Hari-hari menjelang Idul Adha, anak-anak berimajinasi sapi. Anak-anak membuka memori setahun silam dan berharap mendapat pengalaman menakjubkan lagi. Memori itu sapi. Anak-anak biasa menguji diri untuk berani mendekat dan melihat adegan sapi disembelih. Di kerumunan, anak-anak bisa disalahkan dan mendapat perintah dari panitia agar menjauh. Anak-anak justru mengikuti penasaran. Mereka ingin melihat sapi. Mereka ingin mendengar suara sapi. Di adegan mendebarkan, mereka pun turut diajak berdoa.
Idul Adha bagi anak-anak itu sapi meski tak mengabaikan keberadaan kambing-kambing. Pembicaraan tentang sapi biasa dibumbui gengsi berlagak (paling) mengerti. Anak-anak bertukar berita atau cerita. Mereka ingin (makin) mengetahui sapi dalam segala hal. Sapi bukan sekadar dalam peristiwa keagamaan terjadi setiap tahun: Idul Adha.
Anak-anak pun saling tebak dalam menguji pengetahuan sapi. Mereka perlahan mengucap: abon sapi, susu sapi, kerapan sapi, dan lain-lain. Referensi-referensi diperlukan agar pengisahan berbobot dan sulit terbantah. Usaha mengetahui sapi menjadikan anak-anak rajin melakukan pencarian dalam internet. Mereka bakal mendapat beragam tulisan dan tontonan menimbulkan kagum, bingung, dan gembira. Sapi dalam iklan dan film membuat mereka mudah ingat dan berani memberi makna. Sapi-sapi dalam pengisahan adat atau agama kadang memicu mereka berpikir serius.
Pada masa Orde Baru, penasaran anak-anak dijawab oleh buku berjudul Melihat Kerapan Sapi di Pulau Madura (1984) gubahan D Zawawi Imron. Buku tipis tapi memberi khazanah cerita untuk mengenal dan mengerti sapi berlatar Madura. Dulu, buku cerita itu tersimpan di perpustakaan umum dan sekolah. Buku diterbitkan atas nama Inpres dengan dicetak ribuan eksemplar, diongkosi pemerintah untuk menjadi bacaan anak-anak di seantero Indonesia.
Zawawi Imron bercerita tentang anak-anak belajar sejarah dan kehormatan dalam kerapan sapi. Dua tokoh bernama Rahman dan Sutang dalam pengalaman-pengalaman menakjubkan. Mereka melihat pelatihan sapi-sapi. Sutang memberi penjelasan kepada Rahman: “Sapi-sapi ini ada yang baru berumur satu setengah tahun. Ada yang berumur dua tahun. Tapi, sapi-sapi kecil ini yang mungkin akan menjadi juara-jura lima tahun yang akan datang.” Selama berada di Madura, Rahman sering mendapat penerangan dan pengisahan sapi.
Hari menggembirakan tiba: kerapan sapi. Kejadian sejak pagi hari: “Sepasang sapi yang sejak subuh dikeluarkan dari kandang mulai dihias. Tanduknya dibungkus dengan beludru yang disulam benang mas. Pada dahinya diberi jamang dan selempang bersilang di atas hidung dan diikat di bawah dagu. Tubuhnya dilingkar dengan semacam ikat pinggang nesar penuh dengan gungsen. Sepasang sapi yang gagah itu semakin anggun tampaknya. Dan, wajahnya antara yang satu dengan yang lain menjadi sulit untuk dibedakan.”
Anak-anak suka menonton kerapan sapi. Mereka mencari cara untuk bisa menonton dan menghimpun cerita agar kelak bisa disampaikan kepada teman-teman. Gairah anak-anak terceritakan: “Hari semakin panas. Tapi, orang-orang yang jumlahnya ribuan itu tetap saja memenuhi kanan dan kiri lapangan. Pohon-pohon yang ada di sekitar lapangan itu banyak dinaiki anak-anak untuk dapat menyaksikan kerapan sapi secara jelas. Kerapan terus berlangsung dengan seru.” Di buku cerita, anak-anak mengenali sapi dalam latar sosial-kultural Madura. Para pembaca perlahan mengerti makna sapi dalam kerapan sapi dan Idul Adha terbukti berbeda.
Anak-anak belum rampung belajar tentang sapi. Mereka kadang menikmati beragam makanan bersumber daging sapi. Lezat menjadi keutamaan ketimbang pelbagai cerita. Pada saat bertumbuh, mereka bakal menanggung kebingungan untuk terus mengonsumsi olahan daging sapi atau bersikap kritis terhadap industri makanan.
