Di bawah langit Makkah yang terbakar, di mana pasir berbisik tentang rahasia abadi dan doa-doa mengalir seperti sungai tak terputus, seorang pria melangkah dengan hati-hati, jubahnya berkibar lembut diterpa angin gurun. Namanya, di tanah suci ini, adalah Abdul Ghaffar, tetapi di balik nama itu tersembunyi Christiaan Snouck Hurgronje, seorang cendekiawan Belanda, orientalis yang haus pengetahuan, dan mata-mata kolonial dengan agenda yang terselubung.
Tahun 1885, Snock menyusup ke jantung dunia Islam, membawa pena sebagai senjata dan iman pinjaman sebagai perisai. Dalam Mekka in the Latter Part of the 19th Century: Daily Life, Customs and Learning. The Moslims of the East-Indian Archipelago (2007), Snouck merangkai catatan etnografis yang cogah, penuh detail tentang kehidupan, adat, dan spiritualitas Makkah. Namun, di balik pengamatan ilmiahnya, terselip kisah yang lebih dalam: pengalaman ibadahnya sebagai seorang Muslim “baru” di tengah kerumunan umat yang beriman. Ini adalah kisah perjalanan Snouck—seorang peziarah yang terpecah antara pengabdian dan pengkhianatan, antara kekaguman dan keterasingan.
Bayangkan sebuah pagi di Makkah, tatkala azan subuh menggema dari menara-menara masjid, membelah udara yang masih dingin. Di halaman Masjidil Haram, ribuan peziarah bergerak laksana ombak, mengelilingi Ka’bah dalam ritme tawaf yang hipnotis. Di antara mereka, seorang pria berkulit pucat, berjenggot rapi, dan mengenakan jubah semenjana berjalan dengan kepala tertunduk. Ia adalah Snouck Hurgronje, yang telah meninggalkan Leiden, kota akademik yang dingin, untuk menyelami pusat spiritual Islam.
“Seseorang yang ingin memahami Islam harus melihatnya di pusatnya, di Makkah, di mana semua aliran pemikiran dan praktik keagamaan bertemu,” tulisnya (2007: 2).
Akan tetapi untuk memasuki kota yang hanya boleh dimasuki umat Muslim, ia harus menjadi Abdul Ghaffar, sebuah identitas yang dibangun dengan perhitungan cermat: mempelajari Al-Qur’an, menghafal doa-doa, dan bahkan menjalani sunat sebagai tanda pengabdian yang meyakinkan.
Snouck tiba di Makkah melalui Jeddah, kota pelabuhan yang hiruk-pikuk, di mana kapal-kapal membawa peziarah dari seluruh dunia. Ia mencatat keragaman yang mencolok:
“Kota ini adalah cerminan dunia Islam, di mana orang-orang dari Maghreb hingga Jawa berkumpul dalam satu tujuan” (2007: 18).
Di Masjidil Haram, ia berdiri di tengah kerumunan, mengikuti arus tawaf dengan hati-hati. “Gerakan massa ini mengalir laksana sungai yang teratur, setiap individu seolah-olah dipandu oleh kekuatan tak kasatmata,” catatnya dengan kekaguman (2007: 45). Tangannya menyentuh Hajar Aswad, mulutnya mengucap doa-doa yang telah dihafalnya, tetapi matanya selalu waspada, mencatat setiap detail, setiap wajah, setiap gerakan. Di sini, di tengah kerumunan yang suci, ia adalah seorang yang kesepian, terpisah oleh rahasianya sendiri.
Menjadi Abdul Ghaffar adalah tarian di ujung pisau. Satu kesalahan—pengucapan yang salah, sikap yang canggung—dapat membongkar penyamarannya. “Di Makkah, orang-orang ramah tetapi waspada,” tulisnya. “Mereka menyambut peziarah, tetapi juga mengawasi orang asing, terutama di masa ketika intrik politik merajalela” (2007: 67).
Untuk memperkuat kedudukannya, Snouck menikahi seorang wanita lokal, sebuah langkah yang tidak hanya mengikatnya pada masyarakat, tetapi juga menambah beban pada hati nuraninya. Ia tidak banyak menulis tentang pernikahan ini, hanya menyebutkan bahwa itu “memperkuat posisi saya di antara penduduk” (2007: 258). Namun, kita bisa membayangkan betapa rumitnya hubungan itu: seorang pria yang menyembunyikan identitas sejatinya, berbagi hidup dengan seseorang yang mempercayainya sebagai seorang Muslim sejati.
Denyut Kehidupan
Snouck tinggal di Makkah selama beberapa bulan, menyewa sebuah rumah ugahari di kawasan yang penuh hiruk-pikuk. Ia melukiskan kehidupan sehari-hari dengan detail yang hidup, seolah-olah ingin menangkap setiap nafas kota suci itu. “Pagi dimulai dengan azan yang menggema dari menara-menara masjid, membangunkan kota dari tidurnya,” tulisnya. “Pasar-pasar mulai hidup, pedagang menjajakan kurma, kain, dan pernak-pernik keagamaan, sementara di sudut-sudut, para ulama mengajar murid-murid mereka” (2007: 89). Ia sering duduk di majelis-majelis keagamaan, mendengarkan diskusi tentang tafsir Al-Qur’an atau hukum fikih, mencatat dalam pikirannya setiap perkataan. “Makkah adalah universitas terbuka,” catatnya, “di mana setiap orang, dari yang paling sederhana hingga yang paling terpelajar, dapat belajar dan berdebat” (2007: 112).
Pasar-pasar Makkah adalah teater kemanusiaan, tempat di mana aroma keringat bercampur dengan wewangian minyak oud. Snouck mengamati pedagang yang menawarkan barang dengan penuh semangat, peziarah yang tawar-menawar dengan logat asing, dan anak-anak yang berlarian di antara kerumunan. Ia terpesona oleh keragaman penduduk, terutama para peziarah dari Hindia Timur, yang menjadi fokus perhatiannya karena koneksi mereka dengan koloni Belanda.
“Orang-orang Jawa datang dengan kesederhanaan yang mencolok,” tulisnya.
“Mereka mengenakan sarung, berdoa dengan cara yang sedikit berbeda, dan sering kali dipandang rendah oleh peziarah liyan karena dianggap kurang murni dalam praktik keagamaan mereka” (2007: 134). Akan tetapi, bagi Snouck, mereka adalah kunci untuk memahami Islam di Asia Tenggara, sebuah pengetahuan yang kelak akan ia gunakan untuk memperkuat kekuasaan kolonial.
Di balik keramaian, Snouck juga mencatat ketegangan sosial. “Penduduk Makkah bergantung pada musim haji untuk penghidupan mereka,” tulisnya, “tetapi mereka juga merasa superior dibandingkan peziarah, yang mereka anggap sebagai tamu sementara” (2007: 156). Ia meneroka bagaimana ekonomi haji membentuk kehidupan kota, dari penyedia penginapan yang menyewakan kamar-kamar kecil hingga pedagang makanan yang menjajakan roti dan daging panggang. Di tengah semua ini, Snouck bergerak seperti bayang-bayang, hadir tetapi tak sepenuhnya nyata, mencatat dunia yang ia amati dengan pena yang tak pernah lelah.
Ibadah adalah inti dari pengalaman Snouck di Makkah, tetapi juga paradoks yang menghantuinya. Sebagai Abdul Ghaffar, ia menjalankan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, dan mengikuti ritual-ritual keagamaan dengan penuh perhatian. Ia melukiskan salat Jumat di Masjidil Haram dengan penuh kekaguman:
“Imam berdiri di mimbar, suaranya menggema di seluruh masjid, dan ribuan kepala menunduk dalam kekhusyukan. Setiap gerakan, dari takbir hingga salam, dilakukan dengan presisi yang menakjubkan” (2007: 178).
Malam-malam di Masjidil Haram, ketika lampu-lampu minyak menerangi halaman dan suara tilawah mengisi udara, juga meninggalkan kesan mendalam. “Ada keajaiban dalam pemandangan ini,” tulisnya, “ketika manusia dari segala bangsa bersatu dalam satu tujuan” (2007: 190).
Namun, di balik deskripsi yang puitis, ada jarak yang tak terucapkan. Snouck menulis, “Seorang pengamat harus menjaga jarak dari apa yang ia pelajari, tetapi di Makkah, jarak itu musykil dipertahankan” (2007: 203). Apakah ia pernah merasakan kekhusyukan yang ia gambarkan? Ataukah ia hanya seorang aktor yang memainkan peran dengan sempurna? Dalam tawaf, ia mengikuti arus peziarah, berjalan mengelilingi Ka’bah dengan ritme yang teratur. “Berjalan mengelilingi Ka’bah adalah pengalaman yang sulit dilupakan,” tulisnya. “Ada ritme dalam gerakan itu, sebuah harmoni yang menyatukan individu-individu menjadi satu kesatuan” (2007: 215). Tetapi ia juga mencatat tantangan praktisnya: “Kerumunan yang padat membuatnya sulit untuk tetap fokus, dan seseorang harus berhati-hati agar tidak terinjak atau terpisah dari kelompoknya” (2007: 216). Di sini, Snouck terungkap sebagai seorang yang terpecah: ia menghargai makna ritual, tetapi pikirannya tetap analitis, memperhatikan detail yang mengasingkannya dari pengalaman spiritual.
Ibadah, baginya, adalah jembatan yang membawanya lebih dekat ke masyarakat Makkah, tetapi juga jurang yang memisahkannya dari mereka. Ia bisa meniru gerakan, mengucapkan doa, tetapi iman adalah wilayah yang tak bisa ia sentuh. Di tengah kerumunan yang berdoa, ia adalah seorang pengelana yang sendirian, terjebak dalam teater yang ia ciptakan sendiri.
