Bocah cilik berusia 13 tahun ini mengadu nasib di kota besar atas nama budaya. Kiki namanya, anak seorang penyihir. Ia meninggalkan rumah, orang tua, dan segala kemanjaan yang diterimanya sejak bayi. Dengan bekal seekor kucing hitam dan kemampuan terbang dengan sapu, ia pamit. Budaya penyihir mengharuskan seorang anak hidup mandiri, keluar dari cangkangnya, paling pendek selama satu tahun.
"Cukup kok, kami tidak membutuhkan banyak hal. Baju saya saja kan seperti ini, dengan makanan sedikit pun saya sudah puas. Pokoknya saya berniat akan hidup seadanya.” Suara Kiki yang dinukilkan sang penulis mewakili rangkuman kehidupan umat perantau. Sandang, pangan dan papan biasanya mengikat tubuh dengan kencang. Pengembara mesti tabah menjalani tarik ulur kehidupan.
Buku itu apik. Isinya ikut mengantarkan Eiko Kadono, penulisnya, mendapat Hans Christian Andersen Award, penghargaan bergengsi dunia pada sastra anak. Penuturannya amat khas sastra Jepang. Pembaca menemukan tuturan yang halus, seperti pada karya Jepang lainnya: Silent (1966) gubahan Shusaku Endo, Rumah Perawan (1961) Karya Yasunari Kawabata, dan Dua Belas Pasang Mata (1952) gubahan Sakae Tsuboi
Di Indonesia, biografi para perantau jarang dimiliki oleh anak-anak, seperti Kiki. Perpindahan wilayah menjadi kepunyaan banyak tokoh bangsa dan rakyat kecil. Catatan itu berserak dalam buku-buku, lagu, dan film. Tan Malaka, menjadi salah satu sosok yang hidupnya diabadikan dari satu hunian ke hunian. Kakinya tidak hanya melangkah antar daerah, tetapi antar negara. Konon, lebih dari 7 negara ia datangi.
Nama lain yang ikut menyusul: Moh. Hatta (Belanda), Sutan Syahrir (Belanda), Sitor Situmorang (Amerika), Kiai H. Ahmad Dahlan (Mekkah) Abdurrahman Wahid (Baghdad), Sosrokartono (Belanda), dan ratusan nama lain.
Merantau biasanya berpamrih kepentingan politik, peningkatan intelektual, persebaran agama, peningkatan seni, dan ekonomi. Perjalanan tidak selalu mulus, benturan budaya kerap menghadapkan perantau pada pilihan-pilihan pelik. Marco Kartodikromo lewat Student Hidjo (1919) menggambarkan situasi-situasi yang dihadapi. Tidak selalu menjadi orang yang lurus, beriman, dan bertakwa, para pengelana juga bergulat pada kegagalan, dosa, dan khilaf.
Surat Kartini membuka tabir kisah Sosrokartono, kakaknya, di Negeri Kincir Angin. Pada 21 Desember 1900, ia bercerita pada Nyonya Abendanon: “Dalam 4 tahun itu dia tidak belajar, hanya bersenang-senang dan…. mabuk-mabukan. Para wali di Belanda menasehati Ayah untuk mengeluarkannya. Tepat sebelum keberangkatan kami ke Batavia, Ayah memberikan saya sepucuk surat yang paling putus asa dari dia untuk dibaca, di mana terdengar keputusasaan, kesedihan, penyesalan, menyalahkan diri sendiri. Dia mengakui dosa-dosanya dan memohon agar dia tidak dikeluarkan.”
Sejarah mencatat Sosrokartono sebagai putra bangsa terbaik. Perpindahannya ke Belanda pada akhirnya membawa ia menjadi sosok intelektual yang disegani, jurnalis dunia yang membuat banyak orang kagum, dan spiritualis yang ajarannya masih tetap eksis hingga kini.
Namun sebelum itu, biografi hidup sebagai perantau, mengungkap sisi manusiawinya sebagai makhluk yang tidak sempurna.
Mae, calo TKI yang ditulis oleh Ramayda Akmal dalam buku Jatisaba (2011), mengisahkan nasib jutaan orang yang pergi dari kampung halaman. Menjadi pekerja di luar negeri menawarkan iming-iming kesejahteraan ekonomi, akan tetapi yang terjadi bisa sebaliknya. Harapan yang dipupuk pada banyak TKI sering terbentur pada kecurangan, perdagangan manusia, dan kekerasan. Perubahan cara hidup dan bentuk keluarga juga mengalami pergeseran karena perpindahan wilayah.
“Di sini, di batas kota ini/ Ingin ku tuliskan surat untukmu/Biar engkau mengerti perjalanan hidupku/ Di dalam menggapai cita-cita./ Mungkinkah kau masih mengharapkanku?/ Kini tubuhku penuh dengan luka/ Gagal dan gagal lagi, apa yang aku cari?/ Tangis pedih tersimpan dalam hati.”
Lagu Tommy J. Pisa bertajuk Di sini di Batas Kota Ini (1980) menjadi rekaman puitis sepasang kekasih yang terpisah karena jarak. Kisah merantau juga akrab dengan percintaan yang kandas atau berlanjut.
Merantau membuka khazanah pemikiran dan pengetahuan. Dalam tradisi ulama klasik, perpindahan dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari ilmu adalah hal yang lazim. Pengetahuan diperoleh melalui keringat, langkah, dan harapan-harapan. Para pengelana menunda keinginan untuk lekas sampai dan menghindari rasa berpuas diri. Konon, Al Ghazali menghabiskan waktu untuk beruzlah dari satu tempat ke tempat lain hingga 10-11 tahun. Sosok ulama selanjutnya adalah Imam Syafi’I, Ibn Khaldun, Imam Bukhari, dan lainnya.
Film Coco (2017) garapan Adrian dan Lee Unkrich membawa penonton pergi ke alam lain. Sinema itu mengajak kepala untuk berpikir soal tradisi dan pembentukan keluarga Amerika Latin. Dari sebuah keisengan seorang bocah laki-laki yang mencintai musik, kita dibawa ikut merantau dalam bingkai kisah realis magis.
Pada akhirnya, beragam kisah yang mengangkat peristiwa ‘merantau’ menawarkan berbagai pengetahuan yang melampaui perpindahan wilayah. Budaya merantau telah membawa perubahan dalam banyak hal; ekonomi, intelektual, keturunan, pendidikan, misi agama, hingga politik.
Editor: Kendi Setiawan
