Oleh: Abd. Aziz
Belum genap dua pekan, kita memasuki tahun 2024. Tahun ini kerap disebut juga tahun politik – yang akan menjadi pintu kompetisi untuk menduduki posisi tertentu baik di legislatif maupun eksekutif. Wajar jika suhu pertemanan atau hubungan antar kerabat kadang agak merenggang karena beda pilihan. Kompetisi di bidang politik ini bukan hanya terjadi di Indonesia melainkan juga terjadi di beberapa negara lainnya. Seperti Amerika Serikat hingga Afrika Selatan.
Sebenarnya bukan hanya politik yang menjadikan tahun 2024 perlu mendapatkan perhatian. Sebab, pada sektor ekonomi, Bank Dunia memproyeksikan akan terjadi pelambatan pada pertumbuhan ekonomi seperti yang dilaporkan dalam “Indonesia Economic Prospects” edisi Desember 2023. Dalam catatan tersebut dijelaskan akan ada risiko penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia menjadi 4,9 persen.
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadi pelambatan itu, di antaranya melemahnya nilai tukar perdaganan dan harga komoditas, serta perlambatan ekonomi global yang bisa menghambat ekspor. Selain itu, faktor adanya guncangan terkait ketidakpastian geopolitik dan perubahan iklim juga dikhawatirkan dapat mengganggu rantai pasok global. Akibatnya, diperkirakan akan mengurangi penerimaan negara dan memperketat posisi fiskal Indonesia.
Selain politik dan ekonomi, perubahan iklim juga menjadi faktor yang perlu mendapatkan perhatian. Dalam beberapa tahun terakhir, kita pun telah merasakan dampaknya. Terlebih seperti yang dilaporkan kompas.com, ilmuan iklim National Center for Atmispheric Research, Kevin Trenberth memprediksi suhu panas bumi masih akan berlanjut.
Menurutnya, El Nino yang dimulai awal pada Juni 2023 dianggap kuat dan bisa terus berlanjut pada 2024 ini. Hal ini mirip seperti yang terjadi pada 2015 yang mengalami puncaknya pada Desember dan kemudian berlanjut hingga pertengahan 2016. Akibatnya, saat itu udara teramat panas. Menurut Trenberth, jika pola itu sama dan berlaku tahun ini, suhu panas yang terjadi selama enam bulan terakhir pada tahun 2023 diprediksi akan berlanjut hingga pertengahan tahun.
Melihat tiga kondisi itu kita tetap perlu energi lebih agar hidup ini tetap bisa tersenyum. Menghadapi tahun sulit ini, setidaknya ada tiga kunci utama untuk menghadapinya. Pertama, yakni kolaborasi. Dalam situasi penuh kompetisi ini ego sektoral perlu diredam justru yang ditonjolkan adalah kerja-kerja kolaboratif.
Misalnya, sekalipun kompetisi pilpres ini cukup tegang maka lapisan masyarakat paling bawah bisa memberikan pendingin dengan tetap bisa bekerja bersama sesama tim pemenangan. Ya, sesekali bolehlah buat acara nonton bareng debat tapi saat menonton adem-adem saja yang artinya tidak perlu saling bersorak.
Aksi kolaborasi selanjutnya bisa dilakukan di berbagai sektor lainnya. Sebab, kolaborasi memiliki banyak keuntungan. Semisal dilakukan di bidang usaha dan pendidikan. Dua sektor ini bisa saling menguntungkan kedua belah pihak. Kolaborasi ini bisa juga bisa dilakukan oleh anak-anak muda dan para mahasiswa. Semisal membuat program yang menarik dengan melakukan riset bersama atau melakukan kegiatan pendampingan masyarakat
Dengan kolaborasi ini, dengan menghitung baik-baik, akan bisa menekan banyak biaya. Bahkan, bisa saling menguntungkan satu sama lain. Kolaborasi bukan sekadar kerja sama tapi lebih dari itu sebab kita sebagai manusia sejatinya tidak bisa bekerja sendirian. Kolaborasi akan mengajarkan tentang menahan diri dan berkorban untuk orang lain bahkan membantu kesuksesan orang lain. Dengan kolaborasi ini akan terjadi percepatan dalam mengembangan bisnis ataupun kelembagaaan.
Kunci kedua adalah keseimbangan. Saya melihat saat ini perlu adanya keseimbangan terutama dalam hal spiritualitas. Dalam proses kompetisi tentu akan ada yang menang dan kalah. Mereka yang kalah bisa jadi belum siap menerima kenyatannya. Artinya, perlu kedalaman spiritualitas dalam proses menghadapi kenyataan pada tahun ini. Seberat apa pun hasil dalam proses perjuangan kita, Tuhanlah penentu segalanya. Jadi, dengan spiritualitas yang mapan akan mendapatkan keteguhan hati dengan segala cobaan.
Ketiga, kata kunci dalam menghadapi tahun 2024 yakni dengan kerja keras dan kerja cerdas. Pola kerja-kerja ini perlu diterapkan bagi siapa pun yang sudah berproses dalam sebuah institusi ataupun yang sedang membangun usaha. Dua pola kerja ini menjadi penting saat hantaman dari segala penjuru datang.
Setidaknya, tiga hal inilah yang bisa membantu kita untuk menjalani hidup pada 2024 ini. Mari kita sama-sama berkolaborasi, menjaga keseimbangan, kerja keras dan kerja cerdas.
Abd. Aziz Adalah Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
Editor: Muhammad Zunus