Menjalani kehidupan sebagai Abdul Ghaffar adalah ujian ketahanan. Snouck harus terus berhati-hati, terutama karena Makkah adalah kota yang penuh pengawasan. “Orang-orang di sini ramah, tetapi mereka tidak mudah percaya,” tulisnya. “Seorang asing harus membuktikan dirinya melalui tindakan dan perkataan” (2007: 230). Ia tinggal bersama keluarga lokal, berbagi makanan, dan menghadiri acara-acara sosial, tetapi selalu ada ketegangan di bawah permukaan. Salah satu momen paling dramatis adalah ketika seorang peziarah dari Damaskus mencurigai aksennya. “Ia bertanya tentang asal-usul saya dengan nada yang penuh curiga,” catat Snouck, “dan saya harus mengarang cerita tentang perjalanan saya dari wilayah terpencil di Anatolia” (2007: 245). Dengan kejeniusan dan ketenangan, ia mengelak, tetapi insiden itu mengingatkannya akan bahaya yang mengintai. “Di Makkah, kebenaran adalah mata uang yang berharga, dan sebuah kebohongan, jika terbongkar, dapat berakibat fatal,” tulisnya (2007: 246).
Pernikahannya dengan wanita lokal menambah lapisan kerumitan. Hubungan ini, meskipun memperkuat posisinya, pasti membawa pergulatan batin. Bagaimana rasanya berbagi kehidupan dengan seseorang sambil menyembunyikan identitas sejati? Snouck tidak pernah menulis secara eksplisit tentang perasaan pribadinya, tetapi kita bisa merasakan beban itu dalam keheningan catatannya. Ia adalah seorang yang hidup di perbatasan dua dunia, tidak sepenuhnya milik salah satunya.
Doa yang tak Terucap
Tatkala Snouck akhirnya meninggalkan Makkah, ia membawa serta catatan-catatan yang menjadi salah satu dokumentasi paling penting tentang kehidupan di kota suci pada abad ke-19. “Makkah adalah cermin dunia Islam,” tulisnya, “dan memahaminya berarti memahami jiwa umat yang tersebar di seluruh dunia” (2007: 280). Bukunya, Mekka in the Latter Part of the 19th Century, adalah karya etnografis yang luar biasa, penuh dengan pengamatan tentang agama, budaya, dan dinamika sosial. Akan tetapi warisannya tidak sesederhana itu. Pengetahuan yang ia peroleh digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memperkuat kendali atas Hindia Timur, termasuk dengan merumuskan kebijakan yang membatasi haji dan memantau aktivitas keagamaan. “Saya datang sebagai pelajar,” tulisnya, “tetapi saya juga seorang anak dari zaman saya, dengan tanggung jawab kepada negara saya” (2007: 295).
Bagi dunia Islam, Snouck adalah figur yang penuh kontradiksi: seorang cendekiawan yang menghormati Islam, tetapi juga seorang penyusup yang mengeksploitasi kepercayaan umat. Catatannya tetap menjadi sumber berharga, tetapi juga mengingatkan kita akan hubungan rumit antara pengetahuan dan kekuasaan. “Makkah adalah tempat di mana hati manusia diuji,” tulis Snouck di akhir catatannya, “dan saya, seperti yang lain, meninggalkannya dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban” (2007: 310). Dalam kalimat ini, kita melihat sekilas kerentanan Snouck—bukan sebagai orientalis atau agen kolonial, tetapi sebagai manusia yang bergulat dengan makna pengalamannya.
Di bawah langit Makkah yang tak pernah berubah, di mana Ka’bah berdiri kokoh dan doa-doa terus mengalir, kisah Snouck Hurgronje adalah cerminan dari kerumitan kemanusiaan. Ia datang sebagai pencari, berlutut di antara peziarah, mengucapkan doa-doa yang dipinjam. Namun ia juga seorang outsider, membawa rahasia yang memisahkannya dari dunia yang ia amati. Ia meninggalkan Makkah dengan buku catatan yang penuh, tetapi juga dengan hati yang mungkin kosong, terbebani oleh pertanyaan yang tak pernah terjawab.
Kalakian, kisahnya adalah perihal batas-batas: antara iman dan pengetahuan, antara pengabdian dan pengkhianatan, antara seorang peziarah dan seorang penyusup. Di tengah kerumunan yang suci, ia berjalan sendirian, seorang pengelana yang mencintai dunia yang ia amati, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bagian darinya. Dan di suatu sudut Masjidil Haram, di mana lampu-lampu minyak masih berkedip dan suara tilawah terus bergema, bayang-bayang Snouck tetap hadir—seorang pria yang, untuk sesaat, berlutut di antara umat, tetapi selamanya terpisah oleh rahasianya sendiri.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus
