Buku berwarna merah setebal 293 halaman. Sampulnya menggambarkan kondisi masyarakat saat ini. Penat kerja, bingung, sedih, terburu-buru, serba cepat dan menanggung banyak masalah. Di tengah bagian sampul, muncul gambar seseorang dengan pakaian cerah di antara lainnya yang berwarna gelap. Ia membaca buku dan tampak bahagia. Agaknya, isi sampul ini dimaksudkan bahwa orang-orang yang membaca buku ini akan lebih percaya diri dan yakin dalam mengambil keputusan.
Abigail Limuria dan Cania Citta adalah penulis dari buku bertajuk Makanya, Mikir! (2026). Buku ini telah terjual lebih dari 50 ribu eksemplar. Karya ini disebut-sebut sebagai mega best seller. Najwa Shihab, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), hingga Anies Rasyid Baswedan memberikan pengantar di halaman awal buku.
Di akhir halaman, penulis bercerita bahwa satu tahun terakhir, mereka banyak mendapat cerita tentang bagaimana buku ini digunakan untuk menghadapi berbagai masalah. Konon, para pembaca akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan, putus dari hubungan kurang sehat, memilih jurusan tepat sasaran, hingga evaluasi ulang sirkel pertemanan.
Mereka juga menerima pesan hangat dari para pembaca. Buku Makanya, Mikir! telah dibaca di atas perahu, sambil menggembala kambing, mendaki gunung, hingga mengajar di pesantren. Berbagai foro dari berbagai daerah–Padang, Ambon, Maluku, Papua, Bone–bahkan luar negeri, seperti Mesir, Malaysia, Amerika, Eropa, dan banyak lagi yang lainnya.
Setelah membacanya hingga tuntas, saya turut suka buku Makanya, Mikir! Buku ini pertama kali terbit tahun 2025, habis stok lalu dicetak kembali pada Januari 2026. Saya berkesempatan bisa membaca di akhir Februari 2026 lalu. Buku ini memberikan panduan cara berpikir dalam menyikapi banyak persoalan. Bukan seperti buku-buku motivasi yang mengajarkan untuk sabar atau menerima hidup dengan tenang, buku Makanya, Mikir! justru menarik pembaca agar tidak pasrah dan sabar dalam menjalani hidup. Caranya dengan memahami logika dalam berpikir, mengasah analisis, dan mengetahui macam-macam informasi.
Buku ini terbagi dalam delapan chapter: Peta realitas dan cara menentukan tujuan hidup, kerangka berpikir dua ranah (pentingnya membedakan realitas dan preferensi), pola pikir ilmiah (yang pede dan ngotot belum tentu pintar), bagaimana menentukan cost benefit (kenalan dengan objective-oriented principle), cost-benefit analysis untuk keputusan hidup yang lebih ribet, sesat pikir dan bias dalam pengambilan keputusan, menentukan prioritas (sumber daya terbatas, mana yang harus diutamakan?), dan kecerdasan sosial (buat apa pintar, kalau nyebelin?).
Semua chapter yang dituliskan dalam buku amat menarik untuk dibaca. Seluruhnya kontekstual untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, saya paling tertarik dengan sub judul kerangka berpikir dua ranah (pentingnya membedakan realitas dan preferensi) lalu sesat pikir dan bias dalam pengambilan keputusan. Dua hal ini sering kali terjadi dalam hidup. Kemampuan untuk membedakan informasi dan sesat pikir sangat diperlukan agar tidak menciptakan atau memperpanjang konflik.
Kerangka Berpikir Dua Ranah (Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi)
Kerangka berpikir dua arah adalah cara berpikir yang menekankan perbedaan antara realitas (fakta objektif) dan preferensi (pilihan subjektif). Realitas merupakan sesuatu yang dapat diverifikasi, diukur, atau disepakati secara umum. Ia bersifat objektif dan tidak bergantung pada selera pribadi. Sedangkan preferensi adalah kecenderungan, pilihan, atau selera individu/kelompok yang bersifat subjektif. Ia bisa berbeda-beda antara orang satu dengan yang lain. Misalnya beberapa contoh berikut:
Situasi di Pendidikan
Realitas: Ujian nasional dihapus sejak 2021
Preferensi: Saya lebih suka sistem ujian berbasis proyek.
