Cantik: Bahaya dan Mahal

Cantik: Bahaya dan Mahal

Dua ditambah dua hasilnya empat. Jawaban itu ajeg dan benar. Jika diajukan kepada murid sekolah dasar, orang dewasa, hingga lanjut usia, jawabannya sama. Ini juga berlaku di mana saja, tak pandang bulu apakah di Afrika, Indonesia, Jerman, India, atau Denmark. Semua akan sepakat, dua ditambah dua adalah empat. Penilaian ini disebut objektif, karena netral, tidak memihak, tidak bias, adil, faktual, nyata, rasional, dan empiris, yang berarti berdasarkan fakta dan data sebenarnya tanpa dipengaruhi perasaan pribadi.

Ada penilaian sebaliknya, yaitu subjektif. Penilaian ini merujuk pada pandangan pribadi, perasaan, atau pendapat individu, seperti personal, bias, tendensius, atau sudut pandang tunggal (satu sisi), yang berarti tidak berdasarkan fakta objektif tetapi lebih kepada pemikiran atau perasaan seseorang. Penilaian subjektif memungkinkan banyak jawaban, semua orang bisa memiliki reaksi yang berbeda. Misalnya apakah lukisan itu indah? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. 

Masalah sering mencuat dari dua hal tersebut, ketidaktepatan dalam menggunakan pisau penilaian. Ada hal yang sepantasnya menggunakan penilaian subjektif dibuat menjadi objektif. Begitu pula sebaliknya. Salah satu contoh menyoal “cantik”. Penilaian soal cantik sebenarnya masuk dalam kategori subjektif, dipengaruhi pikiran dan perasaan, tapi sering berusaha diobjektifkan. 

Sejak dulu cantik dikondisikan (harus) kulit terang (putih), rambut, panjang, dan berhidung mancung. Kajian para peneliti dan arsip punya data soal itu. Buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional (2017)  karya L. Ayu Saraswati menelisik sejarah mengenai bagaimana rasa–khususnya mengenai kesan cantik adalah putih bisa tercipta–dibentuk sejak era pra kolonial berlanjut pada era kolonial. 

Di internet, bisa ditemukan arsip iklan di majalah mingguan Djaja, Oktober 1964. Iklan itu bergambar Shampo Sunsilk. Dalam majalah yang sama bulan November, 1963 juga ada iklan Sabun Bris. Iklan di Pikiran Rakyat tanggal 9 Februari 1957 turut menampilkan gambar Sabun Lux. Semua iklan itu punya kesamaan: mengkonstruksi pikiran dan emosi masyarakat untuk mempercayai cantik adalah putih.  

Upaya itu menimbulkan masalah krisis identitas, kesehatan, dan ekonomi. Cantik sejatinya terikat pada waktu, wilayah, dan budaya. Cantik punya banyak sudut pandang. Misalnya di Suku Dayak (Indonesia), perempuan dianggap cantik jika mempunyai telinga yang sangat panjang dan menjuntai. Di Suku Kayan (Myanmar) perempuan yang memakai cincin di leher untuk memanjangkan lehernya melambangkan keindahan dan status. Di Jepang (zaman dahulu) ada praktik ohaguri yang menghitamkan gigi, dianggap elegan dan menjadi ritual kecantikan. Wilayah lain turut punya definisinya masing-masing. Biasanya selalu terikat pada budaya setempat.

Sayang, dalam waktu lama, media–cetak atau digital–membuat narasi tunggal tentang kecantikan. Cantik ditempatkan dalam wilayah objektif, seolah semua tolak ukur cantik ditentukan dalam satu standar. Ini mendorong banyak orang melakukan operasi plastik dan menggunakan produk berbahaya bagi kulit. 

Namun seiring berjalannya waktu pola itu mulai berubah. Standar kecantikan mulai diperkenalkan dengan label inklusif. Robin Givhan dalam National Geographic (2/2020) menulis sebuah esai bertajuk Merombak Definisi Kecantikan, mengapresiasi tren kecantikan yang bergerak ke arah lebih manusiawi. Cantik tak lagi ditempatkan pada ruang objektif. Berbagai majalah besar telah menampilkan perempuan dengan berbagai kondisi. Kecantikan tidak lagi didominasi oleh lensa budaya Barat.  

Pada November 1997, sampul majalah Elle edisi Amerika dihiasi wajah Alek Wek. Perempuan dengan kulit halus legam dan rambut Afro tipis, berpose di depan layar putih polos. Elle menatap lurus ke kamera dengan senyum ramah. Wajah itu menampilkan aura khas Afrika. Wek menerobos standar kecantikan di mata kamera. Sampul majalah Vogue (2018) juga menarik definisi kecantikan lebih luas. Wilayah kecantikan yang eksklusif mulai terbuka dengan munculnya wajah-wajah baru: perempuan kulit hitam, perempuan gemuk, perempuan kurus, perempuan berjilbab, dan perempuan botak. 

Gejala perubahan itu sering disebut-sebut dengan upaya merombak definisi kecantikan. Tentu, ini menjadi kabar baik bagi ratusan juta perempuan. Akhirnya “tubuh” perempuan Barat tidak lagi mendominasi wajah cantik. Sudah  begitu lama ‘putih’ menduduki singgasana kecantikan. Namun, apakah persoalan cantik telah selesai? Saya ragu. 

Jika dahulu kecantikan dimonopoli gadis putih kini cantik dikaitkan dengan perempuan beragam warna kulit. Citranya memang bergeser dari eksklusif menjadi lebih inklusif. Namun, perubahan itu agaknya tidak menggesar budaya konsumtif—ini permasalahan inti standar kecantikan. Kedua kriteria itu tetap dijadikan strategi untuk memproduksi ribuan produk demi keuntungan para pemodal. Pada akhirnya, baik kulit terang maupun gelap, semua didorong untuk mejadi konsumtif. 

Bicara tetatang kecantikan, barangkali lebih menyenangkan saat mengaitkannya dengan kecerdasan dan kepribadian. Saya jadi teringat beberapa novel yang menampilkan perempuan cantik—tidak merujuk pada fisik.  

Tersebut beberapa judul: A Wrinkle in Time (2010) gubahan Madeleine L’Engle, The Secret Garden (1911) dan Little Princess (1905) gubahan Frances Hodgson Burnett, lalu Anne Of Green Gables (1908) gubahan Lucy M.Montgomery.

A Wrinkle in Time mengisahkan seorang gadis bernama Meg Murry. Penggambaran penulis pada diri Meg: “..penampilannya begitu mengerikan, kacamata tebal, gigi berkawat, dan rambut yang berantakan.”

Mary Lennox, tokoh utama dalam The Secret Garden dikisahkan  hampir serupa: “… dia seorang anak yang sangat tak enak dipandang. Mukanya tirus, tubuhnya kecil kurus, rambutnya kusam dan jarang, dan wajahnya masam.”

Sarah Crew dalam Little Princess tergambarkan demikian: “Aku sama sekali tidak cantik. Rambutku pendek dan warnanya hitam, dan mataku hijau. Lagi pula tubuhku kerempeng dan kulitku sama sekali tidak putih. Aku salah satu anak paling jelek yang pernah kulihat.”

Lalu Anne Shirley dalam Anne Of Green Gables juga dikisahkan serupa: “…Dia mengenakan sebuah topi pelaut coklat yang warnanya sudah pudar. Ada dua buah kepang rambut yang berwarna merah terang sangat tebal. Wajahnya mungil, putih dan kurus, serta banyak bintik-bintiknya; mulutnya besar, begitu juga matanya yang kadang-kadang berubah warna.”

Keempat tokoh perempuan di atas tak merujuk pada standar-standar yang ditampilkan pasar. Mereka mendefinisikan cantik lewat pikiran dan kepribadian. Barangkali itulah yang dibutuhkan perempuan. Selain cantiknya terasa awet, juga tak bahaya dan mahal.


Editor: Kendi Setiawan
logo