Buku Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub: Potret Penyeragaman Anak dalam Tatapan Hewan

Buku Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub: Potret Penyeragaman Anak dalam Tatapan Hewan

Buku ini seharga empat mangkuk mi ayam. Tipis, tak lebih dari enam puluh delapan halaman. Bobotnya pun tidak lebih berat dari gawai. Tapi siapa sangka, isinya sanggup mengacak-acak pikiran pembaca, persis seperti tornado yang menyapu sebuah kawasan.

Claudio Orrego Vicuna (1939-1982) adalah penulis buku Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub (2018). Ia adalah seorang sosiolog, peneliti sejarah, penulis, dan mantan aktivis mahasiswa yang menjadi anggota parlemen dari Partai Kristen Demokrat Cile. Karya ini ditulis pasca kudeta militer 1973, sebagai alegori politik tentang kehidupan di bawah kediktatoran. Konon, buku ini bisa menjadi penyemangat agar tidak menyerah dalam perjuangan mencapai kebebasan sejati, utamanya bagi seseorang yang merasa sedang tertindas.

Buku ini cocok disandingkan dengan novel Animal Farm (1945) dan Nineteen Eighty-Four (1949) gubahan George Orwell, lalu digenapi film The Book Thief (2013) garapan Brian Percival. Kumpulan karya yang menelanjangi kebobrokan kekuasaan dalam cengkraman tangan-tangan besi. Akan tetapi, terlepas dari kuatnya wacana perpolitikan di dalamnya, saya merasa lebih tertarik pada perbincangan mengenai anak-anak.

Perbincangan itu disajikan melalui mata seekor beruang kutub, Baltazar. Baltazar adalah seekor beruang kutub yang berusaha menemukan kebahagiaan dan eksistensinya di kebun binatang. Awalnya, ia adalah beruang yang hidup di alam bebas, tempat yang dipenuhi gunungan es dan ikan-ikan besar. Namun, karena perburuan yang dilakukan oleh manusia, ia akhirnya harus tinggal di balik jeruji, terpisah dari kawanannya.

Perubahan tempat dan suasana yang ia alami, membuatnya berpikir tentang banyak hal, salah satunya adalah anak-anak. Baltazar, merasa hidupnya lebih bahagia ketika melihat beragam wajah anak-anak yang hilir mudik di kandangnya. Ia merasa terhibur melihat sikap dan mata mereka yang dipenuhi aneka kebahagiaan.

Dalam salah satu bagian cerita, Baltazar mengungkapkan perenungannya: “Kadang aku merasa takut.. setiap jam akan sama seperti jam-jam lainnya. Atau bahkan lebih menyedihkan lagi, bahwa semua anak-anak akan menjadi begitu identik sampai-sampai mereka hanya akan punya satu wajah, satu tawa, dan satu kilatan di mata-mta mereka yang bening…”

Kekhawatiran Baltazar sangat bisa dimengerti. Memang, di dunia yang serba cepat ini, hanya anak-anak yang memiliki warnanya sendiri. Ketika seseorang sudah memasuki usia dewasa, umumnya wajah dan tingkah lakunya akan sama. Tiada yang bisa diharapkan selain kekhawatiran akan hari esok, lelah, dan kebosanan menjalani hidup.

Celaknya, kini orang dewasa ingin lekas menjadikan anak seperti dirinya. Beragam cara mulai dilakukan, baik lewat tren sosial media, sekolah, dan standar-standar yang diberlakukan negara dalam memandang kehidupan anak. Novel Momo (1973) gubahan Michael Ende adalah salah satu buku yang menjelaskan dengan amat jernih proses penyeragaman itu terjadi, menggiring anak untuk menjadi satu warna.

Pada dasarnya, anak memiliki beragam warna. Menyamakan anak dengan memaksakan satu standar adalah sebuah bentuk pengabaian. Bukan hanya pengabaian, penyeragaman akan membuat tubuh dan pikiran anak tidak berkembang dengan maksimal. Karena perlahan, tindakan itu akan merobohkan potensi yang ada dalam dirinya. Misalnya yang paling sering kita temui adalah standar soal ‘kepintaran’.

Kata pintar terlanjur dimonopoli oleh standar-standar akademik yang diberikan oleh sekolah. Tentu kita pernah mendengar kata ‘anak bodoh’ diucapkan oleh orang dewasa pada anak yang tidak bisa menguasai matematika, atau ‘anak nakal’ pada anak yang gerak tubuhnya terlalu aktif. Ini masalah, karena sejatinya, kata pintar tidak hanya berwajah tunggal.

Tokoh pendidikan sekaligus psikolog, Howard Gardner, berpendapat bahwa kecerdasan tidak hanya bisa diukur dengan satu standar, setiap orang bisa memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Gardner menguraikan gagasannya itu dalam Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Teori yang kemudian dikenal sebagai kecerdasan majemuk atau multiple intelligences. 

Sembilan kecerdasan yang dimaksud oleh Gardner adalah kecerdasan visual-spasial, kecerdasan linguistik-verbal,  kecerdasan logis-matematika, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalistik, dan kecerdasan eksistensial.

Film Taare Zameen Par (2007) garapan Aamir Khan dan Amole Gupte adalah salah satu karya yang mendukung gagasan Howard Gardner. Film ini mengisahkan perjalanan emosional seorang anak bernama Ishaan Awasthi (Darsheel Safary), seorang bocah berusia delapan tahun yang berjuang menghadapi disleksia, sebuah kondisi yang mempengaruhi kemampuannya membaca dan menulis.

Ishaan sebenarnya anak yang kreatif dengan imajinasi luar biasa, tetapi dianggap ‘bodoh’ oleh keluarga dan gurunya lantaran prestasi akademiknya buruk. Merasa tertekan oleh ekspetasi orang dewasa, ia mengalihkannya dengan kenakalan hingga akhirnya dikirim ke sekolah asrama.

Isolasi dan tekanan lebih lanjut hampir menghancurkan semangat Ishaan. Namun, beruntungnya ia bertemu dengan Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan), seorang guru yang menyadari bakat seni dan potensi uniknya. Dengan kesabaran dan pendekatan yang penuh cinta, Ram membantu Ishaan menemukan jati dirinya, sembari mendidik orang-orang di sekitar untuk menyadari bahwa setiap anak memiliki keunikan dan kecerdasannya masing-masing. Orang dewasa dilarang untuk melakukan pengabaian apalagi penyeragaman.
 


Editor: Kendi Setiawan
logo