Ada sebuah pemandangan yang menarik dibayangkan. Seorang santri bersarung dan berpeci duduk di depan laptop, mengembangkan aplikasi kecerdasan buatan. Di sebelahnya, santri lain merancang startup, membuat film digital, mengembangkan teknologi pertanian, atau membangun marketplace produk pesantren. Pemandangan ini mungkin terdengar futuristik, tetapi bukan sesuatu yang mustahil.
Selama ini, Silicon Valley identik dengan inovasi teknologi, perusahaan raksasa, startup, dan anak-anak muda yang berani mengubah dunia. Apple, Google, dan Meta menjadi simbol keberhasilan ekosistem yang mempertemukan kreativitas, riset, modal, dan keberanian bereksperimen.
Sementara itu, pesantren sering dibayangkan sebagai dunia yang berbeda. Kitab kuning, sorogan, bandongan, sarung, peci, dan kehidupan sederhana menjadi identitasnya. Pesantren dianggap sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam. Persoalannya, jangan sampai tradisi justru dijadikan alasan untuk menjaga jarak dengan inovasi.
Padahal, pesantren mempunyai modal sosial yang luar biasa. Ada kiai sebagai pusat transmisi pengetahuan, santri sebagai komunitas pembelajar, alumni sebagai jejaring sosial, serta tradisi kemandirian dan kedisiplinan. Semua itu merupakan fondasi penting untuk membangun ekosistem inovasi.
Silicon Valley Bersarung bukan sekadar permainan kata. Ia merupakan imajinasi baru tentang perjumpaan teknologi global dengan tradisi pesantren. Sebuah gagasan bahwa santri tidak harus melepas sarung untuk menjadi inovator dan pesantren tidak perlu meninggalkan kitab kuning untuk memasuki masa depan digital.
Dari Kitab Kuning Menuju Laboratorium Inovasi
Silicon Valley tidak tumbuh hanya karena tersedia komputer dan internet. Ia berkembang melalui ekosistem yang mempertemukan universitas, pusat riset, perusahaan rintisan, investor, mentor, dan komunitas inovator. AnnaLee Saxenian dalam Regional Advantage: Culture and Competition in Silicon Valley and Route 128 (Harvard University Press, 1994) menjelaskan bagaimana budaya kolaborasi dan jaringan pengetahuan menjadi kekuatan penting Silicon Valley.
Pesantren juga memiliki potensi membangun ekosistem serupa dengan karakter berbeda. Tradisi sorogan memiliki kemiripan dengan personalized learning. Bandongan menghadirkan pembelajaran kolektif, sementara musyawarah menjadi ruang pertukaran gagasan dan pengujian argumentasi. Pesantren sesungguhnya memiliki tradisi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Kecerdasan buatan dapat membantu santri membaca kitab, menerjemahkan bahasa Arab, mencari referensi, bahkan mengembangkan aplikasi pembelajaran. Ya'qub bin Salim al-Harasi dalam Tathbiqat al-Tsawrah al-Shina'iyyah al-Rabi'ah (Dar al-Walid li al-Nasyr wa al-Tawzi', 2021) membahas perkembangan teknologi Revolusi Industri Keempat, termasuk kecerdasan buatan, big data, robotika, dan Internet of Things.
Namun, AI tidak dapat menggantikan keteladanan kiai, adab, dan tanggung jawab moral. Mesin membantu memahami teks, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas pemaknaannya. Karena itu, masa depan pesantren bukan memilih antara kitab kuning atau kecerdasan buatan. Keduanya dapat dipertemukan.
Santri juga perlu memahami bahwa inovasi bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Clayton M Christensen dalam The Innovator's Dilemma (Harvard Business School Press, 1997) mengingatkan bagaimana organisasi dapat tertinggal ketika gagal merespons perubahan teknologi. Pesantren perlu mengambil pelajaran agar tidak terjebak dalam romantisme kejayaan masa lalu.
Membangun Ekosistem Silicon Valley Bersarung
Untuk mewujudkannya, diperlukan ekosistem yang terstruktur dan berkelanjutan. Setidaknya terdapat sembilan ruang pengembangan yang dapat menjadi fondasi gerakan ini. Pertama, Pesantren AI Lab untuk kecerdasan buatan. Kedua, Santripreneur Hub untuk inkubasi startup dan kewirausahaan. Ketiga, Pesantren Digital Studio untuk produksi konten dan media kreatif. Keempat, Syariah Economic Tech Center untuk inovasi ekonomi syariah, fintech syariah, dan digitalisasi bisnis halal.
Kelima, Pesantren EdTech untuk teknologi pendidikan. Keenam, Green Pesantren Lab untuk teknologi lingkungan dan pertanian berkelanjutan. Ketujuh, Islamic Creative Hub untuk seni, budaya, dan industri kreatif. Kedelapan, Pesantren Research Center untuk riset dan pengembangan. Kesembilan, Pesantren Venture Hub untuk mempertemukan inovator dengan mentor, investor, dan lembaga pembiayaan.
Gagasan pengembangan teknologi ekonomi syariah juga dapat diperkuat melalui pemikiran Sayyid Ali Ghazalah dalam Al-Tahawwul al-Raqmi li al-'Uqud al-Dzakiyyah al-Mudmajah min Khilal Taqniyat al-Blockchain (Dar al-Fikr al-Jami'i, 2024), yang mengangkat transformasi digital melalui blockchain dan smart contracts. Teknologi semacam ini membuka peluang pengembangan layanan keuangan syariah dan digitalisasi transaksi ekonomi pesantren.
Kesembilan ruang tersebut tidak harus dibangun sekaligus di setiap pesantren. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas teknologi, dan jaringan alumni dapat membangun kolaborasi berdasarkan potensi masing-masing. Brad Feld dan Ian Hathaway dalam The Startup Community Way: Evolving an Entrepreneurial Ecosystem (Wiley, 2020) menekankan pentingnya komunitas, mentor, investor, dan kolaborasi dalam membangun ekosistem kewirausahaan.
Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pesantren dapat menjadi penggerak ekosistem ini, memperluas agenda kemandirian pesantren menuju kemandirian inovasi dan teknologi.
Silicon Valley Bersarung bukan proyek untuk menjadikan semua santri programmer atau pengusaha. Gagasan ini adalah ikhtiar menyiapkan santri agar kreatif, produktif, adaptif, dan mampu menjawab persoalan zamannya. Kita tidak ingin pesantren kehilangan sarungnya karena ingin menjadi modern. Sebaliknya, kita ingin sarung tetap dikenakan, kitab kuning tetap dikaji, adab tetap dijunjung, tetapi pikiran terus terbuka terhadap perubahan.
Silicon Valley memiliki hoodie sebagai identitas anak-anak teknologinya. Pesantren memiliki sarung. Keduanya boleh berbeda pakaian, tetapi sama-sama bisa melahirkan gagasan besar. Masa depan teknologi tidak harus selalu berwajah Barat. Ia juga bisa mengenakan sarung, berpeci, membaca kitab kuning, sekaligus menciptakan inovasi untuk dunia. Inilah Silicon Valley Bersarung. Tradisi yang berinovasi, teknologi yang beradab, dan pesantren yang ikut menulis masa depan peradaban.
Fahmi Arif El Muniry, Anggota Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI Pusat., Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
Fahmi Arif El Muniry
Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
Editor: Kendi Setiawan
