Sering berseliweran di beranda digital utamanya media sosial kita tentang realitas kerja dengan nada pahit tapi lucu, dan memang demikian kenyataannya. Hal ini menjadi representasi akan dunia kerja yang bermanis-manis dalih janji tentang besarnya peluang, namun beiring dengan makin melebarnya jarak antara karier dan kemapanan yang hendak digapai.
Dalam pandangan yang dianggap kuno, karier menjadi perjalanan meraih kestabilan secara ekonomi dan secara sosial dapat dihormati atau disegani. Acap kali dalam stigma kemapanan dikaitkan dengan rumah atas nama pribadi, kondisi kerja dan keuangan yang stabil, syukur kalau punya tabungan, dan waktu luang lepas dari beban serta penatnya kerja. Semua hal di atas terstigma ulang sebagai proses alami untuk capaian karier.
Bagi generasi pekerja masa kini, utamanya rentang usia 20 sampai 35 tahun, banyak pekerja yang secara karier stagnan alias tidak bergerak, dan secara kemapanan nyaris tak terlihat. Ilustrasi lain, ada juga yang telah bekerja keras habis-habisan bertahun-tahun, tetapi masih saja berada dalam ruang sosial dan ekonomi yang rapuh, seakan sistem menolak untuk melompat lebih tinggi.
Hal yang paling tampak adalah kondisi Indonesia dalam dua dekade trakhir ini. Tekanan ekonomi lewat urbanisasi yang pesat juga biaya hidup yang meningkat alias tidak proposional, tidak mampu mengejar inflasi. Berbagai lembaga ketenagakerjaan memaparkan data bahwa kenaikan gaji tahunan rata-rata berkisar 4 hingga 6 persen, angka yang terkesan wajar, tetapi tak mampu menandingi kenaikan harga kebutuhan pokok dan kebutuhan lainnya yang melaju sekitar 10 sampai 20 persen per tahunnya. Demkian ini memperlihatkan akan kemapanan finansial bukanlah tertunnda lagi, tapi hanya jadi mimpi indah di kasur tua yang romantik, di siang bolong pula.
Ironi semakin terpampang nyata ketika budaya kerja Indonesia yang cenderung berorientasi high urgency tidak diikuti dengan dukungan secara struktural. Banyak perusahaan menuntut respons cepat dan lembur tak berkesudahan. Dalih fleksibilitas jam kerja, pada praktiknya berarti karyawan harus standby dan harus selalu bisa dihubungi. Belum lagi tuntutan kemampuan karyawan yang harus bisa multitasking dalam merangkap beberapa beban kerja yang sering kali tidak manusiawi. Pekerjaan yang dulu dibagi menjadi empat posisi kini dibebankan kepada satu orang dengan alasan efisiensi, tak beriring dengan kompensasi finansial, lebih-lebih jalur karier. Tak ada perubahan secepat tuntutan. Begitulah realitasnya yang menimbulkan paradoks, karier secara administratif terlihat meningkat, tetapi kualitas hidup tetap stagnan, bahkan menurun.
Selain itu, dinamika industri kerja di Indonesia juga mengalami fragmentasi. Banyak pekerjaan kini tidak lagi berbasis career path yang jelas, melainkan sekadar task path, kumpulan tugas yang harus selesai tanpa ada kejelasan jangka panjangnya. Dalam beberapa sektor, promosi kerja tidak didasarkan pada kompetensi atau pengalaman, tetapi pada kedekatan personal atau senioritas. Di sektor lainnya, perubahan begitu cepat sehingga karyawan tidak sempat membangun spesialisasi yang kokoh. Pada akhirnya, pekerja hanya berpindah dari satu tugas ke tugas berikutnya, tanpa merasa sedang membangun karier yang utuh. Ini menjelaskan mengapa banyak pekerja Indonesia merasa seperti berlari di tempat: bergerak penuh peluh dan capai minta ampun tapi ya tak ke mana-mana alias di situ-situ saja.
Sering kali setiap satu hingga dua tahun perpindahan kerja diambil sebagai keputusan, menjadi gejala lain dari sistem yang tidak stabil. Di satu sisi, mobilitas kerja seperti ini dianggap sebagai strategi rasional karena penghasilan sering kali hanya meningkat signifikan jika seseorang pindah perusahaan. Namun di sisi lain, perpindahan terus-menerus membuat pekerja sulit membangun aset maupun keterikatan yang mendukung kemapanan jangka panjang. Kemapanan membutuhkan kontinuitas, sementara karier di Indonesia semakin mengarah pada ketidakpastian.
Ironi besar yang kerap muncul juga adalah hadirnya iklan-iklan lowongan kerja yang mengagungkan kesempatan karier tanpa batas, namun kenyataannya jauh panggang dari api. Realita finansial para pekerjanya tetap terseok-seok, bahkan tersungkur bebas. Program pelatihan di banyak perusahaan menekankan pentingnya work-life balance, tetapi budaya urgensi tinggi membuatnya sekadar slogan.
Pemerintah berbicara tentang tagline yang nun aduhai lewat Indonesia Emas 2045, tetapi banyak pekerja muda yang bertanya-tanya apakah mereka masih bisa membeli rumah sebelum usia pensiun. Semua ini meruncing pada narasi sosial yang getir.
Pada akhirnya, hubungan antara karier dan kemapanan di Indonesia saat ini lebih baik dipahami sebagai hubungan yang bersyarat. Keduanya bisa bersatu, tetapi tidak secara otomatis seperti masa lalu. Mereka membutuhkan strategi finansial yang ekstra ketat dan pentingnya perencanaan karier Tanpa itu, karier hanya menjadi rangkaian aktivitas yang menuntut banyak energi tetapi tidak memberi landasan hidup stabil.
Ironi terbesar dalam semua ini adalah kenyataan bahwa generasi muda Indonesia bukanlah generasi yang tidak bekerja keras. Mereka berpendidikan dan adaptif, namun hidup dalam dunia yang struktur ekonominya membuat kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kemapanan. Pertanyaan yang muncul bukan lagi “apakah mapan dan karier bisa bersatu,” tetapi “sampai kapan sistem kerja Indonesia tetap seperti ini sebelum terjadi perbaikan?” Sebab pada akhirnya, kemapanan menjadi hasil dari ekosistem kerja yang adil dan berkelanjutan.
Editor: Kendi Setiawan
