Jalan dalam ingatan sejarah perempuan banyak mengandung maksud perjuangan, variasi gerakan, dan ruang kolektif menuntut kebebasan. Jalanan bisa dipenuhi suara-suara tuntutan, poster protes, hingga nyanyian. Jalan diamini sebagai ruang paling ampuh mengabulkan harapan perempuan tentang keadilan.
Sampai batas tertentu, pengertian itu bisa diterima. Pada tahun 1998, gerakan Suara Ibu Peduli yang diusung tokoh-tokoh perempuan Indonesia turun ke jalan menyampaikan berbagai tuntutan. Di buku Feminisme Sebuah Kata Hati (Kompas, 2006), Gadis Arivia menceritakan keterhubungan perempuan dengan jalan.
“Ketika sejumlah ‘ibu-ibu’ memutuskan untuk turun ke Bundaran Hotel Indonesia pada bulan Februari 1998 dan tiga “ibu-ibu” (Wilasih, Karlina Leksono, dan Gadis Arivia) ditangkap, sejak itu pemberitaan keberanian ‘ibu-ibu’ ini menjadi berita besar dan menjadi headline di hampir seluruh koran lokal dan diliput oleh sejumlah pers asing”.
Paragraf di atas menjadi pembuka dari esai yang ditulis Gadis bertajuk Suara Ibu Peduli: “Politik Susu”. Tulisan itu menjabarkan gerakan perempuan lewat strategi bahasa dan wacana dalam melakukan aksi politik dan perjuangan feminisme. Aksi ini dilakukan dalam iklim represif yang menuntut adanya keadilan demokrasi. Mencakup bagi laki-laki maupun perempuan dalam mengontrol tubuh, pergerakan, dan kehidupan mereka.
Kini, perempuan masih terhubung dengan jalan. Keterhubungan itu beralih bentuk melibatkan agama, perangkat otomotif, citra tanda, dan konstruksi soal cinta. Peralihan itu membuahkan tragedi, perhitungan keuntungan, dan konflik. Tubuh perempuan masih berada di jalan tapi sering tak membawa sejarah. Tubuh itu tenggelam dalam imajinasi publik.
Perempuan, Jalan, dan Agama
Seorang perempuan (45) asal Sulawesi Selatan menutup usia setelah mengalami kecelakaan. Peristiwa itu terjadi di jalan masuk Pelabuhan Larea-rea. Korban tewas setelah mengalami kondisi leher tercekik karena jilbab yang digunakan terlilit gear motor. Kita bisa mendapatkan banyak kasus serupa; Perempuan, jilbab, jalan, dan kematian.
Paling sering ditemui; jilbab menutup lampu sein. Lampu itu punya peran penting sebagai isyarat bagi pengendara lain tentang niat berbelok, berpindah jalur, atau melakukan manuver lainnya. Aturan itu tidak lagi menjadi penting ketika narasi keimanan, kesalehan, dan aurat dijejalkan pada tubuh perempuan tanpa pertimbangan maslahat, keamanan, dan keselamatan.
Agama dan tubuh perempuan memang kerap menimbulkan kontradiktif. Jurnal Perempuan dalam edisi Perempuan dan Fundamentalisme (2003) menuliskan kalau gejala gerakan keagamaan yang konservatif dan eksklusif kerap merugikan bagi perempuan. Ini tidak hanya ditemukan dalam Islam tetapi juga pada agama lain. Fundamentalisme dalam agama juga terjadi dalam Buddhis dan Katolik.
Beberapa penafsiran menyudutkan perempuan pada resiko diskriminasi dan ketidakadilan. Jo Priastana, menjelaskan bahwa pada fundamentalisme Buddhis ditemukan peraturan-peraturan diskriminatif, misalnya pada hasil Konsili Pertama setelah Sang Buddha wafat. Delapan aturan dalam 8 garudhamma dinilai sebagai bentuk penghancuran Sangha Bhikkhuni, dan gejala menyusupnya kembali kultur patriarkis.
Intan Darmawati juga menuliskan bahwa dalam ajaran gereja, ditemukan dikotomi dan ambigu tentang moralitas perempuan, seksualitas, peranan perempuan, perceraian dan kontrasepsi yang kerap kali menjadi ruang terjadinya kekerasan terhadap perempuan dengan legitimasi religious.
Perempuan, Jalan, dan Otomotif
Setelah agama, kita beralih pada desain otomotif. Rupa motor kian disesuaikan dengan tubuh perempuan. Warna, tekstur, dan bentuk dikondisikan semirip mungkin dengan gaya dan nilai yang diberlakukan bagi perempuan. Daya beli masyarakat pada motor matic dan sejenisnya memang terus meningkat seiring makin banyaknya perempuan yang turun dalam ruang-ruang publik.
Motor matic menawarkan cara penggunaan yang berbeda dengan jenis motor kick starter atau yang umumnya banyak digunakan laki-laki. Jika menggunakan motor jenis kick starter kain yang menutup kaki biasanya rawan tersingkap, pinggul pengguna juga akan bergerak naik turun ketika mengengkol.