Kesehatan
Realitas: Merokok bisa menyebabkan penyakit
Preferensi: Saya lebih suka rokok kretek ketimbang filter
Kerangka berpikir dua arah yang dituliskan dalam buku mengajarkan pembaca untuk menyusun argumen dengan membedakan fakta dan selera. Fakta adalah fondasi bersama, sedangkan preferensi adalah ruang dialog. Sederhananya kerangka berpikir ini digunakan untuk mengkategorikan informasi, sehingga seseorang bisa menentukan bagaimana cara menilai informasi tersebut dan menghasilkan penilaian terhadap informasi yang diterima dengan tepat sesuai ranahnya. Dengan begitu, perbedaan pandangan yang muncul dalam masyarakat bisa disikapi dengan lebih adil, rasional, sekaligus menghargai keberagaman pandangan.
Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan
Manusia secara tidak langsung dituntut untuk bisa membangun peta realitas maupun membuat keputusan yang tepat agar tidak larut dalam persoalan. Sayangnya seringkali bias-bias atau kesalahan berpikir membuat seseorang mengambil keputusan yang tidak tepat.
Buku berjudul Makanya, Mikir! memasukkan persoalan sesat pikir dalam sub judul karena penalaran yang benar menjadi pondasi agar terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam proses berpikir dan membuat keputusan. Sesat pikir dan bias yang dituliskan penulis, di antaranya: survivorship bias, ostrich bias, hasty generalisation, causation fallacy, false dichotomy, fals comparison, kesalahan menakar peluang, dan sunk cost fallacy.
Salah satu contoh, misalnya ada seseorang yang memiliki pandangan, “Untuk apa capek-capek kuliah? Tuh, lihat Bill Gates & Mark Zuckerberg sukses dan mereka tidak lulus kuliah semua.” Karena ada contoh dua orang ini, ada yang menganggap sukses besar tanpa kuliah itu sangat mungkin, padahal, dua sosok tersebut mungkin pengecualian dibandingkan statistik secara keseluruhan.
Contoh di atas adalah survivorship bias, yaitu kondisi ketika seseorang menarik kesimpulan bahwa sesuatu tidak terjadi karena ada sampel yang tidak mengalami hal tersebut. Kesalahan logika yang muncul ketika fokus hanya pada “yang selamat” atau “yang berhasil,” sehingga kegagalan tidak masuk dalam analisis.
Penalaran yang lebih tepat dalam membaca realitas adalah perlu melihat tren atau statistik umumnya seperti apa. Lihat seluruh kejadiannya dan cek berapa persen peluang terjadinya kasus A, berapa persen kasus B, dan seterusnya. Jika dalam konteks berhasil tanpa gelar sarjana tadi, misalnya kita asumsikan ukuran keberhasilannya adalah pendapatan, perlu dilihat tren pendapatan orang dengan gelar sarjana vs yang tidak bergelar minimal sarjana.
**
Buku berjudul Makanya, Mikir! menjadi salah satu bacaan yang sangat menarik dan direkomendasikan untuk semua kalangan. Buku ini serupa peta yang membantu seseorang menemukan keseimbangan antara menemukan serangkaian pengetahuan dengan fakta dan juga penalaran yang tepat.
Identitas Buku
Judul : Makanya, Mikir! (Panduan Berpikir untuk Hidup Lebih Bahagia)
Penulis : Abigail Limuria dan Cania Citta
Penerbit : PT. Malaka Pustaka Bergerak (2026)
ISBN : 978-634-04-7183-0
Editor: Kendi Setiawan