Di buku berjudul Fakta Mengejutkan Makanan Modern (2010) susunan Michael Pollan, para pembaca terkejut dengan nasib sapi di Amerika Serikat. Sapi-sapi dalam industri menghasilkan laba besar di Amerika Serikat dan dunia.
Para penikmat makanan bakal terkejut bila mengikuti pengalaman Michael Pollan. Ia menguak aib dalam industri makanan di Amerika Serikat berurusan jagung dan sapi. Kita membaca penjelasan: “Minat saya terhadap sapi bukan semata-mata karena alasan finansial atau untuk saya makan, melainkan demi pengetahuan. Saya ingin menelusuri rantai makanan industri yang mengubah biji-biji jagung menjadi ‘steak’. Bagaimana ceritanya sapi mengatasi kelebihan hasil panen jagung Amerika Serikat? Sejauh ini, bagian terbesar jagung komoditas Amerika Seerikat (sekitar 60 persennya) digunakan sebagai pakan ternak. Sebagian besar jumlah itu digunakan sebagai pakan sapi ternak (jantan dan betina), yang dahulu menghabiskan sebagian besar hidupnya merumput di padang rumput yang luas.”
Sapi-sapi cepat gemuk. Daging sapi menggiurkan dalam industri makanan tapi mengandung konsekuensi besar dalam masalah kesehatan. Kelezatan bisa diraih tapi kesehatan dapat rusak. Michael Pollan memberi peringatan: “Mengonsumsi jagung bukan kebiasaan baik bagi anak-anak Midwestern zaman sekarang. Dan, memberikan sejumlah besar jagung kepada sapi pada masa pertumbuhannya sama sekali bukan kebiasaan dari leluhur atau bahkan kebiasaan baik. Keuntungan besarlah yang diperoleh jika sapi-sapi diberi pakan jagung, sumber padat kalori untuk menghasilkan energi dan dapat menggemukan dengan cepat. Daging mereka yang berlemak memberikan rasa dan tekstur yang sepertinya digemari konsumen Amerika Serikat. Namun, daging sapi pemakan jagung ini setelah diuji tidak terlalu menyehatkan karena mengandung lebih banyak lemak jenuh dan lebih sedikit asam-asam lemak omega-3 dibandingkan dengan sapi pemakan rumput.” Kesehatan bakal bermasalah bagi para penikmat daging sapi dengan pakan berupa biji-bijian (jagung).
Pembaca belajar sapi berlatar Amerika Serikat. Ingatan tentang beragam makanan (cepat saji) dari Amerika Serikat menimbulkan khawatir. Amerika Serikat bukan sekadar demokrasi. Amerika Serikat tak cuma film. Amerika Serikat itu (daging) sapi mencipta selera di dunia. Penjelasan sapi-sapi di Amerika Serikat itu “menjengkelkan” ketimbang kegembiraan anak-anak setelah mengenali kerapan sapi di Madura melalui cerita gubahan Zawawi Imron.
Kita berpindah ke India. Negara memiliki pemaknaan sakral untuk sapi. Kita berlanjut membaca buku garapan Marvin Harris berjudul Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (2019). Buku bukan bacaan anak-anak. Kaum dewasa diundang membaca buku untuk belajar hal-hal serius dan biasa diperdebatkan sangat sengit.
Marvin Harris mengingatkan kesulitan orang Barat memahami sapi di India: “Gambaran tentang petani compang-camping yang kurus kelaparan di samping seekor sapi besar dan gemuk menghadirkan suatu perasaan yang benar-benar misterius bagi pengamat Barat.” Di Indonesia, sapi berada dalam pengisahan dan pemaknaan kesucian, berbeda dengan keberadaan sapi di negara-negara lain.
Para pembaca diajak mengerti lakon berbeda tanpa harus tergesa membuat konklusi. “Orang beragama Hindu menghormati sapi betina karena sapi betina adalah lambang dari segala yang hidup,” tulis Marvin Harris. Agama dan sapi, dua persoalan di India sering membingungkan pihak-pihak luar. Pemahaman dan penghornatan mesti terwujudkan bagi kita ingin mengetahui masalah fauna (sapi) di beragam agama. Kini, pelajaran sapi telah sedikit terperoleh di Madura, Amerika, dan India. Kita insaf tak mudah mengenali dan mengartikan sapi dalam kepentingan agama, industri, dan pengetahuan. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus
