Kelahiran Gus Dur: Demokrasi dan Novel

Kelahiran Gus Dur: Demokrasi dan Novel

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih terus bersama kita. Indonesia saat murung, lesu, girang, atau terang selalu mengingatkan kita dengan sosok pemberi warisan-warisan “kebingungan”. Gus Dur (1940-2009) belum selesai memberi bingung tanpa kita mudah memberi jawaban-jawaban benar. Kita mendingan “bingung” bersama Gus Dur untuk menggerakkan Indonesia dengan seribuan cerita dan pemaknaan kadang meleset.

Greg Barton (2006) bingung dan ragu. Semua bersumber dari ulang tahun. Orang-orang telanjur bergembira bila tiba 4 Agustus. Konon, tanggal itu mengingatkan kelahiran Gus Dur. Kebiasaan ingin diralat. “Gus Dur memang dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan,” pikir Greg Barton. Pencantuman waktu berdasarkan kalender Islam. Jawaban ingin dicari agar benar. Usaha agak sia-sia setelah buku doa keluarga dikabarkan hilang pada masa 1960-an. Di buku, ada catatan kelahiran anak-anak KH Abdul Wahid Hasyim. Buku hilang, jawaban tak pernah pasti. Ralat ingin diajukan dengan bukti-bukti: Gus Dur dilahirkan pada 4 Sya’ban 1940 atau 7 September 1940. 

Kini, kita bertemu 7 September 2024, saat mengingat (lagi) Gus Dur sambil memikirkan demokrasi di Indonesia. Kita biasa mengenang Gus Dur sebagai penggerak demokrasi dan presiden. Predikat melekat dan menguatkan peran Gus Dur dalam arus peradaban Indonesia: penulis. Ia tampil sebagai penulis sebelum dan setelah menjadi presiden. Predikat lebih berumur lama dan berdampak besar dalam agenda-agenda keaksaraan di Indonesia.

Kita mula-mula membuka album gagasan demokrasi Gus Dur. Pada 1993, ia mengemukakan: “Pada hakikatnya, pertentangan abadi antara rangkaian kebenaran objektif yang diajukan rakyat pada suatu masa dan kebenaran subjektif yang tunggal yang diajukan oleh pemerintah diktatorial tidak dapat dilerai sehingga dalam perspektif kesejarahan akan tampak sia-sia saja semua upaya incremental atau bertahap untuk menegakkan demokrasi.”

Selama puluhan tahun, “demokrasi” itu istilah sering mendapat tafsir Gus Dur saat Indonesia bergejolak dalam beragam citarasa kekuasaan dan peradaban. Seruan demokrasi masa 1990- itu berkaitan ajakan menegakkan demokrasi tanpa kekerasan. 

Selama puluhan tahun, tulisan-tulisan Gus Dur sering memusat atau mengandung masalah demokrasi. Pada 1998, Gus Dur menulis artikel berjudul “Masa Depan Demokrasi Indonesia”. Peringatan disampaikan: “Konstelasi politik yang ada belum memungkinkan tumbuhnya demokrasi yang sebenarnya karena masih banyaknya rekayasa dan intrik yang berlaku.” Pada suatu masa, demokrasi di Indonesia memang penuh misteri. Gus Dur kadang memberi misteri atau memecahkan misteri, berharap ejawantah demokrasi Indonesia setelah keruntuhan rezim Orde Baru.

Pada saat memikirkan masa depan, Gus Dur berpijak sejarah. Ia pernah memasalahkan sejarah bahasa Indonesia turut dalam pembentukan Indonesia dan penciptaan lakon demokrasi. Masalah bahasa itu berkaitan kemahiran Gus Dur menggerakkan kata-kata menghasilkan ratusan artikel. Bahasa Indonesia itu alat perekat. Gus Dur (2001) mengartikan bahasa Indonesia mempertemukan dan mencipta persatuan demi demokrasi, dipengaruhi peristiwa bersejarah 1928. Ia pun menganggap novel-novel gubahan Marah Roesli, Abdoel Moeis, dan Marga T menjadikan bahasa Indonesia “mantap” dalam perkembangan dan pemuliaan Indonesia. 

Novel-novel memang ikut membentuk biografi Gus Dur. Greg Barton (2006) mengisahkan Gus Dur saat remaja: “Gus Dur sudah menjadi pecandu bacaan. Ia jarang pergi keluar tanpa membawa sebuah buku. Bila ada sesuatu yang tak dapat ditemukannya di perpustakaan di rumahnya, ia diizinkan untuk mencarinya di toko-toko yang menjual buku-buku bekas di Jakarta."

Dulu, Gus Dur tak melulu membaca buku-buku berat atau bermutu tinggi. “Gus Dur juga menyukai sastra picisan,” tulis Greg Barton. Bacaan menghibur meski Gus Dur serius untuk membaca dan memungut hikmah-hikmah dalam khazanah sastra klasik. Ia getol sebagai pembaca novel meski gagal mewujudkan keinginan menjadi penulis novel. Deretan bacaan itu turut memberi pengaruh saat ia rajin dalam mengungkapkan demokrasi menautkan sejarah dan masa depan. 

Kita mengandaikan dulu Gus Dur menjadi kritikus sastra. Ia bakal membuat umat sastra di Indonesia tertawa, sebal, girang, dan senewen. Cara berbahasa dan corak pemikiran Gus Dur memungkinkan kritik sastra bakal mendebarkan tanpa lupa mengajak tertawa dan merengut. Gus Dur tak memilih menjadi kritikus sastra. Ia berjalan dalam terang-gelap untuk memberi seruan dan kritik demokrasi. 

Pada 1993, Gus Dur menghormati tokoh dan mengingat pesan disampaikan berkaitan NU dan demokrasi. Tulisan itu mengandung jejak rumit NU dan demokrasi. Gus Dur dianjurkan mundur dari NU saat ia rajin berseru tema-tema keindonesiaan, tak melulu agama. Gus Dur insaf situasi masa 1990-an: “Bahwa dengan ‘menggendong’ beban NU, upaya menegakkan demokrasi menjadi semakin tidak mudah. Karena para pemimpin NU yang lain justru tidak ingin kemapanan yang ada diusik orang.” Gus Dur malah makin menginginkan demokrasi “terajarkan” dan terwujud dalam perkembangan NU. 

Kita mengerti bila seruan demokrasi tak semuadah membuat kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia. Gus Dur memastikan demokrasi bukan fiksi. Di lakon membesarkan NU dan memikirkan Indonesia. Gus Dur mungkin ingin demokrasi mirip sastra: bisa serius dan picisan. Orang-orang diajak mencipta demokrasi dengan ketulusan tanpa mengabaikan hiburan dan kesenangan atas nama keindonesiaan. Begitu.  


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
logo