Hari Ibu, Perayaan Gerakan Perempuan yang Mengalami Penyusutan Makna

Hari Ibu, Perayaan Gerakan Perempuan yang Mengalami Penyusutan Makna

"Selamat Hari Ibu Sedunia. Ibu, engkau adalah inspirasiku untuk menjadi perempuan yang kuat dan bijaksana. Terima kasih ibu yang selalu ada saat aku terpuruk."

“Terima kasih ibu yang terus mendorongku untuk bangkit. Selamat memperingati Hari Ibu.”

“Kami hanya ingin melihatmu tersenyum. Selamat Hari Ibu.”

Demikian beberapa kutipan yang saya jumpai pada pamflet-pamflet lembaga pemerintahan dan beberapa organisasi. Biasanya ditambah dengan gambar perempuan memeluk anaknya. Jumlahnya masih ada setumpuk, bisa dikali lima puluh totalnya. Perayaan 22 Desember sebagai Hari Ibu, terlanjur langganan hanya dimaknai sebagai romantisme “Ibu biologis” dan “Ibu secara fisik.”

Padahal, kita boleh meletakkan kata-kata perlawanan, kritik, dan isu sosial dalam pamflet-pamflet yang merujuk pada perayaan hari ibu: “Seorang feminis adalah siapa pun yang menyadari akan kesetaraan dan kemanusiaan terhadap perempuan dan laki-laki” (Gloria Steinem, “Kita sebagai perempuan tidak memiliki batasan untuk meraih sesuatu.” (Michelle Obama), “Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama.” (Kartini), “Budaya tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan budaya.” (Chimamanda Ngozi. A).

Kita juga boleh menggelar diskusi buku yang memuat permasalahan perempuan: Ada Serigala Betina dalam Diri Perempuan (2020) gubahan Ester, Jati Diri Perempuan dalam Islam (2017) karya Etin Anwar, Putih (2017) gubahan L Ayu Saraswati, Mitos Kecantikan (1990) karya Naomi Wolf, dan banyak lagi.

Menonton film bermuatan kritik juga boleh: Kim Ji-young, Born 1982 (2019) garapan Kim Do Young, Pink (2016) yang disutradarai Aniruddha Roy Chowdhury, Hidden Figures (2016) garapan Theodore Melfi, Mai (2024) sutradara Tran Thanh, dan beberapa judul lain. Menggelar long march hingga kembali melakukan kongres juga boleh, yang penting selain sekadar ucapan terima kasih pada ibu (Biologis).

Menengok jauh ke belakang, rahim hadirnya perayaan hari ibu sesungguhnya lekat dengan cita-cita dan gerakan progresif kaum perempuan. Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang (2007) gubahan Susan Blackburn menukilkan kalau hari ibu sebenarnya hari ulang tahun kongres perempuan yang diadakan tahun 1928, sebagai tonggak sejarah bagi pergerakan perempuan Indonesia.

Dahulu, para tokoh nasionalis, komentator surat kabar, dan pejabat kolonial menyambutnya sebagai suatu keberhasilan luar biasa dan diakui sebagai titik awal sejarah gerakan perempuan Indonesia. Isi kongres tersebut menghasilkan gagasan pendirian federasi Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI), penerbitan surat kabar, usulan mendirikan studiefonds, mencegah pernikahan anak, memperbanyak sekolah putri, dan beberapa pemikiran progresif lainnya.

Entah kenapa dan sejak kapan, pemaknaan Hari Ibu kian menyusut dari cita-cita awal. Padahal, untuk mewujudkan kongres tersebut ada begitu banyak pengorbanan yang diberikan oleh para perempuan pada zaman itu. Mencari Makna Hidupku (1983) gubahan Sujatin Kartowijono mengisahkan perjuangannya demi mensukseskan kongres perempuan.

Ia berkisah dalam bukunya: “Aku sedang sibuk sekali menyiapkan kongres. Terpaksa ajakan untuk ke Kaliurang, ke bioskop atau tempat lain tidak dapat kuterima. Keberhasilan atau kegagalan kongres pertama ini menjadi tanggung jawabku. Aku tidak ingin menjadi tokoh yang gagal. Sudah pasti semua rapat menyita waktu, menjauhkan diri tunanganku yang sedang rindu.” Pada akhirnya, Sujatin mengorbankan hubungan dengan calon suaminya demi cita-cita yang sedang ia perjuangkan.

Melalui novel Tjap (2019) gubahan Yuditeha, juga dikisahkan pengorbanan perempuan yang terlibat dalam gerakan kesetaraan. Mereka banyak mengesampingkan kepentingan pribadi demi nasib jutaan perempuan. Lewat sosok Pertiwi, Yuditeha menggambarkan kompleksitas perjuangan tokoh perempuan hingga berakhir pada kematian demi membangkitkan perasaan nasionalisme masyarakat, menyatukan gerakan perkumpulan perempuan se-Indonesia, dan memperjuangan keadilan. Sejarah Hari Ibu, lekat dengan semangat, gerakan, perjuangan, pengorbanan, dan harapan.

Pemaknaan kata 'Ibu'
Selain mulai pudarnya keterhubungan perayaan Hari Ibu dengan sejarah kelahirannya, pemaknaan kata ‘ibu’ juga mengalami penyempitan. Ibu kerap diartikan tunggal hanya sebatas sosok yang telah melahirkan. Sebenarnya, ‘ibu’ bisa bermakna lebih luas. Makna ‘ibu’, terutama dalam kata ‘Hari Ibu’ sangat terikat dengan konteks sejarah yang melatarbelakanginya. Dalam hal ini, saya sepakat dengan yang diungkapkan oleh Kartini (1879-1904). 

Kartini, melalui suratnya tanggal 2 September, 1902, yang ditujukan kepada Nyonya Abendanon, menuangkan pandangannya soal makna kata ibu. Ia mengkritik pengertian kata tersebut yang kerap dibatasi hanya jika sudah kawin atau memiliki anak: “..bagi kami lebih tinggi ibu yang jadi ibu karena hati sanubarinya itu daripada ibu yang telah jadi ibu karena badannya.” 

Baginya, seorang perempuan yang mengorbankan diri demi kepentingan orang lain dengan segala rasa cinta, ketulusan dan kebaikan yang ada di dalam hatinya, perempuan itu ibu-lah dalam hati sanubarinya. Kartini berpendapat, kalau kata ibu lebih bermakna kuat pada kerja-kerja sosial yang memberi manfaat pada orang lain daripada persoalan biologis. 

Barangkali, penyebutan ‘Hari Ibu’ bisa diartikan melangkahi makna yang terlanjur diamini banyak orang. Ibu yang dimaksudkan bukan merujuk pada ibu biologis tetapi bagi perempuan yang mempertaruhkan diri demi kepentingan banyak orang dengan segala rasa cinta, semangat dan keikhlasan yang ada di dalam hatinya. 

Maka, ‘Hari Ibu’ sepertinya akan lebih pas jika diarahkan pada penghormatan bagi para pejuang perempuan (masa lalu maupun masa kini). Penghormatan itu tentu tidak boleh dicukupkan hanya pada ucapan seremonial, tetapi yang terpenting melanjutkan perjuangan dan cita-cita yang telah mereka upayakan. 


Editor: Kendi Setiawan
logo