Ingatan kita pada China belum benar-benar kering. Beberapa waktu lalu, negara itu berhasil melahirkan DeepSeek, kecerdasan buatan yang berhasil mengungguli AI Amerika. Dunia tercengang, menafsirkan peristiwa itu sebagai pernyataan politik sekaligus strategi untuk memperluas pengaruh global. Tak berhenti di situ, China kembali melebarkan sayapnya melalui pintu lain: film animasi.
Negeri Tirai Bambu itu semakin menunjukkan taringnya melalui film animasi bertajuk Ne Zha 2 (Jiao Zi, 2025). Ne Zha 2 adalah sekuel dari film Ne Zha yang pertama kali dirilis pada tahun 2019. Konon, sinema itu mengambil inspirasi dari kisah mitologi Tiongkok dan adaptasi dari Feng Shen Bang.
Ne Zha 2 menjadi perbincangan global karena kehadirannya berhasil menggeser posisi Inside Out 2 (Kelsey Mann, 2024) di box office. Forbes (18/2/2025) juga mengabarkan bahwa Ne Zha 2 yang diluncurkan pada Tahun Baru China, telah memecahkan serangkaian rekor box office lokal sepanjang masa di negara tersebut, termasuk rekor IMAX Tiongkok.
Film petualangan fantasi berbahasa Tiongkok tersebut berhasil meraup pendapatan box office IMAX sebesar 562 juta yuan (sekitar $78 juta) dalam waktu 15 hari sejak dirilis, melampaui film Avengers: Endgame (2019, Anthony Russo & Joe Russo) dan menjadi film IMAX terlaris sepanjang masa di Tiongkok.
Kabarnya, Ne Zha 2 juga akan hadir di bioskop-bioskop Indonesia. Sembari menunggu kehadirannya, kita bisa kembali mengulik kisah Ne Zha yang pertama kali dirilis tahun 2019.
Sinopsis Ne Zha
Ne Zha adalah film animasi yang mengisahkan perjalanan hidup seorang anak bernama Ne Zha yang dilahirkan dengan takdir yang buruk. Ibunya, Lady Lin, diceritakan melahirkan anak tersebut dalam bentuk bola setelah mengandung selama 3 tahun 6 bulan, Ayahnya, Li Jing, menyangka bahwa istrinya telah melahirkan seorang iblis dan menyerang bola tersebut dengan pedangnya. Namun, berkat kasih dari ibunya, Ne Zha tetap hidup.
Masyarakat menganggap Ne Zha sebagai malapetaka, karena prediksi yang muncul mengatakan bahwa Ne Zha akan membawa kehancuran. Namun, meskipun dunia memandangnya sebagai ancaman, Ne Zha berusaha membuktikan bahwa dia tidak seburuk yang orang pikirkan, dan dia berjuang untuk mengubah takdirnya.
Ne Zha harus berhadapan dengan tantangan besar, baik dari luar maupun dalam dirinya sendiri. Salah satu karakter yang juga penting dalam film ini adalah teman dekat Ne Zha, yakni Ao Bing, seorang anak naga yang memiliki takdir serupa, tetapi dengan jalan yang berbeda. Konflik antara keduanya menjadi salah satu titik puncak dari cerita ini yang mengarah pada pesan moral tentang penerimaan diri, takdir, dan pengorbanan.
Kita dibuat penasaran untuk mengetahui bagaimana kelanjutan pada sekuel selanjutnya. Kita boleh yakin, Ne Zha 2 juga pasti menampilkan kualitas animasi yang luar biasa, visual yang tajam, dan tampilan dunia fantasi yang memanjakan mata. Selain itu, penyajian karakter tokoh juga tentu akan semakin kuat.
Penonton sepertinya akan disuguhkan sosok pahlawan yang tidak sempurna tapi menarik hati. Sosok itu yang justru akan terasa sangat relate untuk banyak orang, terutama bagi yang merasa terpinggirkan atau tidak dipahami oleh lingkungan sekitarnya.
Kebudayaan China
China adalah salah satu negara yang menyimpan peradaban tertua di dunia. Tiongkok kuno dipercayai sebagai negeri penuh penemuan. National Geographic Kids menuliskan bahwa selama berabad-abad negeri itu berjalan dengan peradaban yang lebih maju dari kebanyakan negara lainnya dalam bidang sains, teknologi, astronomi, dan matematika. Bangsa Tiongkok sejak dahulu telah menemukan kertas, kompas magnetik, percetakan, porselen, sutra, bubuk mesiu, dan lainnya.
Kita mengakui bahwa China punya keuletan dan kesabaran setinggi gunung dalam meraih segala sesuatu. Darah itu nampaknya sudah hadir sejak dahulu, menjadi catatan sejarah. China perlu diingat sebagai negara teladan. Selain lewat AI dan film, ingatan pada China bisa didapatkan lewat buku Kenapa Masa Depan Kita Bergantung pada Perpustakaan, Membaca, dan Melamun? (2023). Buku itu mengandung kisah tentang China.
Neil Gaiman dalam buku tersebut menuliskan pengalamannya menginjakkan kaki di Negeri Tirai Bambu. Pada tahun 2007, ia menghadiri kongres fiksi ilmiah dan fantasi yang diadakan oleh China untuk pertama kalinya dalam sejarah. Rasa penasaran menuntunnya untuk bertanya, apa alasan China mengizinkan fiksi ilmiah masuk dalam negara tersebut saat sebelumnya tidak diizinkan?
Ternyata, China menyadari rakyatnya ahli dalam membuat sesuatu jika rancangannya sudah tersedia tapi sulit untuk berinovasi dan menciptakan hal yang baru. Mereka pernah mengirim delegasi ke Amerika untuk meneliti orang-orang di balik Apple, Microsoft, dan Google tentang rahasia di balik keberhasilan inovasi teknologi tersebut. Jawaban yang didapat adalah mereka telah membaca fiksi ilmiah sejak masih anak-anak. Alasan itu mendorong China mulai menengok fiksi ilmiah dan fantasi di negerinya.
Pada akhirnya, kita mengetahui bahwa terobosan yang dilakukan China dari waktu ke waktu tidak hadir dalam satu malam. Inovasi itu merupakan buah dari keterbukaan pikiran, kesabaran, keuletan, dan evaluasi diri yang dilakukan secara terus-menerus. Kita boleh berharap dan berdoa, Indonesia bisa memiliki nilai-nilai tersebut. Tidak harus sampai menyaingi apalagi mengungguli, berhasil mendekatinya saja, kita wajib bersyukur.
Editor: Kendi Setiawan
