Terobosan Kementerian Agama dan Respons UIN Sunan Kalijaga

Terobosan Kementerian Agama dan Respons UIN Sunan Kalijaga

Dalam beberapa kesempatan, penulis berusaha merangkum untuk memudahkan terobosan-terobosan yang dilakukan Kementrian Agama. Berkali-kali Menteri Agama H Yaqut Cholil Qoumas mengungkap terobosan layanan semua umat, konsep dan praktik moderasi beragama, dan digitalisasi data. Terakhir kita baca naskah Menteri Agama dalam HAB Kemenag ke 78. Program-program andalan itu adalah: moderasi beragama, transformasi digital, revitalisasi KUA, kemandirian pesantren, dan lain-lain.

Layanan Kementrian Agama untuk semua umat tidak hanya Islam. Ini adalah pernyataan yang berani dan menggugah. KUA (Kantor Urusan Agama) tidak hanya kantor urusan asmara, apalagi hanya asmara orang-orang agama tertentu saja. Semua agama dilayani di KUA. Menurut Menteri Agama, KUA harus bertransformasi menjadi kantor urusan semua agama. Dalam kesempatan penganugerahan pada media tanggal 8 Desember 2023 lalu, Menteri Agama memapaparkan layanan inklusif antariman di KUA. Di KUA Bali misalnya, sudah dibuka layanan untuk semua umat dan semua iman. 

Dalam berbagai peringatan hari besar, Menteri Agama menunjukkan komitmen layanan semua umat ini. Natal, Waisak, Nyepi, Idul Fitri, Imlek dan lain-lain diwarnai spirit ini. Semua jajaran Kementrian Agama bergerak bersama. Dalam hal ini, UIN Sunan Kalijaga mendukung langkah dan filosofi di balik agenda harmoni antariman ini. UIN Sunan Kalijaga mempunyai tradisi antariman yang cukup lama. Kajian antariman dan dialog antaragama menjadi ciri khas dari UIN Sunan Kalijaga. Dengan begitu, UIN Sunan Kalijaga mendapatkan momentum dari kebijakan kementrian dan posisi Gus Men untuk bergiat menurut cara dan tradisinya sendiri. Penulis hadir dalam beberapa peringatan hari besar bersama Menteri Agama. Penulis menikmati sajian-sajian terobosan antariman.

Layanan haji juga terobosan tersendiri. Haji ramah lansia sebagai tagline haji 2023 patut mendapatkan perhatian tersendiri. Menteri Agama meluncurkan buku haji, yang merupakan layanan haji penuh tantangan. 30 persen dari peserta haji 2023 adalah lansia yang membutuhkan perhatian khusus, mulai dari akomodasi, konsumsi, transportasi, kesehatan, sampai bantuan khusus beribadah. Penulis merasakan itu karena mendapatkan tugas sebagai bagian tim monitoring dan evaluasi. Penulis bersyukur mendapatkan tugas ini sehingga mengenal lebih dekat tidak hanya kepemimpinan Gus Men, tetapi juga tim yang mengitarinya. Penulis mencoba memahami bagaimana tim itu menyusun strategi, bekerja, dan merespons setiap persoalan dalam urusan haji. Penulis beruntung mendapatkan kesempatan itu untuk merangkum semua pengalaman haji dalam buku Haji Ibadah dan Haji Ilmiah (2023) dan dibukukan. Gus Men sendiri meluncurkan buku itu di Jalan MH Thamrin pada hari anugerah media.

Terobosan selanjutnya adalah digitalisasi layanan. Program ini menyedot banyak perhatian dan menghasilkan banyak penghargaan. Berbagai media memberi apresiasi atas langkah Menteri Agama: Tempo, Gatra, Detik, dan media lain. Layanan manual sering memakan waktu dan tenaga. Layanan digital menyederhanakan semuanya. Dalam layanan KUA misalnya, formulirz sudah bisa diunduh. Pendaftaran tidak melulu pada datangnya calon pengantin ke KUA. Kantor Wilayah Kemenag juga memberikan layanan digital. Data-data disatukan dan memudahkan mengevaluasi dan monitor bagaimana layanan diberikan. Salah satunya Cyber University di Cirebon merupakan hasil dari filosofi digital. Beberapa penelitian dilakukan di internal Kementrian Agama tentang selera Gen Z atau Y, atau milenial menyeluruh. Bagaimana persepsi mereka tentang agama, politik, dan sosial. UIN Sunan Kalijaga menyambut program digitalisasi dengan menggenjot media dan media sosial dalam sosialisasi. UIN Sunan Kalijaga mendapatkan penghargaan dalam mengelola media sosial.​​​​​

Terbosan yang paling utama adalah moderasi beragama. Program ini sangat digalakkan karena termasuk prioritas Kementrian Agama. Moderasi untuk membentengi umat dari serangan radikalisme. UIN Sunan Kalijaga mengambil tema antariman dalam hal ini. Moderat berarti menerima perbedaan apa adanya dalam menjalankan ibadah maupun muamalah. Perbedaan menyangkut bagaimana kita memperlakukan orang lain yang berbeda. Moderat dalam rengkuhan Kementrian Agama juga menyangkut soal kesadaran kebangsaan, menghargai tradisi lokal, sikap nir-kekerasan, dan toleransi antariman dan internal agama sendiri. UIN Sunan Kalijaga sudah merintis tradisi antariman cukup lama. UIN Sunan Kalijaga mendapatkan penghargaan ini di malam itu dengan indeks tertinggi moderasi beragama di lingkungan civitas akademika pada 28 Desember dalam acara ekspose Kemenag akhir tahun. Para dosen UIN Sunan Kalijaga sudah mempraktikkan konsep moderasi beragama dengan alamiah, karena tradisi antariman sudah lama terjalin. Mari kita sambut program-program Kementrian Agama dengan semangat.

 

Al Makin, Penulis adalah Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Al Makin
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Editor: Muhammad Zunus
logo