Penghubung Antara Hewan dan Buku

Penghubung Antara Hewan dan Buku

Bulan Maret 2025 lalu, niat makan ikan bakar berhasil ditukar Hayn Bin Yaqdzon (Navila, 2010) gubahan Ibn Tufail dan buku Aku Buta dan Tuli Sejak Bayi (Kayla Pustaka, 2010) karya Helen Keller. Bulan ini pertukaran tidak terjadi. Hidung protes meminta bau selain kertas. Akhirnya, lima puluh ribu sirna untuk dua potong bebek goreng. Angka yang besar jika mengingat nominal itu bisa ditukar dua sampai tiga buku di lokapasar Facebook.

Bebek goreng meninggalkan rasa kenyang juga penyesalan. Bulan ini gagal membeli buku karena lidah, hidung, dan perut minta dituruti haknya. Sebagai penebusan, pikiran diajak mengingat soal hewan dan buku. Ingatan pertama yang muncul adalah sejumlah novel dan film, salah satunya The Tale of Despereaux (Gramedia, 2003) gubahan Kate DiCamillo.

Buku itu berkisah tentang tikus unik bernama Despereaux. Tikus itu disisihkan oleh kaumnya karena mencintai buku, musik, dan manusia. Ia suka membaca dan memiliki selera musik yang indah. Huruf-huruf dalam lembaran baginya adalah anugerah. Tikus itu mengajarkan pembaca manfaat pengetahuan meski harus menanggung ujian berat.

Di dunia nyata, tikus dipercayai berumah di gorong-gorong, di balik lemari, dan di bawah tanah. Jika terlihat manusia, ia harus pasrah untuk dilempar sandal, gagang sapu, bahkan kursi. Di tangan DiCamillo tikus naik derajat karena pintar. Putri raja dibuat terkesima, ada tikus mengerti kebijaksanaan.

Philip Pullman lewat bukunya bertajuk I Was a Rat! Or The Scarlet Slippers (Gramedia, 2007) juga mengisahkan tikus. Sosok tikus menjadi jembatan bagi Pullman untuk menggambarkan jurang pemisah antara si miskin dan kaya. Ia juga mengkritik kehidupan manusia yang kehilangan tujuan. Dalam salah satu bagian, ia menulis: Sulit sekali jadi manusia, tapi tidak terlalu sulit jika kau berpikir kau memang manusia. Pesan kemanusiaan mengalir deras dalam buku lewat tokoh hewan.

Di film, tikus ditampilkan lebih dramatis. Ratatouille (2007) garapan Brad Bird menampilkan sosok tikus berbulu abu-abu pintar masak. Ia punya kemampuan mengolah makanan melebihi manusia. Tikus hidup dekat dandang, wajan, piring, sendok, dan gelas. Film menyandingkan manusia, tikus, dan makanan di satu meja. Tiga hal yang sangat sulit untuk ditemukan dalam dunia nyata. Penonton bertepuk tangan dan sepakat menaikkan derajat tikus. Film berhasil menjadi animasi terbaik sepanjang masa.

Novel People of The Book (Gramedia, 2015) gubahan Geraldine Brooks juga menjadi wadah pertemuan antara hewan dan buku. Seorang konservasi yang meneliti buku Haggadah Sarajevo, kitab umat Yahudi yang dipercayai sudah berusia lima abad, menemukan cerita di balik buku lewat potongan tubuh hewan. Jejak serangga menjadi petunjuk untuk mendapatkan informasi kondisi kehidupan saat buku ditulis.

“Eureka. Fragmen kecil sayap serangga, transparan, bergaris-garis. Kita hidup di dunia antropoda, dan mungkin sayap itu berasal dari serangga biasa dan tidak akan mengungkapkan informasi apa-apa. Tetapi, mungkin saja serangga itu langka, yang hidup di wilayah geografi yang terbatas. Atau mungkin berasal dari spesies yang sudah punah. Dua kemungkinan itu akan menambah pengetahuan tentang riwayat kitab itu.”

Perkamen kitab itu terbuat dari kulit anak sapi. Huruf-huruf ditulis dalam kulit-kulit hewan. Pena yang pernah digunakan juga melibatkan bulu hewan. Perkembangan pengetahuan berhutang pada banyak hewan. Manusia bukan satu-satunya makhluk penggerak kemajuan ilmu.

A.A Milne, penulis Inggris, membuat karya Winnie-the-Pooh pada tahun 1926. Cerita itu  digambarkan lekat dengan banyak hewan. Owl, tokoh fiktif yang diwujudkan dalam bentuk burung hantu dilambangkan sebagai sosok paling bijak dan cerdas diantara satwa lain. Ia selalu muncul dengan buku-buku yang mengiringinya. Pada tahun 1926, burung hantu oleh Inggris diposisikan sebagai cendekiawan yang memeriahkan hidup anak-anak.

Menelisik ke sejarah Indonesia, tahun 1926 menjadi tanda banyak peristiwa besar. Pendirian Nahdlatul Ulama, Kongres Pemuda I, pemberontakan PKI di Pulau Jawa dan Sumatera Barat (Pemberontakan Silungkang) mengisi tahun 1926, waktu ketika Inggris membangun kuasa atas cerita anak. Indonesia belum bertarung menyoal karakter-karakter tokoh hewan sebagai pengisi pendidikan anak. Negara masih dipenuhi pikiran soal kemerdekaan, agama, dan konflik.

Novel Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang (Marjin Kiri, 2023) gubahan Luis Sepulveda juga menampilkan hewan dan buku. Seekor kucing disandingkan dengan ensiklopedia. Kisah menampilkan banyak kucing dengan berbagai karakter: preman, jagoan, pengelana, dan pecinta buku. Sepulveda menyisipkan banyak pesan ekologis, feminisme, dan kemanusiaan lewat buku tipisnya.

Di puncak konflik, ketika para kucing dihadapkan pada situasi yang pelik, mereka mencari jawaban di buku lewat sosok yang dipercayai bijak. Sosok itu dikenal sebagai professor, kucing pecinta buku. Dunia kucing yang dibangun Luis Sepulveda tidak terjangkiti sindrom era digital yang disebut Tom Nichols sebagai The Death of Expertise.  

Pada akhirnya, penyesalan terbayar dengan ingatan seputar hewan yang pernah terbaca dalam buku. Bulan ini mata tak beruntung menatap judul-judul buku baru tapi lidah bisa senang, merayakan pertemuan dengan bebek goreng meski hanya sejenak.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo