Perempuan dan Dongeng

Perempuan dan Dongeng

Siapa yang tidak kenal dengan kisah Snow White, Rapunzel, Cinderella, Mariposa, Belle, Tiana, Elsa, Aurora, Jasmine dan sederet tokoh princess lainnya? Dugaan saya hampir seratus persen seluruh kaum hawa mengenal sedikitnya empat kisah dari tokoh princess di atas. Sejak anak-anak, perempuan kerap disuguhi kisah-kisah tersebut. Para princess direpresentasikan sebagai perempuan ideal yang diidam-idamkan. 

Keseluruhan dari cerita film di atas umumnya menceritakan seorang gadis dengan kehidupan penuh kesedihan, kemelaratan atau marabahaya. Lubang hitam itu pada akhirnya berakhir dengan hadirnya sosok pangeran yang mengubah hidupnya menjadi penuh kebahagiaan. "Akhirnya sang princess hidup dengan bahagia selamanya” begitulah narasi akhir dari film-film bernada serupa.

Kita akan mengambil satu sampel kisah yang menjadi ikon seorang princess yaitu Cinderella. Cinderella dikisahkan sebagai gadis muda yang tinggal hanya bersama ayahnya. Sang ayah merupakan seorang pedagang, lalu di kemudian hari menikah dengan wanita yang mempunyai dua orang anak. Cinderella kemudian hidup bersama ibu dan dua saudara tirinya. Tidak disangka ia malah menerima perlakuan buruk dari keluarga tirinya hingga hadir ibu peri yang memiliki sihir menakjubkan.

Ibu peri mampu menyihir labu menjadi kereta kuda yang sangat mewah, menyihir pakaian Cinderella menjadi gaun yang indah hingga Cinderella bertemu dengan sang pangeran dalam pesta dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Kisah ini berakhir dengan pernikahan dan sebuah kutipan penutup “Akhirnya mereka hidup bahagia selamanya”.

Begitu syahdu kisah-kisah yang dibangun dalam film sejenis ini, hidup seolah adalah sebuah lompatan-lompatan penuh kejutan yang pasti berujung kepada kebahagiaan. Segala penderitaan dan kepahitan dalam hidup menjadi memiliki batas akhir yang pada gilirannya akan menjumpai kebahagiaan abadi.

Membedah konsep hiperealitas dan menggunakan pisau analisa gender dalam melihat kisah Cinderella akan menyelamatkan diri dari banyaknya kekecewaan dan absurditas hidup. Dimulai dari menghadapi inkonsistensi antara keinginan manusia dan realitas yang hadir.
Hiperealitas merupakan salah satu fenomena yang banyak ditemui dalam lingkungan masyarakat. Jean Baudrillard menggunakan istilah hiperrealitas untuk menjelaskan adanya rekayasa makna di dalam suatu media. Hiperrealitas media menciptakan suatu kondisi ketika realitas buatan dianggap lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Realitas buatan lebih dipercaya dari informasi yang merupakan real adanya.

Meningkatnya hiperrealitas ditandai dengan banyaknya realitas yang dibuat oleh masyarakat untuk menjadikannya sebagai  identitas baku agar berhasil dikonstruksi ke masyarakat yang lebih  luas. Melalui media masyarakat dapat leluasa membuat sesuatu hal yang bisa jadi bertolak belakang dengan realitas sesungguhnya. Pada kisah-kisah princess di atas, jika kita bedah menggunakan pisau analisis gender sangat jelas ditemukan hiperrealitas yang bias antara laki-laki dan perempuan yang dapat diyakini sebagai sebuah kebenaran.

Dalam kisah Cinderella yang telah diterima jutaan orang, tanpa disadari telah mengkonstruksi kesadaran perempuan menjadi seturut apa yang dikehendaki oleh para pembuat film tersebut. Tidak hanya berhenti pada aspek fisik tetapi juga mental. Lalu juga citra perempuan yang berkait dengan laki-laki dan citra perempuan yang berkait dengan perempuan lainnya. Hal  ini dapat kita analisis dari dialog, alur cerita juga ending akhir.

