Ketika kita memperingati seratus tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer pada 2025, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting: bagaimana kita memahami warisan intelektual dan sastranya dalam dunia yang berubah begitu cepat, tetapi tetap dibayangi oleh ketidakadilan yang ia kritik sepanjang hidupnya? Pramoedya bukan hanya seorang penulis, melainkan seorang arsitek narasi alternatif, seorang penggugat sejarah, dan seorang penghubung antara pengalaman lokal Indonesia dan dinamika global pascakolonial. Namun, untuk benar-benar menghormati dan memahami warisan intelektualnya, kita tidak dapat membatasi diskusi tentang Pramoedya dalam kerangka retrospektif semata. Sebaliknya, kita harus membaca ulang karyanya dalam konteks tantangan politik, sosial, dan budaya kontemporer, baik di Indonesia maupun dalam wacana global.
Pramoedya lahir pada 6 Februari 1925, di tengah-tengah transformasi besar yang sedang melanda Hindia Belanda. Ini adalah masa ketika gagasan modernitas, kolonialisme, dan nasionalisme mulai bersinggungan secara intens, menciptakan kondisi-kondisi paradoksal yang akan terus membentuk identitas bangsa Indonesia. Pramoedya adalah anak dari kontradiksi ini: ia hidup di bawah penjajahan, tetapi mengakses pendidikan yang memungkinkan dirinya memahami struktur kekuasaan yang menindas; ia seorang intelektual yang sangat lokal, tetapi juga mampu menempatkan dirinya dalam percakapan global tentang kolonialisme dan resistensi. Hal ini terlihat jelas dalam karyanya yang paling monumental, Tetralogi Buru, yang ditulis selama pemenjaraannya di Pulau Buru di bawah rezim Orde Baru. Namun, yang sering terlewat dari pembacaan atas Pramoedya adalah bagaimana ia mengintegrasikan persoalan lokal dan global secara bersamaan dalam narasi yang secara tajam menggugat kekuasaan.
Bagi Pramoedya, sejarah tidak pernah menjadi sesuatu yang objektif atau netral. Ia memahami bahwa sejarah selalu ditulis oleh mereka yang memiliki kekuasaan, dan bahwa penulisan sejarah adalah alat legitimasi yang kuat. Dalam Tetralogi Buru, ia berusaha merebut kembali narasi sejarah Indonesia dari tangan kolonial dan elite yang telah memanfaatkan sejarah untuk mempertahankan status quo. Dalam Bumi Manusia, misalnya, kita menemukan tokoh Minke, seorang pribumi yang berpendidikan Belanda, mencoba memahami posisinya di tengah dunia yang sedang mengalami perubahan besar. Minke adalah cerminan dari generasi intelektual Indonesia awal abad ke-20 yang berusaha menavigasi benturan antara tradisi lokal dan modernitas Barat, sebuah dilema yang tetap relevan hingga hari ini.
Namun, penting untuk dicatat bahwa Pramoedya tidak pernah meromantisasi perlawanan. Ia memahami bahwa perjuangan melawan kolonialisme bukanlah sesuatu yang hitam-putih. Dalam Anak Semua Bangsa, misalnya, ia mengeksplorasi bagaimana perlawanan terhadap kolonialisme juga membutuhkan solidaritas lintas bangsa, lintas kelas, dan lintas identitas. Di sini, Pramoedya menyoroti pentingnya jurnalisme sebagai alat perlawanan, sebuah tema yang menjadi sangat relevan dalam era disinformasi digital saat ini. Jika kolonialisme Belanda mengandalkan penguasaan terhadap narasi untuk melegitimasi kekuasaannya, maka perlawanan terhadap kolonialisme juga membutuhkan narasi tandingan yang dapat menginspirasi perubahan.
Pemenjaraan Pramoedya di bawah Orde Baru tidak hanya merupakan peristiwa pribadi, tetapi juga simbol dari bagaimana kekuasaan otoritarian berusaha untuk membungkam intelektual yang berani melawan. Namun, di tengah represi ini, Pramoedya berhasil menciptakan karya yang tidak hanya bertahan sebagai kritik terhadap kolonialisme, tetapi juga terhadap struktur kekuasaan yang membungkam kebebasan intelektual. Pengalaman ini menempatkan Pramoedya dalam posisi unik sebagai seorang penulis yang tidak hanya menggambarkan sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. Dalam konteks saat ini, di mana kebebasan berekspresi kembali terancam di banyak negara, pengalaman Pramoedya menjadi pengingat penting tentang bagaimana negara dapat menggunakan kekuasaan untuk mengontrol narasi, tetapi juga tentang bagaimana narasi dapat bertahan melawan kekuasaan.
