Kartini dan Teknologi

Kartini dan Teknologi

Kartini lahir diasuh suara dering telepon, asap kereta api, gemerlap cahaya lampu, dan kemajuan produksi kapal. Perkembangan teknologi membanjiri hidup Kartini dengan semangat perubahan. Telepon berdering menyaingi suara-suara bangsawan yang haus rasa sembah, asap kereta api memangkas sekat antar wilayah, dan gemerlap cahaya lampu memberi keyakinan telah dekat masa kemajuan.

Kartini Sebuah Biografi (1979) gubahan Sitisoemandari Soeroto menuliskan kemajuan yang bertemu jalan buntu. Dikisahkan pada permulaan abad ke-20, pesawat telepon mulai memasuki wilayah Tegal. Pangreh-praja wilayah Tegal mulai menggunakan pesawat telepon. Bupati Tegal memohon kepada asisten residen agar kabupatennya dibebaskan dari teknologi tersebut. Ketika asisten residen bertanya, mengapa ia menghendaki hal demikian. Benda itu menyenangkan sekaligus memudahkan urusan. Pangeran itu menjawab: “Saya akui, tapi kalau sekiranya saya bicara dengan seseorang asisten wedana dengan pesawat itu atau seorang amtenar lain yang sederajat dengan saya itu, saya tidak bisa lihat, apakah dia menyembah akua tau tidak.”

Di hadapan gadis Jawa asal Jepara, telepon punya cerita lain. Kartini, beberapa kali menyebutkan kabel dan telepon dalam surat-suratnya. Ia menyambut kehadiran teknologi itu dengan ungkapan rasa optimis. Tulisan yang ditujukan pada Henri Van Kol mengisahkan kebahagiaannya membayangkan bisa menggunakan pesawat telepon: “Rasanya seolah-olah ada kabel telepon tak terlihat antara sini dengan Lali Djiwa dan kembali lagi.” Kata “sini” mengacu pada tempat tinggalnya dan Laly Djiwa adalah rumah Van Kol di Prinsenhage, Belanda.”Kartini mendambakan keinginan untuk menggunakan, mengelola dan memanfaatkan teknologi.

Dalam suratnya tertanggal 31 Desember 1901 kepada Nyonya Abendanon, ditemukan perumpamaan teknologi transportasi yang disebut Kartini untuk melukiskan perasaannya: “Tiada suka kami lagi untuk menumpang kapal yang telah rusak binasa itu. Hendaklah diikhtiarkan barang sesuatunya dalam perkara buruk dan sedih itu”. Lalu pada surat tertanggal 20 Agustus 1902 yang ditujukan kepada Nyonya Van Kol, Kartini juga menyebutkan beberapa nama kendaraan: “Tiada jauh, tetapi sangatlah sukar mencapainya, tiada dapat ke sana dengan naik tram, dengan kereta api atau dengan kapal dan kekayaan diada dapat membawa kita kepadanya.” Isi surat menggambarkan pengetahuan Kartini menyoal kendaraan yang didukung oleh kemajuan teknologi.

Pada tanggal 2 Juni 1923, Carel Balsem dalam Herrineringen Raden Adjeng Kartini,De Indische Post, yang ditulis ulang dalam buku Panggil Aku Kartini Saja (2021) mengisahkan interaksi Kartini dengan teknologi kapal perang: “..aku terpanggil khusus untuk menemani putri tertua bupati Jepara, Raden Ajeng Kartini, untuk melihat-lihat kapal perang kami. Dan segera saja setelah mendengarkan pertanyaan-pertanyaan serta perhatian-perhatiannya terkesanilah aku oleh keterpelajaran dan kayanya akan bacaan dan akan penegtahuannya, yang dimilikinya dari dunia barat yang begitu asing dan spesifik.” Kekaguman salah satu opsir kapal tersebut ketika terjadi percakapan diantara mereka, menunjukkan bahwa Kartini mengetahuai banyak hal menganai transportasi. 

Pada bulan Mei, 1900, Gubernur Jenderal baru, W. Rooseboom yang menggantikan Van der Wijck, beserta Nyonyanya berkunjung ke Semarang. Untuk menyambutnya di Semarang, diadakan pesta besar. Bupati Jepara beserta istri dan puteri-puterinya diundang. Mereka menuju Semarang naik kereta. Sitisoemandari Soeroto di bukunya, menceritakan bahwa terjadi obrolan yang asik di dalam kereta oleh tiga saudara, mata mereka terbuka lebar dipenuhi ketakjuban melihat Sositet de Harmonie gemerlapan  dengan beribu-ribu lampu seperti gedung sihiran timbul dari sebua kolam api. Persis sebuah istana dari seribu satu malam. Selain kota Semarang, Kartini juga melakukan kunjungan ke kota-kota lain, seperti Batavia, Bandung dan Yogyakarta. Kartini menatap peradaban-peradaban modern.

Cerita Kartini dan kereta direkam dalam koran Tempo berjudul Kartini dan Kereta Api edisi 17 April, 2011 susunan Istiqomatul Hayati. Digambarkan dalam tulisannya, tanggal 8-9 Agustus 1901, Kartini membangkitkan ingatan ketika berpisah dengan Nyonya Abendanon Mandri: "Roda-roda kereta bergerak meninggalkan stasiun. Mereka sudah pergi amat jauh dari kami. Kenangan tak terlupakan selama perjalanan ke stasiun, walaupun sudah berlalu satu tahun, semua nampak segar dan jelas dalam ingatanku.” Kehidupan Kartini tidak hanya terjalin dari lembaran-lembaran kertas tetapi juga kemajuan industri kereta api hindia Belanda yang sedang bertumbuh.

Bacaan Kartini juga tentu memberikan pengetahuan menyoal teknologi. Kartini melahap bacaan lintas negara. Saat dalam masa pingitan, ia tidak bisa menjelajahi berbagai wilayah, tetapi ia mengundang dunia hadir di kamarnya melalui buku-buku. Dalam Seri Buku Tempo berjudul Gelap Terang Hidup Kartini (2019) dijelaskan bahwa Sosrokartono, kakak Kartini selalu membawakan buku-buku untuk adiknya dari menyoal pengetahuan dunia modern, revolusi perancis, hingga novel-novel populer dari Jerman, Prancis dan Belanda. Buku berjudul RA Kartini (1985) gubahan Tashadi mengisahkan Kartini juga membaca buku-buku kisah perjalanan, salah satunya tentang kisah perjalanan ke Aljazair yang ditulis oleh Anna Ekker.

Di Museum Kartini Rembang, kita menemukan jejak teknologi dalam kediamannya. Dijumpai kamar mandi bergaya Eropa. Sebuah bak mandi putih berbahan porselen tergeletak kokoh. Kita juga akan melihat shower berbahan pipa besi yang tertanam di dinding kamar mandi. Kepala pancuran berbentuk bulat, berukuran lebih besar dari pipa dan memiliki beberapa lubang kecil untuk menyalurkan air. Kedua benda ini awal mula diperuntukan hanya untuk orang Belanda, tapi kemudian dimiliki juga oleh Kartini. Kita menduga mungkin saja Kartini berendam air hangat berlama-lama dengan teknologi water heater. Teknologi pemanas air yang belum banyak tersebar di tanah Jawa.

Dugaan itu muncul, sebab ditemukan sebuah radio di rumahnya. Bagian dalam terbuat dari anyaman semacam karung goni. Radio ini memiliki dua tombol pemutar volume dan chanel. Sementara saluran yang digunakan masih memakai AM. Kita mencoba membayangkan kehidupan Kartini ditemani energi listrik.

Rembang merupakan kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Teluk Rembang (Laut Jawa) di utara, Kabupaten Tuban (Jawa Timur) di Timur, Kabupaten Blora di Selatan, serta kabupaten Pati di barat. Secara geografis terletak di ujung timur laut Provinsi Jawa Tengah dan dilalui jalan Pantai Utara Jawa (Jalur Pantura).

Dalam sejarahnya, pada masa Paku Buwono II, Rembang memiliki sejarah sebagai salah satu kota Pantai dengan Pelabuhan yang cukup besar dan memegang peranan penting dalam perdagangan kayu jati. Demikian halnya pada masa VOC dan pemerintahan Kolonial Belanda.
Beberapa komoditas ekspor dari Rembang di samping kayu jati adalah kapal. Kapal merupakan salah satu produksi dari daerah Rembang karena terdapat industri perkapalan yang cukup terkenal. Disamping itu juga tumbuh industri kecil lainnya yang mendukung industri kapal seperti pembuatan tali temali, layar, dayung dan beberapa komponen kapal lainnya.

Rembang dengan pelabuhannya dalam konteks ekspor hasil bumi telah menjadi tempat atau pusat-pemasok bagian wilayah terutama Pantai Utara, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sebaliknya, Rembang dengan pelabuhannya dalam konteks impor barang merupakan tempat berkumpulnya barang dari berbagai wilayah, paling tidak Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Rembang menjadi tempat yang padat aktivitas.

Letak wilayah Rembang yang berada di Pesisir dan mobilitas perekonomian yang  tinggi membuat kita berasumsi bahwa Kabupaten Rembang, bertumbuh seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Pertumbuhan itu tentu berdampak pada kehidupan Kartini yang memiliki posisi sebagai istri Bupati.

Teknologi menjadi media demokratisasi dalam tatanan suatu negara. Penolakan beberapa bangsawan pada kemajuan teknologi diduga karena kekuatan teknologi mampu menanggalkan baju kebangsawanan yang selama ini mereka agung-agungkan.

Kehadiran pesawat telepon, kereta api dan perkembangan kapal laut, perlahan akan mengguncang khayalan dan mitos yang dipercayai oleh rakyat. Dahulu, berkomunikasi jarak jauh tanpa proses pertemuan dianggap sebagai keajaiban yang hanya dimiliki oleh  orang-orang sakti. Perpindahan antar wilayah dengan waktu tempuh yang singkat hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu. Dengan kehadiran pesawat telepon, kereta api dan kapal laut, semua mitos superioritas kaum bangsawan terpatahkan karena memungkinkan rakyat biasa melakukan hal yang sama.

Gagasan itu tentu didukung Kartini. Sejak muncul kesadaran akan kesetaraan manusia, Kartini menilai beberap adat istiadat kaum Bangsawan sangat tidak manusiawi. Ia menginginkan persamaan kedudukan dan penghormatan berdasarkan budi pekerti bukan darah keturunan. Ia sadar, hal itu bisa terwujud lewat teknologi. 

Keterlibatan teknologi dalam hidup Kartini sangat lekat. Mula-mula dengan shower di kamar mandinya, lalu telepon, kereta api yang mengantarkan ia ke beberapa tempat, gemerlap lampu-lampu di kota yang menyambutnya, kapal yang mengirimkan surat-suratnya ke benua lain,  mesin cetak yang membuatnya bisa mengakses pengetahuan dunia.

Pada akhirnya, jejak teknologi di pulau Jawa tersimpan dalam kumpulan surat-surat Kartini. Perempuan itu turut merekam kondisi zamannya. Namun sayangnya, dalam narasi menyoal perempuan dan teknologi, kita jarang mendapatkan nama Kartini. Padahal, ia menjadi perempuan pertama-tama yang turut menceritakan dan merasakan perkembangan teknologi di awal abad ke-20.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo