Doa yang Tak Seragam

Doa yang Tak Seragam

Barangkali, berdoa tak melalu harus diawali kata basmallah, lalu diakhiri kata amiin. Bisa jadi,  berdoa memungkinkan untuk dilakukan dengan cara-cara di luar dari perintah para pemuka agama. Sebab, mungkin saja jalan untuk menjalin keintiman dengan Tuhan bisa diraih lewat pilihan gerak dan ucapan yang bersumber dari berbagai hal.

Selama ini, kita tidak bisa berharap beragam variasi dari aktivitas berdoa orang dewasa. Gerak tubuh dan bahasa sudah ditentukan dengan ajeg. Sangat jarang menjumpai orang dewasa berdoa dengan bait sebuah puisi, kutipan dalam novel atau kutipan dialog film. Berdoa biasanya hanya dari satu sumber.

Saat di bangku sekolah, acara hari besar, hingga kegiatan masyarakat, selalu menyisipkan doa di awal acara atau penutup. Doa akan terdengar terus-menerus sama. Ucapan dan gerakannya diwajibkan untuk seragam. Misalnya, upacara bendera setiap hari senin selalu menyertakan doa diakhir. Perwakilan siswa yang terlihat ‘soleh’ biasanya didorong menjadi pendoa. 

Aktivitas itu dilakukan dengan membaca teks. Isi teks tak pernah berubah. Diawali kalimat bahasa arab lalu dilanjutkan kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang terkadang isinya tak menyentuh realitas. Pendengar kesulitan menarik makna doa pada kejadian sehari-hari di sekolah.

Penyeragaman dalam meraih doa marak terjadi pada orang dewasa. Sumbernya seringkali dari buku.

Sebuah buku bertajuk Keutamaan Doa dan Dzikir untuk Hidup Bahagia Sejahtera (2006) gubahan M. Khalilurrahman Al Mahfani mengisahkan tata cara bedoa agar didengar dan dikabulkan: “..dilakukan pada waktu yang mulia, dilakukan dalam keadaan yang khitmat seperti pada waktu sujud atau setelah sholat wajib, menghadap kiblat dengan ber-tawassul, dalam keadaan suci, memakai pakaian yang bersih dan seterusnya….”. Waktu dan gerak tubuh dalam berdoa, telah ditentukan.

Di buku lainnya, Doa Al-Ma’tsurat dan Doa Sehari-Hari (2014) kalimat doa juga sudah tersajikan lengkap. Sederet aktivitas sudah terdaftar: Doa ketika pagi dan sore, doa keluar rumah, doa masuk rumah, doa menjelang tidur, doa bangun tidur, doa makan, dan sederet aktivitas lain.

Kita hanya perlu membeli buku, menghafalnya, lalu sesekali melihat artinya jika sempat. Kita tidak perlu bertarung dalam kegetiran, keringat dan air mata untuk memperoleh kalimat doa. Hidup orang dewasa berputar dalam  repetitif doa. 

Gejala keseragaman dalam berdoa pada akhirnya diturunkan pada anak-anak. Proses mewarisi dilakukan sejak di rumah, sekolah, dan TPA. Orang dewasa khawatir, anak-anak akan salah tata cara bedoa pada Tuhannya. Pemilihan kata, pemilihan gerak, pemilihan waktu segera diikatkan pada anak menurut standar orang dewasa. 

Doa sering disandingkan deangan kata perintah, ancaman dan ganjaran. Anak tidak belajar ketulusan dan kesungguhan dalam doanya. Mereka lekas didorong untuk sampai pada lafaz doa sebelum memaknai arti kata “doa”. Perintah yang lekas diberikan pada anak untuk menghafalkan doa-doa berpotensi menjauhkannya dari rasa khidmat.

Di novel Anne of Avonlea (1908) ada kritik tentang doa anak-anak. Lucy M. Montgomery, penulisnya, mengisahkan seorang anak bernama Davy, protes kepada Anne sebab Marilla, ibu angkatnya, selalu memerintahkan untuk berdoa dengan banyak gertakan:“Selasa lalu, dia bilang sesuatu yang buruk akan terjadi padaku kalau aku nggak berdoa. Aku udah nggak berdoa seminggu ini, pengin tahu saja apa yang terjadi… tapi nggak terjadi apa-apa,” kata Davy kesal. Perintah doa kerap melahirkan kekesalan bukan keimanan pada anak. 

Barangkali, orang dewasa tak perlu terburu-buru mendorong anak untuk lekas seragam dalam berdoa. Mereka memiliki imajinasi dan kadar keiklasan yang berbeda dari orang dewasa. Meski akan berdoa dengan terbata-bata lalu ditemani gerak yang kacau, itulah cara berdoa yang sesungguhnya bagi anak-anak.

Berdoa, yang lekat dengan iklas dan ketulusan lebih mudah diraih oleh anak-anak dengan cara mereka ketimbang cara orang dewasa. Anak memiliki stok iklas berlimpah, seperti yang digambarkan Joko Pinurbo dalam buku pusinya Khong Guan (2019): Sesungguhnya/ ia hanya takut/ menjadi dewasa/ sebab ketika dewasa/ ia akan menafsirkan hujan/ sebagai berkah/ atau bencama,/ padahal ia ingin/ hujan tetaplah hujan.  

Novel Anne Of Green Gables (Mizan, 2022) gubahan Lucy M. Montgomery  bisa menjadi salah satu rujukan dalam berdoa. Novel yang terbit pertama kali tahun 1908 ini merekam gadis cilik bernama Anne Sirley yang punya cara unik dalam berdoa.  Ia meraih doa tidak lewat kitab atau rumah ibadah, tetapi dengan imajinasinya. 

Ketika ibu angkatnya menganjurkan Anne agar berdoa menurut tata cara yang sudah diatur oleh agama, gadis itu berlutut di dekat sang ibu, lalu menatap ke atas dengan wajah penuh keharuan. Dari bibirnya terdengar suara permohonan:

“Jika aku benar-benar ingin berdoa, aku akan mengatakan kepadamu apa yang akan kulakukan. Aku akan pergi ke sebuah padang rumput yang sangat luas, hanya seorang diri, atau masuk jauh ke dalam hutan, kemudian aku akan menatap katas- jauh ke atas- terus ke atas- kea rah langit biru yang indah, yang warna birunya bagaikan tidak berbatas. Kamudian, aku hanya akan meraskan-bahkan tak perlu mengucapkan-doaku dalam hati...”

Pertemuan bahasa antara gadis cilik itu dan Tuhannya, terjadi lewat gerak tubuh dan mata yang berinteraksi dengan alam. Kita menjadi teringat lirik sebuah lagu berjudul Lagunya Begini, Nadanya Begitu (2019) gubahan Jaon Ranti. Di dalamnya terselip kata doa.

Penyanyi menyinggung persoalan doa: “Barangkali hidup adalah doa yang panjang/ Tapi oh sayang doanya mesti seragam.” Lirik menggelisahkan pendengar untuk sekedar bertanya, apa yang membuat cara berdoa kita selalu sama? Apakah Tuhan, tidak memperbolehkan berdoa dengan cara yang bervariasi? Dan, apakah doa boleh dilakukan dengan cara tak seragam?

 


Editor: Kendi Setiawan
logo