Namun, untuk benar-benar memahami relevansi Pramoedya hari ini, kita juga harus melihat bagaimana karya-karyanya berbicara kepada persoalan global. Dalam dunia pascakolonial, Pramoedya sering dibandingkan dengan tokoh seperti Chinua Achebe atau Ngũgĩ wa Thiong'o, yang juga menggunakan sastra untuk menggugat kolonialisme. Namun, yang membedakan Pramoedya adalah fokusnya pada bagaimana kolonialisme beroperasi di tingkat mikro—dalam hubungan antarindividu, dalam konflik internal masyarakat, dan dalam cara berpikir mereka yang terjajah. Dalam Rumah Kaca, misalnya, ia menggambarkan bagaimana kekuasaan bekerja melalui pengawasan dan manipulasi, menciptakan rasa takut dan ketidakpastian yang melemahkan perlawanan. Dalam konteks saat ini, di mana teknologi digital sering digunakan untuk memantau dan mengontrol masyarakat, pesan ini menjadi semakin relevan. Pramoedya mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis, dan bahwa perlawanan harus mencakup keduanya.
Relevansi Pramoedya juga terlihat dalam isu-isu global yang lebih luas, seperti perubahan iklim, migrasi, dan ketimpangan ekonomi. Dalam karya-karyanya, ia sering mengeksplorasi bagaimana kolonialisme tidak hanya menghancurkan manusia, tetapi juga lingkungan. Dalam Anak Semua Bangsa, ia menggambarkan bagaimana eksploitasi kolonial terhadap sumber daya alam menciptakan kerusakan ekologis yang memengaruhi kehidupan masyarakat pribumi. Dalam era krisis iklim saat ini, perspektif ini menjadi sangat penting, karena menunjukkan bahwa akar dari banyak masalah lingkungan modern dapat ditelusuri kembali ke era kolonialisme dan kapitalisme awal. Dengan demikian, membaca Pramoedya hari ini adalah membaca ulang sejarah global dengan perspektif yang lebih kritis terhadap hubungan antara kekuasaan, ekonomi, dan ekologi.
Namun, Pramoedya juga memberikan pelajaran penting tentang harapan. Meskipun banyak karyanya menggambarkan penderitaan dan penindasan, ia tidak pernah kehilangan keyakinan pada kemampuan manusia untuk berubah dan beradaptasi. Dalam Jejak Langkah, misalnya, ia menggambarkan bagaimana organisasi politik dapat menjadi alat untuk menciptakan perubahan sosial, meskipun selalu ada risiko korupsi dan penyimpangan. Dalam dunia yang sering kali merasa terjebak dalam siklus ketidakadilan, pesan ini sangat relevan. Pramoedya mengingatkan kita bahwa meskipun perjuangan sering kali penuh dengan kegagalan, ia tetap penting sebagai proses yang terus-menerus untuk menciptakan dunia yang lebih adil.
Di usia seratus tahun, warisan Pramoedya tetap hidup, tidak hanya sebagai simbol perjuangan melawan kolonialisme dan otoritarianisme, tetapi juga sebagai inspirasi untuk generasi baru intelektual, aktivis, dan pembuat kebijakan. Karya-karyanya mengajarkan kita bahwa untuk memahami dunia, kita harus melihatnya dari perspektif mereka yang paling menderita, tetapi juga bahwa untuk mengubah dunia, kita membutuhkan keberanian untuk melawan narasi yang dominan. Dalam dunia yang semakin kompleks, penuh dengan tantangan global dan lokal, Pramoedya tetap menjadi suara yang relevan, mengingatkan kita bahwa sejarah selalu dapat ditulis ulang, bahwa kekuasaan selalu dapat ditantang, dan bahwa harapan selalu dapat ditemukan, bahkan di tengah kegelapan.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor: Kendi Setiawan
