prabowo-Gibran. Kebijakan makan bergizi gratis memberi asupan pemaknaan gratis melampaui kamus-kamus pernah terbit di Indonesia. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan
