Kumpulan Cerita Filosofis untuk Refleksi Diri dari Buku Burung Berkicau Karya A de Mello SJ

Kumpulan Cerita Filosofis untuk Refleksi Diri dari Buku Burung Berkicau Karya A de Mello SJ

Cerita sudah menemani manusia sejak dulu. Cerita terbukti ampuh menjadi media penyampai pesan paling efektif. Tidak hanya menyampaikan informasi, cerita juga membangkitkan rasa ingin tahu, empati, dan imajinasi. Ini membuat pembaca atau pendengar lebih terlibat secara emosional.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan melalui cerita lebih mudah diingat karena otak manusia bekerja dengan pola naratif. Cerita membantu menghubungkan fakta dengan pengalaman nyata.

Buku Burung Berkicau susunan A.de Mello SJ yang diterbitkan Cipta Loka Caraka pada 1985–terbit pertama 1984–menyuguhkan banyak cerita filosofis yang menarik pembaca memikirkan banyak hal, utamanya spiritual dan permasalahan eksistensial. Dengan gaya cerita yang ringkas dan menggunakan banyak metafora, de Mello berhasil menjadikan buku setebal 208 halaman ini berkesan.

Lima cerita di bawah ini menjadi kisah paling menarik–menurut saya–untuk dibaca sebagai refleksi diri. 

Kios Kebenaran
Ketika aku melihat papan nama pada kios itu, hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kubaca: KIOS KEBENARAN. Mereka menjual kebenaran di sana! 

Gadis penjaga kios bertanya dengan amat sopan, kebenaran macam apa yang ingin kubeli, sebagian kebenaran atau seluruh kebenaran?

Tentu saja seluruh kebenaran! Aku tidak perlu menipu diri, mengadakan pembelaan diri atau rasionalisasi lagi. Aku menginginkan kebenaranku: terang, terbuka, penuh, dan utuh. Ia memberi isyarat, agar aku menuju bagian lain dalam kios itu yang menjual kebenaran utuh. Pemuda penjaga kios yang ada di sana memandangku dengan rasa kasihan dan menunjuk kepada daftar harga.

“Harganya amat tinggi, Tuan,” katanya.

“Berapa?” tanyaku mantap, karena ingin mendapat seluruh kebenaran, berapa pun harganya. 

“Kalau Tuan membelinya, Tuan akan membayarnya dengan kehilangan semua ketenangan dalam seluruh sisa hidup Tuan.”

Aku keluar kios itu dengan rasa sedih. Aku mengira bahwa aku dapat memperoleh seluruh kebenaran dengan harga murah. Aku masih belum siap menerima kebenaran. Kadang-kadang aku mendambakan damai dan ketenangan. Aku masih perlu sedikit menipu diri dengan membela dan membenarkan diri. Aku masih ingin berlindung di balik kepercayaan-kepercayaan yang tak boleh dipertanyakan. 

Jalan Sempit
Sesekali peristiwa, Tuhan memperingatkan rakyat mengenai datangnya gempa bumi yang akan menghabiskan seluruh air yang ada di negeri ini. Air yang kemudian datang mengganti, akan membuat setiap orang menjadi gila.

Hanya nabilah yang menanggapi Tuhan dengan serius. Ia mengusung air banyak-banyak ke guanya di gunung, sehingga cukup kiranya sampai hari kematiannya. Ternyata benar, gempa bumi sungguh terjadi. Air menghilang dan air yang baru mengisi parit, danau, sungai serta kolam. Beberapa bulan kemudian nabi turun ke lembah untuk melihat apa yang telah terjadi. Memang, semua orang telah menjadi gila. Mereka menyerang dan tidak memperdulikannya. Mereka semua yakin, justru dialah yang sudah menjadi gila.

Maka nabi pulang ke guanya di gunung. Ia senang, bahwa ia masih menyimpan banyak air. Tetapi lama kelamaan ia merasakan kesepian yang tak tertahankan lagi. Ia ingin sekali bergaul dengan sesama manusia. Maka ia turun ke bawah lagi. Sekali lagi ia diusir oleh orang banyak, karena ia begitu berbeda dari mereka semua. 

Nabi lalu mengambil keputusan. Ia membuang seluruh air yang disimpannya, minum air baru dan bergabung dengan orang-orang lainnya sehingga sama-sama menjadi gila. 

Mengubah Dunia dengan Mengubah Diriku
Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: “Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!”

Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengan hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: “Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas.”

“Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: “Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri.” Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!

Diogenes
Diogenes, seorang filsuf, makan ubi sebagai santap malamnya. Hal itu dilihat oleh rekannya, filsuf Aristippos yang hidup enak dan mewah karena menjilat raja.

Aristippos berkata:
“Kalau engkau mau belajar menghamba kepada raja, engkau tidak perlu lagi hidup dengan makan sampah seperti ubi itu.”

Jawaban Diogenes:
“Jika engkau sudah belajar hidup dengan makan ubi, engkau tidak perlu menjilat raja.”

Elang Emas
Seseorang menemukan sebutir telur elang dan meletakkannya di eraman induk ayam. Anak elang itu menetas bersama anak-anak ayam dan menjadi besar bersama-sama mereka pula. Selama hidupnya elang itu berbuat sama seperti seekor ayam saja. Ia mengais-ngais tanah untuk mencari cacing dan serangga. Ia berkotek-kotek. Dan ia juga mengebaskan sayapnya dan terbang tak seberapa jauh seperti ayam. Sebab, begitulah lazimnya seekor ayam terbang, bukan?

Tahun-tahun berlalu dan elang itu pun menjadi tua. Pada suatu hari ia melihat seekor burung perkasa terbang tinggi di angkasa biru. Burung itu melayang-layang dengan indah dan lincah melawan tiupan angin, hampir-hampir tanpa mengepakkan sayapnya yang kuat dan berwarna keemas-emasan. 

Elang tua itu melihat ke atas dengan rasa kagum.

“Apakah itu?” tanyanya kepada temannya.

“Itulah elang, raja segala burung,” kata temannya. “Tetapi jangan terlalu memikirkan hal itu. Engkau dan aku berbeda dengan dia.” Maka elang tua itu pun tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Akhirnya ia mati, dengan masih tetap mengira dirinya hanyalah seekor ayam saja. 


Editor: Kendi Setiawan
logo