Citra perempuan yang berkaitan dengan dirinya yang dianggap ideal dalam film Cinderella menunjukkan bahwa perempuan akan lebih disukai jika memiliki beberapa karakter yang khas yaitu pemalu, penurut, lemah, tidak mandiri, dan berfokus pada aspek fisik yaitu kecantikan. Citra perempuan yang berkait dengan laki-laki digambarkan bahwa perempuan tidak mandiri dalam memilih pasangan, sangat mudah dijajah secara seksual, dan cenderung memiliki keyakinan yang hirarki bahwa segala hal berat yang ia lalui akan hilang dengan hadirnya sosok laki-laki.

Citra perempuan yang berkaitan dengan masyarakat digambarkan bahwa perempuan tidak memiliki posisi yang memungkinkan  untuk setara dalam  ruang publik dan ditakdirkan untuk berkutat pada permasalahan domestik. Selain itu, penggambaran untuk saling iri dan menjatuhkan antar perempuan juga jelas ditampilkan.

Nilai sedemikian rupa yang terus dikonsumsi oleh  anak-anak perempuan jika dibiarkan mengalir tanpa analisis dan kritik tentu akan mengkonstruksi dirinya  untuk mengamini kebenaran tersebut. Citra ideal dari sosok perempuan menjadi tunggal. Akibatnya, keotentikan dalam diri perempuan habis disesaki oleh citra-citra yang dikehendaki oleh para pendukung ideologi patriarki.

Kini, beberapa film berupaya memotong narasi dominan yang biasa ditampilkan dalam film bertemakan princess. Snow White and The Huntsman (2012), Mulan (2020), The Princess (2022) menjadi rujukan judul yang bisa dipilih. Cerita di dalamnya dinarasikan ulang dengan pertimbangan gender yang cukup apik. Citra perempuan tidak lagi dilekatkan pada kecantikan fisik dan ketergantungannya pada sosok pangeran tetapi pada kemandirian dan identitas yang utuh. 

Pada film Snow White and Huntsman ada beberapa poin yang bisa kita cermati, dimulai pada pakaian dan kondisi fisik. Snow White ditampilkan jauh dari kata anggun dan lemah lembut. Snow White yang diperankan Kristen Stewart diperlihatkan memakai pakaian yang bertolak belakang dari citra lemah. Dominasi pakaian yang ia gunakan lebih banyak pada gaun gelap sependek lutut (yang dipotong oleh sang Hunstman dengan pedang ) dan dilapisi celana. 

Pemotongan yang dilakukan Huntsman jelas sebuah ledakan baru untuk menyudahi karakter princess yang ajeg dibungkus gaun. Pakaian princes yang digunakan dalam film Mulan dan The Princess juga senada dengan Snow White and Huntsman. Pakaian tidak lagi dilekatkan dengan tujuan kecantikan atau tuntutan masyarakat tetapi berasaskan pada kenyaman dan kebutuhan. 

Akhir cerita dari ketiga film ini juga menarik. Tidak ada pernikahan yang digambarkan sebagai pintu masuk kebahagiaan yang abadi, tidak ada penyelamatan seorang pangeran yang heroik, tetapi mengarah pada keberhasilan impian yang diusahakan oleh sang princess. 

Pada akhirnya, tidak ada yang memiliki visi yang benar-benar tepat dari hidupnya berikut episode dan sudut pandangnya yang merupakan drama hebat. Perjuangan seorang pangeran mencari kekasihnya, pertemuan cinta pertama, dan penyelamatan perempuan cantik yang berada dalam kesulitan seperti yang dijumpai dalam kisah Cinderella dan princess lainnya bukanlah momen dramatis sesungguhnya di kehidupan siapa pun. 

Drama yang sesungguhnya luhur berasal dari kejadian, reaksi dalam kehidupan sehari-hari, dan usaha yang maksimal dari diri sendiri. 
 


Editor: Kendi Setiawan
logo