Ada aturan tidak tertulis yang diyakini masyarakat soal nilai moral antara perempuan dan laki-laki. Jika perempuan mengengkol sepeda motornya itu bisa menjadi masalah karena melibatkan gerakan bokong yang dianggap sensitif. Laki-laki tak dikenakan nilai demikian. Di banyak daerah, perempuan kerap disandingkan dengan nilai moral yang lebih rumit dari laki-laki.
Para pemodal memahami kondisi itu. Dibuatlah design motor yang bisa membuat perempuan tidak menyingkap tubuhnya barang sedikit. Perempuan hanya perlu duduk lalu memencet tombol starter. Motor siapa pakai, tanpa banyak pergerakan. Apa yang menjadi masalah? Saat dibakukan, dimasifkan, dan diyakini sebagai ‘yang benar’, pengguna motor akan rela melakukan apa saja demi menuruti standar yang berlaku.
Motor matic umumnya bisa merogoh kocek lebih besar ketimbang motor-motor engkol. Upaya mewujudkan keinginan itu kerap berakhir dengan kredit. Hutang bagi kalangan bawah dan menengah erat dengan perpecahan dan konflik baik antara orangtua-anak maupun pasangan.
Hal yang akan terjadi ketika daya tarik pada motor bentuk feminim mulai meningkat, peralihan dari nilai guna ke nilai citra semakin besar. Motor tak hanya sebagai alat transportasi tapi menjadi ajang penampilan yang melibatkan perhitungan banyak uang demi dan hanya untuk para pemodal.
Perempuan, Jalan, dan Cinta
Di jalan kita juga bisa menemukan konstruksi cinta antara laki-laki dan perempuan. Pernahkah menjumpai pertengkaran sepasang kekasih di jalan? Perempuan biasanya akan turun dari motor lalu kekasihnya memohon agar ia kembali naik ke kendaraan. Itu adegan yang banyak dijumpai dalam film, atau barangkali, pernah mengalaminya?
Pada malam Minggu, jalanan dipenuhi pasangan yang saling berboncengan. Malam itu sepertinya disepakati sebagai waktu romantis dari malam-malam lainnya. Kita akan menjumpai laki-laki memboncengkan perempuan. Biasanya adegan yang muncul: tangan perempuan dilingkarkan pada pinggang laki-laki.
Di beberapa adegan, kita bisa menemui jenis jok motor selicin belut dengan kemiringan ekstrim. Perempuan yang dibonceng kerap pasrah menyerahkan tubuh pada punggung laki-laki di depannya.
Gambaran di atas menampilkan konstruksi cinta yang terbangun antara laki-laki dan perempuan. Saat terjadi pertengkaran, kenapa perempuan yang turun dari motor, sementara laki-laki diharapkan untuk terus memohon? Kenapa yang memboncengkan kebanyakan laki-laki, sementara perempuan lebih cenderung membonceng?
Ekspresi ngambek dengan turun dari motor dan terus berharap dikejar itu keputusan tanpa sadar yang dilakukan perempuan akibat didikan budaya yang mendukung dirinya untuk merasa utuh ketika ditaklukkan oleh laki-laki. Keberhasilan laki-laki untuk memboncengkan, merengkuh tubuh perempuan lewat pelukan, hingga manipulasi kendaraan juga bisa menjadi bentuk pemenuhan superioritas yang terpuaskan.
Second Sex (1949) susunan Simone de Beauvoir menjadi salah satu buku yang mengulas perihal cinta. Beauvoir memaparkan dikotomi pandangan antara perempuan dan laki-laki dalam melihat relasi percintaan. Cinta bagi perempuan kerap dipahami sebagai kesetiaan, penyerahan total akan tubuh dan jiwa, tanpa pamrih, dan tanpa harapan mendapat imbalan apa pun. Sementara bagi laki-laki, jika ia mencintai seseorang perempuan, apa yang ia inginkan hanyalah cinta dari perempuan.
Jurnal Perempuan edisi Feminisme dan Cinta (2018) juga menuliskan kerangka pemikiran Beauvoir dalam memandang cinta. Bagi laki-laki, jatuh cinta membuat mereka menginginkan objek yang dicintai menjadi miliknya dan mendaku diri sebagai subjek yang berdaulat untuk memiliki dan mengendalikan sang objek. Sedangkan bagi perempuan, jatuh cinta adalah meleburkan diri atau menyerahkan segalanya kepada objek yang dicintai.
Di buku Cinderella Complex (1989), Colette Dowling memaparkan ketakutan kemandirian yang dirasakan banyak perempuan. Mereka tidak mau mengalami kecemasan yang merupakan bagian dari proses perkembangan. Ini terjadi karena pengaruh pola asuhan selama masa anak-anak yang tidak mengajarkan para gadis kecil untuk asertif dan mandiri, kebanyakan dari mereka justru dididik untuk non asertif dan ketergantungan.
Pola ini turut menyumbang pandangan cinta bagi perempuan yang lebih senang ditaklukkan, dilindungi, dan bergantung dengan orang lain.
Pada akhirnya, perempuan dan jalan memberi banyak referensi menyoal sejarah, tubuh, dan konstruksi budaya. Jalan menjadi parade kehidupan perempuan yang menghasilkan banyak cerita untuk dilacak dan ditafsir.
Editor: Kendi Setiawan
